logo rilis
Utang Kita
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
23 Oktober 2017, 22:30 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Utang Kita

PROGRAM berulang. Ya. Tak ada yang tak mengulang. Begitu pula cara kita bernegara. Cara berpikir, mengulang. Pola pembangunan, mengulang. Cara mencari modal pembangunan, mengulang. Pola pengelolaan hasil pembangunan, mengulang.

Hanya pemainnya yang berubah. Tetapi, mentalnya masih “lama”. Terciptalah sirkulasi pembagian kue pembangunan di antara mereka saja. Tak menetes. Tak terdistribusi.

Baca Juga

Tak percaya? Mari kita cek satu-satu. Kini, kita sedang di tengah program besar sebagai desain jokowinomic yang menghasilkan jokowi efek. Yaitu pembangunan infrastruktur (jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan, dll.) yang berjalan sendiri. Lebih karena bukan kebutuhan warga negara. Buktinya, tidak melalui riset mendalam yang merupakan jawaban dari “apa mau warga negara”. Tetapi, maunya elite yang dipublikasikan via kepala negara.

Akibatnya, semua terpisah dari partisipasi warga negara. Terpisah dari program penyerapan lapangan pekerjaan, pengentasan pengangguran, penihilan kaum miskin, pelenyapan ketimpangan, dan kepastian pemerataan.

Diiklankan ada banyak pembangunan infrastruktur, tapi kenyataannya penyerapan lapangan pekerjaan tidak naik. Nol. Selebihnya, terjadi PHK secara bergelombang di mana saja. Ada banyak pembangunan jalan tol, bandara dan pelabuhan tapi kenyataannya belanja terhadap produk industri nasional yang menjadi kebutuhan infrastrukur tidak meningkat.

Dibentuk lembaga-lembaga baru semisal KSP dan UKP-PIP. Tetapi, efektivitas birokrasi Istana menurun, kerja ideologi negara pincang.

Lalu, apa yang meningkat? Utang negara. Kemenkeu mencatat, utang pemerintah per akhir September 2017 mencapai Rp3.866,45 triliun atau dalam sebulan naik Rp40,66 triliun dibandingkan jumlah utang di Agustus 2017 yang sebesar Rp3.825,79 triliun.

Sejak masa kepemimpinan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), kenaikan total utang pemerintah mencapai Rp1.261,52 triliun, dari 2014 yang sebesar Rp2.604,93 ke posisi saat ini Rp3.866,45 triliun.

Itu artinya, menurut Ibu Sri Mulyani Indrawati (Menkeu), “Jika dihitung dari hampir 260 juta penduduk, kira-kira utang kita US$997 atau Rp13,4 juta per kepala.” Setiap kita kini diwarisi utang hampir Rp15 juta ketika hidup di republik ini.

Karenanya kini, sekali lagi warga negara bertanya, “Itu utang buat siapa? Itu utang atas mandat yang mana?” Kok tiba-tiba kita semua yang harus menanggungnya?

Dan, jawabannya lagi-lagi mengulang rezim pemerintah sebelumnya, “Kalau bukan dari utang, kita dapat modal dari mana.” Jawaban itu membuktikan satu hal. Bahwa pemerintah kita selalu defisit gagasan. Miskin ide. Menjahati konstitusi. Menyengsarakan warga negaranya.


#Utang Kita
#Rezim Jokowi
#Kolom
#Nusantara
#Yudhie Haryono
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID