Usir Politik dari Sepak Bola Kita! - RILIS.ID
Usir Politik dari Sepak Bola Kita!
Nailin In Saroh
Kamis | 22/02/2018 14.32 WIB
Usir Politik dari Sepak Bola Kita!
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

RILIS.ID, – PERSIJA Jakarta kembali berjaya setelah merengkuh gelar juara Piala Presiden 2018 pada Sabtu, 17 Februari lalu. Sayangnya, pendukung Macan Kemayoran itu mencoreng nama klub ibukota lantaran merusak stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang baru direnovasi. 

Padahal, Stadion Utama GBK disebut-sebut bakal menjadi kandang Persija di musim ini saat menjamu lawan pada pertandingan Piala AFC 2018. Klub tersebut dipersilahkan menggunakan stadion dengan syarat tidak mengganggu event Asian Games 2018. 

Lalu mengapa Persija Jakarta tidak memiliki stadion? Wartawan rilis.idNailin In Saroh mewawancarai pengamat Sepak Bola, Anton Sanjoyo, menilik sejumlah masalah klasik pada klub-klub besar Indonesia.

Klub kan sudah milik PT, bukankah seharusnya mandiri dan memiliki stadion sendiri?

Persoalannya bukan punya stadion atau enggak, kalau mereka bisa menjalankan sebuah klub profesional nyewa stadion di manapun, tetap saja bisa jadi yang terbaik. Ngapain punya stadion tapi enggak punya uang? Lebih baik kerjasama sama Pemda, Pemda yang bangun, klub yang kelola bagi hasil 30 tahun kaya gimana? Itu kan model usaha aja, banyak kok di industri sepak bola seperti itu di mana-mana.

Jadi urusannya bukan punya stadion apa enggak, anda profesional atau enggak sebagai klub. Syarat dari PSSI juga kan bukan stadion. Klub punya home base, jadi enggak perlu kepemilikam sendiri. Yang penting sanggup enggak menyewa stadion dengan syarat yang jelas. Karena syarat itu bukan PSSI tapi dari FIFA.

Kenapa selama ini klub masih bergantung pada Pemda?

Udah enggak. UU kita tidak memperbolehkan dana hibah. Jadi mereka berusaha mencari, ada memang yang masih memberi tapi sekarang sudah enggak. Tapi, memang ngos-ngosan karena mereka dulu tidak pernah diajari, bagaimana menyehatkan financial. Tiba-tiba harus bayar pajak yang diminta BOPI. Negara ini semua seenaknya. Enggak Menpora enggak BOPI, PSSI semua seenaknya.

Apa yang salah sehingga persepakbolaan di Indonesia merosot terus?

Ini urusan politik paling besar, adalah mereka PSSI bersama Kemenpora tidak pernah berusaha ssemaksimal mungkin membuat pertandingan sehat. Secara finansial dulu lah, enggak usah ngomong piala dunia, itu omong kosong lah.

Bagaimana agar klub ini profesional?

Kualitasnya enggak naik-naik. Begini, sepa kbola itu kalau ke level Asia bisa 30 tahun lagi dengan syarat pembinaan usia dininya jalan. Kompetisi mulai dari usia 10-16 tahun itu jalan sampai menghasilkan pemain-pemain yang siap main di liga dan semi profesional. Kalau itu enggak jalan, ya omong kosong. 

Kualitas pelatihnya juga harus naik. Kalau yang latih kualitasnya enggak sama dengan UEFA ya gimana mau menghasilkan tim nasional. Jadi enggak bisa simsalabim. Masih banyak rentetan pekerjaan yang harus dilakukan.

Kenapa kualitas sepak bola kita enggak naik?

Ya kompetisinya bapuk. Kita cuma bangga jadi juara Piala Presiden, juara Liga Indonesia, tapi ketemu juara Thailand, juara Vietnam apalagi China, Jepang, Korea, enggak bisa. Kita terakhir juara Asia Tenggara tahun 1991. Kita enggak pernah juara lagi ditingkat ASEAN sekalipun. Jadi, kita cuma hiruk pikuk aja Liga Indonesia.

Padahal, Indonesia memiliki bibit pesepakbola yang bagus. Jika pembinaan usia muda maksimal, terbiasa berkompetisi dengan kualitas yang baik bukan tidak mungkin sepak bola Indonesia akan maju. Sayangnya, manajemen enggak bagus. Harusnya, bagaimana manajemen ini membuat ara pemain bisa bersaing ketat.

PSSI sebetulnya berusaha dengan keras untuk meningkatkan kualitas pelatih. Zaman PSSI dinahkodai La Nyalla, sepak bola sudah berusaha keras memproduksi banyak pelatih dengan kualitas internasional. 

Nah, sayangnya kualitas pelatih lokal yang bisa serap semua ilmunya itu enggak banyak. Bisa dihitung dengan jari. Bisa bayangkan kalau di sebuah sekolah, profesor cuma satu mengajarkan 1.000 orang murid, tentu rasionya enggak sebanding untuk tingkatkan kualitas sekolah itu. Tapi, enggak perlu juga pelatih dari luar banyak-banyak.

Jadi, apa faktor yang paling berpengaruh terhadap menurunnya kualitas sepak bola Indonesia?

Ya, rusaknya sejak jaman Nurdin Chalid karena sepak bola itu kalau kita berprestasi, ada high-nya diliat orang. Inilah yang terjadi waktu Golkar berkuasa di sepakbola lewat Nurdin Chalid. Jadi, dipolitisasi bahwa "ini gue loh yang berjasa" kalau ada timnas menang wah mereka berpesta. Jadi sama aja Maruarar Sirait ini kan mempolitisasi Piala Presiden, agar menampilkan Jokowi, sehingga ada insiden dengan Anies Baswedan karena kental bau politiknya.

Politisasi Piala Presiden kemarin fatal?

Enggak terlalu sih. Biasa aja menurut saya. Itu teman saya punya analogi bagus banget, "Panggung pencuri yang enggak boleh dicuri sama maling juga". Dua pihak yang berseteru kan bukan orang baik-baik juga dalam konteks itu jadi saling memanfaatkan panggung dari sepak bola ini. 

Harusnya murni dari urusan politik. Kan waktu Maruarar bikin Piala Presiden karena Pak Jokowi enggak suka La Nyala dan ditumbangkan lewat Imam Nachrowi, sehingga Maruarar masuk lewat Piala Presiden karena kompetisinya dibekukan oleh Imam. Jadi itu kan politik.

Imam saya tantang debat di publik soal ini enggak berani. Saya sangat respek sama Pak Jokowi tapi begitu dia bilang enggak usah tanding ke luar negeri kalau kita kalah, ini siapa yang ngasih kode sampai presiden saya ngomong begini. Itu pemikiran yang salah kaprah.

Lalu, harus bagaimana persepakbolaan Indonesia ke depan, juga klub-klubnya?

Dikelola sama profesional lah. Enggak usah orang-orang politik itu masuk. Sebetulnya PSSI yang sekarang lumayan, di luar ketumnya yang calonkan diri, karena ada segelintir orang-orang yang bekerja profesional di dalamnya. Percuma kalo enggak nyaho sepak bola kita.

Klub profesional lebih baik dibawah PT, kan?

Syarat jadi tim profesional memang PT, kalau di bawah Pemda ya kembali ke klub amatir. Kesalahan itu ditarik dari 1994 waktu klub eks-perserikatan dijadikan klub profesional. Padahal dasarnya klub perserikatan itu amatir seperti dari semangat olimpic, jadi mereka tidak dibayar. 

Ketika udah dibayar mereka jadi tim profesional. Nah, itu diacak-acak sampai basis penggunaan amatir kita rusak. Jadi klub perserikatan yang enggak punya sama sekali klub yang dibina sekarang hanya konsentrasi jadi sebuah PT. Kan itu kesalahan besar. Makanya saya dulu bilang Persija, Persib dll, balik ke amatir.

Kalau sebuah kota ingin buat kesebelasan, bangun kesebelasan melalui PT yang sehat. Bikin lah Bandung United, Jakarta United. Cuma kan mereka enggak bisa bangun basis pendukung. Basis pendukung yang ada, yang datang setiap pertandingan ke stadion itu basis pendukung perserikatan. 
 

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID