logo rilis
Tujuh Pengingat di Malam Nisfu Sya’ban
kontributor kontributor
Imam Shamsi Ali
02 Mei 2018, 12:20 WIB
Presiden Nusantara Foundation
Tujuh Pengingat di Malam Nisfu Sya’ban
ILUSTRASI: Hafiz

BERIKUT ini ceramah saya tentang nisfu sya’ban di Kota New York, Amerika Serikat. Setidaknya ada tujuh mutiara hikmah tentang itu:

Pertama, belajarlah selalu bersyukur. Karena syukur itu adalah kemampuan menyadari keagungan Allah dengan segala karunia-Nya kepada kita. Kesadaran akan karunia dalam segala keadaan inilah bentuk kekayaan yang tiada akhir. Bila kesadaran itu hadir maka berbagai perubahan dan warna warni yang terjadi dalam hidup justru menjadi bumbu-bumbu hidup itu sendiri. Semua akan terasa nikmat dan indah. Dan hidup akan menjelma bagaikan karang di tengah samudra luas. 

Kedua, hidup dunia adalah proses, bukan tujuan. Karenanya jangan pernah merasa sukses atau sebaliknya merasa gagal sebelum hidup dunia berakhir. Di saat itulah kita akan tahu sukses atau gagalnya kita dalam hidup dunia ini. Lakukan terus yang terbaik, lakukan proses dengan sungguh-sungguh, dan konsistenlah dalam proses tersebut. Insya Allah pada masanya harapan itu pasti ada. 

Ketiga, karena hidup adalah proses, jangan pernah merasa sempurna. Selain memang tidak sejalan dengan tabiat kita yang penuh kekurangan, juga dunia tidak akan pernah memberikan yang sempurna. Dunia identik dengan kekurangan dan keterbatasan. Karenanya jangan pernah berharap kesempurnaan dari dunia. Terus saja melakukan proses menjadi sempurna karena itu memang jihad di jalan-Nya.

Keempat, berjalan dalam proses menuju kesempurnaan itu memang tidak mudah. Berbagai rintangan, godaan, bahkan ancaman akan terjadi. Tapi bagi seorang Mu’min, di sisi iman ada komitmen keistikamahan yang menjaga sebagai pengawal. Karenanya jaga istikamah di jalan-Nya.

Kelima, antisipasi kematian karena mati adalah peristiwa yang paling dadakan dalam hidup. Terjadi dan pasti adanya, kapan dan di mana saja, serta karena faktor apapun. Kebanyakan orang kecolongan dengan kematian karena lezatnya hidup sementara. Karenanya perbanyaklah mengingat “kematian” agar tidak terlena dan kecolongan.

Keenam, seriuslah dengan hidup kita. Hidup ini bukan untuk main-main, walau memang disediakan sebagai permainan (lahwun). Oleh karenanya seriusi hidup karena memang sesuatu yang serius. Kegagalan hidup dunia, boleh jadi awal kegagalan hidup di alam abadi. Oleh sebab itu serius hidup dunia bagi seorang Mu’min terkait dengan keseriusannya untuk kehidupan ukhrawi. Keduanya  terintegratif dalam satu kesatuan proses.

Ketujuh, miliki visi kesuksesan. Islam itu berwawasan kesuksesan. Jika kita tidak memiliki wawasan itu berarti kita gagal paham Islam yang sesungguhnya. Tapi kesuksean Islam tidak bersifat parsial, terpilah, dan sementara. Kesuksesan dalam Islam itu komprehensif, integratif, dan bersifat permanen. Sukses dunia dan sukses akhirat (hasanah fid-dunia wal-akhirah). 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID