Tsamara Amany: Kalau Tahun 2022 Sudah Bisa, Aku Nyalonin Diri deh Jadi Gubernur Jakarta - RILIS.ID
Tsamara Amany: Kalau Tahun 2022 Sudah Bisa, Aku Nyalonin Diri deh Jadi Gubernur Jakarta

Rabu | 31/05/2017 14.12 WIB
Tsamara Amany: Kalau Tahun 2022 Sudah Bisa, Aku Nyalonin Diri deh Jadi Gubernur Jakarta
Tsamara Amany, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia.

Mencari catatan peran pemuda dalam sejarah politik di Indonesia bukan hal yang sulit. Sejak zaman Boedi Oetomo dan Sjarekat Islam, setiap gerakan pembaruan sosial-politik di Indonesia selalu menempatkan kaum muda sebagai penggeraknya. Yang terakhir, peran besar mahasiswa dalam kejatuhan Orde Baru pada 1998. 

Setelah reformasi, anak muda jarang terdengar kiprahnya dalam panggung politik. Hasil survei-survei nasional yang digelar untuk mengukur tingkat ketertarikan anak muda terhadap partai politik, menegaskan sepinya dunia politik pasca reformasi dari gejolak jiwa kawula muda. Survei nasional yang diadakan Centre For Strategic and International Studies (CSIS) misalnya, mencatat dari seluruh sample mereka yang adalah anak muda dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 22,6 persen responden yang masih percaya dengan partai politik.

Alasan yang paling dominan yang membuat anak muda tidak percaya dengan partai politik, dicatat CSIS, adalah citra anggota maupun lembaga partai politik yang buruk. Meskipun citra lembaga dan anggota parpol memang tidak bisa dikatakan baik saat ini, namun, ketidakpercayaan anak muda kepada partai politik adalah penyataan ogahnya anak muda terlibat dalam urusan negara, yang artinya urungnya mereka terlibat urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. 

Pasalnya, mengutip Donny Gahral, dosen filsafat politik di Universitas Indonesia, partai politik merupakan satu entitas (lembaga) yang mengorganisasikan ide dan perbuatan untuk menciptakan kenegarawanan, yaitu sikap berdarma bakti demi kepentingan negara. Artinya, tanpa terlibat dengan partai politik, ide-ide dan perbuatan baik dari orang per orang tidak terorganisir, sehingga sulit memberi dampak di tataran kenegaraan. 

Beruntungnya, Tsamara Amany tidak terbawa tren anak muda apolitis. Di usianya yang kini menginjak 20 tahun, mahasiswi semester enam jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina ini tengah sibuk kuliah sambil mengemban tugas sebagai Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Jadi posisi aku sebenarnya adalah juru bicara PSI. Tugas aku lebih spesifik membuat kegiatan untuk anak-anak muda. Karena aku juga anak muda, jadi lebih gampang menjangkau mereka. Aku mau mengajarkan kepada anak-anak muda kalau politik tidak selalu kotor. Politik di satu sisi bisa digunakan untuk korupsi, tapi secara bersamaan bisa juga dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur dan membangun kesejahteraan rakyat. Jadi, tergantung kita mau pake gimananya aja politik itu,” kata Tsamara kepada rilis.id saat ditanya mengenai perannya di PSI.

Tsamara bercerita, meskipun keluarganya bukan kalangan politik, ketertarikannya dengan dunia politik sudah tumbuh semenjak kecil. Minat Tsamara untuk terjun ke dunia politik mantap setelah Joko Widodo terpilih menjadi presiden RI pada tahun 2014. 

“Aku sangat tertarik untuk mengawal Jokowi, baik mengkritisi dan memuji dia. Setelah melihat pak Jokowi seperti itu dan melihat penggantinya Pak Ahok yang juga kerjanya luar biasa, aku melihat, muncul, nih, sosok-sosok harapan baru di politik indonesia. Menurut aku terlalu sayang kalau kita lewatkan momentum ini untuk kemudian lebih peduli lagi dengan politik indonesia,” kata Tsamara dengan cepat.

Tsamara memulai kerjanya di bidang politik dengan magang di Kantor Gubernur DKI Jakarta. Ia juga rajin menuliskan pandangan-pandangan politiknya di media sosial. Melihat ketertarikannya yang besar di bidang politik, Tsamara mengatakan beberapa parpol melamarnya untuk masuk menjadi anggota. Namun, diantara sekian parpol yang mengajaknya bergabung, Tsamara memilih PSI.

“Ketika PSI datang ke aku dan menawarkan untuk masuk menjadi anggota parpolnya, aku nggak heran karena ada beberapa partai lain juga yang menawarkan itu. Namun, hal yang sangat membuat aku kagum dengan PSI, mereka menawarkan jabatan pimpinan pusat ke anak yang berusia 20 tahun. Mana ada partai politik yang menawarkan jabatan pimpinan pusat ke mahasiswa yang usianya juga masih 20 tahun. Biasanya mereka akan lebih tertarik dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dan mengerti politik. Jadi di situ aku melihat bahwa PSI ini serius. Mereka serius ingin menunjukan diri mereka ke publik bahwa mereka betul-betul partai perempuan dan anak muda,” kata Tsamara.

Alasan lain yang membuat Tsamara memutuskan bergabung dengan PSI adalah karena menurutnya PSI merupakan partai yang memiliki komitmen paling tegas untuk menghindari praktek korupsi dan sikap intoleransi. Tsamara juga merasa nyaman dengan Ketua PSI, Grace Natalie, yang menurutnya merupakan sosok ketua yang egaliter, pengertian, dan mengayomi kader-kadernya.

Tsamara masuk ke dunia politik dengan membawa misi yang besar dan jangka panjang. Ia mengatakan ingin mencalonkan diri menjadi gubernur DKI Jakarta pada pemilukada 2022 mendatang. Namun sayangnya, usia Tsamara pada tahun tersebut belum mencapai 30 tahun, yang merupakan batas usia minimal calon gubernur sebagaimana diatur undang-undang.

“Kalau tahun 2022 sudah bisa, aku nyalonin diri deh jadi gubernur Jakarta. Aku pengen banget belajar serius selama 5 tahun ini dan kemudian, kenapa nggak, menyalonkan diri. Kalau pun nggak kepilih, aku selalu punya prinsip sama kayak Pak Ahok. Setidaknya, orang tuh tahu program kamu, visi misi kamu, dan kamu bisa jadiin itu bahan pelajaran buat kamu. Tetapi, kan, nggak bisa. Mungkin aku butuh belajar sampe 10 tahun,” kata Tsamara.

Karena cita-citanya menjadi gubernur DKI Jakarta di masa pemerintahan berikutnya terhalang batas umur, Tsamara mengatakan misinya dalam waktu dekat adalah menjadi anggota parlemen di masa pemerintahan baru tahun 2019 mendatang. 

Tsamara mengakui, DPR adalah lembaga pemerintahan yang paling tidak dipercaya masyarakat karena anggotanya kerap terjerat kasus korupsi. Tsamara pun menyadari tidak mudah mengubah kinerja anggota DPR yang tidak baik, seperti sering absen rapat kerja dan paripurna. Untuk mengubah itu semua,  Tsamara mengatakan, ia tidak bisa sendirian. Oleh sebab itu ia masuk parpol.

“Seorang Ahok saja tidak mampu mengubah Indonesia sendirian. Apalagi seorang Tsamara. Jadi, kalau memang mau serius mengubah negara ini, mau menjalankan politik yang bersih dan kita mau mulai dari parlemen, harus satu fraksi dulu yang masuk,” kata Tsamara.

Ketika sudah masuk parlemen, Tsamara bertekad akan memegang teguh prinsip anti praktek korupsi. Ia juga berkeinginan menjadi teladan bagi anggota-anggota parlemen yang lain. Ia ingin membuktikan bahwa ia dan PSI bisa bekerja dengan baik di DPR. 

Dengan adanya partai yang baik, Tsamara yakin harapan politik masyarakat bisa tumbuh. PSI akan dipilih kembali oleh rakyat karena harapan-harapan mereka bisa dititipkan pada partai ini. Jika hal ini menjadi kenyataan, ia berkata partai-partai lain lambat laun akan mengikuti jejak PSI menjadi partai yang baik.

“Nanti kita buktikan saja dengan kinerja. Nah, setelah kita nanti bekerja selama lima tahun, masyarakat akan melihat kinerja partai ini luar biasa. Mereka pun akan memeilih kita lagi. Mungkin dengan presentase yang lebih besar. Dan dengan adanya satu partai yang luar biasa yang bekerja benar buat rakyat, itu kan akan menjadi standar baru bagi partai-partai yang lainnya. Mungkin kita nggak bisa mempengaruhi partai-partai itu. Tetapi, inget lho kalau kalian tidak bekerja dengan benar,  sudah ada satu partai yang bekerja dengan benar. Lama-lama rakyat akan meninggalkan kalian semua,” ujar Tsamara.


Tags
#sosok
#tsamara amany
#partai solidaritas indonesia
#politik anak muda
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID