Tingkatkan Produksi, DPR Minta Revitalisasi Industri Gula dari Hulu Hingga Hilir - RILIS.ID
Tingkatkan Produksi, DPR Minta Revitalisasi Industri Gula dari Hulu Hingga Hilir
Nailin In Saroh
Rabu | 11/12/2019 21.30 WIB
Tingkatkan Produksi, DPR Minta Revitalisasi Industri Gula dari Hulu Hingga Hilir
Anggota Komisi VI DPR RI Sondang Tiar Debora Tampubolon dalam diskusi sekaligus bedah buku ‘Ekonomi Politik Gula, Kedaulatan Pangan di Tengah Liberalisasi Perdagangan’ yang diluncurkan di Ruang Teater Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

RILIS.ID, Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI Sondang Tiar Debora Tampubolon meminta revitalisasi industri gula dari hulu hingga hilir, termasuk memperbarui teknologi pabrik gula milik pemerintah. Tujuannya agar produktivitas gula meningkat. 

"Pabrik gula yang dikelola BUMN PTPN (PT Perkebunan Nusantara X) itu peninggalan zaman Belanda, sehingga produktivitasnya rendah," kata Sondang dalam diskusi sekaligus bedah buku ‘Ekonomi Politik Gula, Kedaulatan Pangan di Tengah Liberalisasi Perdagangan’ yang diluncurkan di Ruang Teater Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Dijelaskan Debora bahwa rendemen (kadar kandungan gula dalam tebu) perusahaan gula pemerintah hanya mampu menghasilkan 5 ton per hektar. Dari kapasitas yang seharusnya bisa mencapai 10 ton per hektar. 

Karena itu dia meminta adanya revitalisasi termasuk terhadap pabrik, sehingga teknologi terbaru bisa digunakan dan ujungnya kapasitas produksi pabrik gula pelat merah meningkat. Bila perlu, pendirian pabrik gula baru dilakukan. 

"Sebenarnya pabrik gula pemerintah itu sudah tidak layak harus ganti, harus di-shutdown. Jika dibilang mahal investasinya, perlu suntikan dana Rp 5-7 triliun, tapi asalkan hasilkan produktivitas tinggi, kenapa tidak?" tuturnya. 

Kebutuhan gula nasional sendiri saat ini, menurut Sondang 70 persen dipenuhi oleh BUMN, sementara sisanya oleh perusahaan swasta. Sondang berharap, dengan adanya revitalisasi pabrik dan sejumlah langkah lainnya, kapasitas produksi gula dari perusahaan milik negara bisa meningkat. Sehingga impor gula dengan jumlah besar tak perlu dilakukan.

"Kebutuhan gula kita itu sekitar 6 juta ton per tahun. Produksi nasional hanya mampu memenuhi sekitar 2 juta ton, sisanya impor. Dengan adanya pembenahan di sektor industri gula, terutama perusahaan BUMN, ke depannya impor kita harapkan tak sebesar itu," jelas politikus perempuan dari PDI Perjuangan itu. 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID