Teknologi Pengolahan Dongkrak Nilai Tambah Buah dan Hasil Panen - RILIS.ID
Teknologi Pengolahan Dongkrak Nilai Tambah Buah dan Hasil Panen
Elvi R
Kamis | 08/08/2019 20.07 WIB
Teknologi Pengolahan Dongkrak Nilai Tambah Buah dan Hasil Panen
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta – Maraknya kasus “buang-buang hasil panen” seakan tak pernah surut kita dengar, belum hilang dari ingatan kita tentang kasus petani Garut yang membuang 200 ton tomat hasil panennya karena hanya dihargai Rp300 per kilogram. Harga yang sangat tidak sebanding dengan ongkos produksi dan ongkos angkut. Belum lama ini juga marak terdengar kasus petani buah naga di Banyuwangi membuang buah naga hasil panen karena hanya dihargai Rp1.000 per kilogram juga petani Kabupaten Kerinci yang membuang sayuran hasil panennya.

Menurut Kepala BB Pascapanen, Prayudi Samsuri, hal itu tidak semestinya terjadi, banyak teknologi pascapanen maupun teknologi pengolahan yang bisa di manfaatkan salah satunya pengolahan buah kering dan Fruit Leather.  

"Kita ketahui bahwa buah-buahan bersifat musiman, dengan demikian akan terjadi kelangkaan di luar musim, dan akan terjadi fluktuasi harga," ungkapnya.

Di samping itu, kata Prayudi, produk pertanian sangat beragam, termasuk dalam kualitasnya. Tidak semua buah memiliki kualitas yang bagus, biasanya petani atau pengepul akan melalukan grading terhadap hasil panenya. Grade yang tinggi biasanya dijual segar dengan harga yang bagus. Namun grade yang rendah, bahkan ada yang off grade, biasanya tidak laku dijual dan ini dapat digunakan sebagai bahan baku olahan.

BB Pascapanen  saat ini sedang mengembangkan teknologi olahan buah antara lain berupa buah kering dan fruit leather

Fruit Leather adalah olahan buah dalam bentuk lembaran semi basah dan berasa manis bercita rasa buah asli. Fruit Leather belum banyak dijumpai di pasaran, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan untuk menggantikan produk sejenis yang sekarang masih impor dan juga  untuk melengkapi aneka produk olahan yang sudah ada.

"Teknologi pembuatanya sangat sederhana dan mudah diterapkan oleh UKM. Bubur buah dimasak dengan gula,  bahan pengental seperti agar-agar atau nutrigel, ditambahkan sedikit mentega lalu adonan yang telah masak dituangkan dalam loyang, dikeringkan dengan sinar matahari atau alat pengering selama sekitar 1 hari," jelasnya.

Sedangkan buah kering merupakan awetan buah yang berdaya simpan lama, selain mempunyai bentuk yang semi basah hingga kering, produk ini juga mengandung gula yang dapat berfungsi sebagai pengawet. Teknologi pembuatannya juga sangat sederhana, buah yang telah dikupas dipotong-potong lalu direndam dalam larutan penguat tekstur dan anti browning, dilanjutkan dengan perendaman gula pekat selama 1 hari lalu dikeringkan dengan dikeringkan dengan sinar matahari atau alat pengering selama sekitar 1 hari.

Dengan teknologi pengolahan, akan ada peningkatan nilai tambah dari produk buah tropis Indonesia yang pada akhirnya akan mendongkrak pendapatan para petani.

 

Sumber Erni Sukasih/Dwi Amiarsi/Balitbangtan


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID