Tahun Ini Kemendikbud Optimis Serapan Anggaran Capai 98 Persen - RILIS.ID
Tahun Ini Kemendikbud Optimis Serapan Anggaran Capai 98 Persen
Elvi R
Jumat | 23/02/2018 15.42 WIB
Tahun Ini Kemendikbud Optimis Serapan Anggaran Capai 98 Persen
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Didik Suhardi mengatakan, pihaknya menargetkan penyerapan anggaran mencapai 98 persen pada 2018.

"Kami berharap pada tahun ini penyerapan anggaran mencapai 98 persen. Mudah-mudahan tidak ada kendala dari implementasi dari semua perencanaan yang ada," ujar Didik di Jakarta, Jumat (23/2/2018).

Target tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebanyak 97,10 persen dan pada 2016 sebanyak 90 persen.

Didik mengaku optimistis dapat mencapai target penyerapan tersebut, karena Kemendikbud telah mengembangkan aplikasi Monitoring Laporan Keuangan Sistem Informasi Manajemen Keuangan (MoLK SIMKeu) berbasis IT. Aplikasi ini dianggap mampu mengintegrasikan/menghubungkan 365 satuan kerja di lingkungan Kemdikbud, secara daring dan riil.

Aplikasi MoLK SIMkeu terintegrasi langsung dengan aplikasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) dan E-Rekonsiliasi Laporan Keuangan (e-Rekon-LK) Kementerian Keuangan, yang menyajikan realisasi anggaran berdasarkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan laporan keuangan. Dalam pengembanganya, saat ini MoLK SIMkeu tidak hanya menyajikan realisasi anggaran, tapi juga telah dapat menampilkan realisasi pencapaian fisik dan laporan keuangan secara online, yang meliputi, Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Operasional (LO), dan Laporan Perubahan Equitas (LPE).

Dengan memanfaatkan aplikasi MoLK SIMKeu tersebut, dapat memantau dan mengendalikan pelaksanaan anggaran pada unit kerjanya masing-masing.

Anggaran Kemdikbud pada 2018 mengalami kenaikan sebesar Rp2,12 trilliun dibanding 2017, yaitu dari Rp37,96 trilliun menjadi Rp40,09 trilliun. Lebih dari 70 persen anggaran tersebut dialokasikan untuk pemenuhan program peningkatan mutu dan akses pendidikan, Program Inonesia Pintar (PIP), beasiswa, Penguatan Pendidikan Vokasi, tunjangan profesi guru, penyediaan sarana-prasarana sekolah, layanan di bidang kebudayaan dan bahasa, serta bantuan pendidikan lainnya.

Disinggung mengenai indikator penyerapan yang optimal, Didik menjelaskan indikatornya adalah antara perencanaan dan implementasi tidak ada perbedaan signifikan.

"Jika perencanaannya bagus dan lancar implementasinya maka otomatis akan mempengaruhi daya serap." Implementasi melalui beberapa tahap dan terkadang memakan waktu lebih lama, maka otomatis penyerapan juga terganggu. Sementara, perencanaan yang bagus, data,serta ketersediaan fasilitas juga bagus maka implementasi tidak sulit.

Kemdikbud juga memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pengawas Keuangan (BPK) atas laporan keuangannya selama empat tahun berturut-turut pada 2013, 2014, 2015, dan 2016. Tahun ini ditargetkan opini WTP tersebut dapat dicapai kembali untuk yang kelima kali.

Sumber ANTARA


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID