Sepenggal Kisah 2020, Ramadan di Tengah Pandemi Virus Corona - RILIS.ID
Sepenggal Kisah 2020, Ramadan di Tengah Pandemi Virus Corona
Elvi R
Sabtu | 23/05/2020 10.00 WIB
Sepenggal Kisah 2020, Ramadan di Tengah Pandemi Virus Corona
Warga antre mengambil takjil yang disediakan pengurus RT 005 RW 006 kawasan Cempaka Putih Raya, Jakarta. Foto: RILIS.ID/Panji Satria

RILIS.ID, Jakarta – Tentu tak pernah terbayang bagi masyarakat, wabah virus corona akan meluas dan berdurasi panjang. Harapan demi harapan pandemik cepat berlalu. Namun hingga akhir ramadan 2020 tak kunjung usai.

Mungkin kisah ramadan yang tak biasa akan menjadi sejarah yang akan dituturkan kepada anak dan cucu kelak. Tentang bagaimana masyarakat menjalani keseharian ramadan dengan segala tradisinya di tengah pandemi COVID-19, ketika social dan physical distancing dilaksanakan. Tanpa berjabat tangan, tanpa tarawih berjamaah, tanpa berburu takjil dan menahan diri untuk membeli pakaian serta pulang ke kampung halaman.

Tim rilis.id berhasil mengabadikan momen-momen kisah dan perjuangan masyarakat di tengah pandemi COVID-19. Kisah yang mungkin bisa dibagi kelak untuk dikenang.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang ramai. Tahun ini hanya sedikit orang yang berziarah ke makam keluarga mereka. Jelang ramadan di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masyarakat dibatasi untuk bepergian. Bahkan sebagian makan ditutup. Suasana TPU Karet Bivak, Jakarta. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Biasanya di kawasan Duren Sawit ratusan kilo rimun suri akan dipanen oleh petani. Stok bulan ramadan akan meningkat seiring permintaan konsumen. Namun tahun ini berbeda, suasana kawasan tersebut sepi. Selain karena musim hujan yang mengancam gagal panen. Permintaan di tengah pandemi COVID-19 tak seperti dulu. Foto: RILIS.ID/Panji Satria.

Bukan cuma timun suri, kurma yang biasa laris manis karena makanan yang disunahkan untuk berbuka puasa pun tak banyak diburu. Pedagang Pasar Tanah Abang sepi pembeli. Mereka berdagang sesuai protokol kesehatan, memakai masker, menyediakan pencuci tangan dan menjaga jarak. Tetap sepi pembeli. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Bukan hanya Pasar Tanah Abang, Pasar Minggu dan pasar lain. Pasar Senen stasiun tersibuk saat ramadan dan jelang lebaran pun sepi. Belum apa-apa baru seminggu puasa, warga pun dijegat. Tak boleh mudik. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Hampir semua sektor yang biasanya berpesta saat ramadan dan lebaran kini terjun bebas. Omzet pedagang parsel di Barito, Jakarta Selatan dan Cikini, Jakarta Pusat, anjlok 80 persen. Oleng. Resah. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Tidak boleh mudik pun merembet ke pembatalan tiket perjalanan di berbagai stasiun. Salah satunya di Stasiun Gambir. Beruntung 100 persen uang dikembalikan dalam bentuk tunai oleh PT KAI. Warga sedikit tenang. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Jangankan parsel atau tiket mudik. Warga, baik anak-anak, ibu dengan anak dan orang dewasa mengantre untuk takjil gratis. Mereka harus mematuhi protokoler kesehatan. Memakai masker, diperiksa suhu, berjarak dua meter saat mengantre. Pembagian di Cempaka Putih, cukup menggembirakan hari masyarakat. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Meski minat membeli turun dan tak banyak bepergian. Masyarakat jadi lebih peduli pada sesama. Banyak sayur dan bahan pokok gratis yang disediakan. Baik digantung seperti di kawadan Jati Padang, Jakarta Selatan atau orang-orang yang berbagi langsung pada sesama. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Tak cuma terus berinovasi buat vaksin COVID-19. Saat pandemi zakat pun bisa drive thru. Masyarakat bisa membayar zakat dan didoakan oleh amil zakat dari kendaraan mereka. Ada jarak namun tetap melaksanakan akad dengan baik. Masjid Raya Nurul Hidayah, Tanah Kusir, Jakarta Selatan menjadi salah satu contoh. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID