logo rilis
Semakin Terperosok, Ada Apa dengan Rupiah?
Kontributor

06 Juli 2018, 11:32 WIB
Semakin Terperosok, Ada Apa dengan Rupiah?
Penukaran Valas. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Rupiah belum bisa unjuk gigi untuk menguat. Sepanjang 2018 Rupiah terus bergejolak dan cenderung terperosok. Ekonom Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, defisit neraca perdangan menjadi salah satu hal yang memperparah keadaan Rupiah.

"Aspek fundamental ekonomi kita kurang perform. Buktinya selama lima bulan ada empat kali defisit neraca perdagangan," ungkap Bhima kepada rilis.id, Jumat (6/7/2018).

Dia menyebut, per Mei 2018 defisit negara perdagangan mencapai US$1,52 miliar. "Kalau terus-terusan defisit maka permintaan Dolar akan naik dan Rupiah menurun," katanya.

Menurut Bhima, salah satu solusi terbaik untuk memperbaiki keadaan Rupiah dengan meningkatkan ekspor. Saat ini, impor bahan baku dan barang modal berkontribusi 80 persen dari total impor.

"Meski pemerintah sadar akan hal ini, tapi kelihatannya belum ada langkah serius," ujar Bhima.

Dia pun mengatakan, Rupiah bisa menyentuh Rp14.600 terburuk, sejak 2016 jika kebijakan stabilitas hanya sekadar menaikkan bunga acuan Bank Indonesia.

"Mei kemarin dua kali penguatan karena bunga acuan, tapi Rupiah kembali merosot, penguatan cuma sesaat," pungkasnya.

Nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi (6/7/2018) bergerak melemah 19 poin menjadi Rp14.413 dibanding posisi sebelumnya Rp14.394 per Dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, pergerakan Rupiah membuka peluang pelemahan lanjutan.

"Apalagi jika sentimen yang ada kurang mampu menahan pelemahan dan tidak memberi dampak yang cukup positif mengangkat Rupiah," ujar Reza.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, laju Rupiah kembali melemah tipis setelah sempat menguat. Pergerakan sejumlah mata uang Asia yang melemah dinilai memberikan imbas negatif pada Rupiah. Dari dalam negeri pun terlihat belum adanya sentimen yang cukup signifikan untuk mengangkat Rupiah sehingga kenaikan sebelumnya kembali diuji.

Aksi menahan diri dari pelaku pasar jelang pengenaan tarif terhadap sejumlah barang-barang impor Tiongkok berimbas pada pergerakan sejumlah mata uang yang cenderung flat.

Sementara itu, pergerakan Yuan China (CNY) masih bertahan positif meski hanya naik tipis seiring masih adanya imbas dari langkah People's Bank of China yang melakukan upaya untuk menahan pelemahan mata uang tersebut dengan mempertahankan Yuan pada tingkat yang stabil dan masuk akal serta arus modal yang masih terkendali.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID