logo rilis
Sekolah Politik, Politisi Emak-emak dan Wan Azizah
kontributor kontributor
Yayat R Cipasang
02 Oktober 2018, 17:36 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
Sekolah Politik, Politisi Emak-emak dan Wan Azizah
ILUSTRASI: Hafiz

SEJAK kemarin, 1 Oktober 2018, sekira 15 orang rombongan perempuan calon legislatif mengunjungi istri politisi Malaysia Anwar Ibrahim, Datuk Sri Wan Azizah. Bukan kunjungan biasa sampai mereka harus menyeberang ke negeri jiran. Muhibah ini bagian dari kurikulum sekolah politik yang digagas  Forum Alumni HMI Wati (Forhati) untuk melahirkan perempuan politisi yang tangguh dan berkarakter.

Model pendidikan politik yang digagas Forhati ini perlu diapresiasi mengingat selama ini sangat minim sekolah atau pendidikan politik yang diberikan secara khusus pada perempuan. Selama ini pendidikan politik yang diberikan hanya bersifat sporadis dan bersifat general.

Berkacamata dari semua itu, upaya Forhati untuk mendidik kadernya menjadi politisi berkarakter sebuah ikhtiar yang visioner. Politisi emak-emak, dalam istilah saya, setidaknya dalam beberapa hal jauh lebih survival, sabar, tenang dan empatik. Tetapi kelebihan itu tidak ada apa-apanya bila tidak disertai keterampilan teknis dalam fungsi-fungsi pengawasan, bujeting dan legislasi.

Koordinator Majelis Nasional Forhati Hanifah Husein Baldan menuturkan alasan sekolah politik yang digagasnya melakukan kunjungan ke Wan Azizah di Kualalumpur. Wan Azizah dianggap sebagai perempuan politisi yang tangguh dan berkarakter.

Wan Azizah bisa dikatakan model yang tepat dari aktivitas politik dalam tataran ekstreme. Tentu untuk menjadi seorang politisi sekaligus emak-emak yang tangguh itu tidak diperoleh dalam waktu yang instan. Tentu ada latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman hidup dan juga sokongan suami dan anak.

Wan Azizah bisa kompatibel kehidupannya dalam keadaan senang dan susah. Ketika suami dipenjara dan diberondong berbagai fitnah, dia tetap eksis dan melawan dalam kadar yang terukur serta berjuang dalam garis partai.

Upaya Forhati melahirkan perempuan politisi juga jangan sebatas pada tataran fungsi-fungsi kedewanan. Ada yang lebih penting dari itu yaitu membangun DPR yang dipercaya rakyat.

Tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah kepada DPR dari sejumlah sigi yang dilakukan menunjukkan lampu kuning demokrasi di Indonesia. Masyarakat sudah sampai titik hopless.

Tentu, upaya perbaikan itu menjadi tanggung jawab semua dan perempuan politisi bisa mewarnai di Senayan sehingga menjadi pelangi yang indah di tengah rusaknya citra DPR karena sejumlah anggotanya dari kalangan perempuan terlibat dan terbukti korupsi.

Lebih banyak perempuan yang masuk ke Senayan tentu lebih bagus. Tetapi kalau mereka tidak berkualitas dan destruktif malah berbahaya.

Karena itu pilihannya, tidaklah perlu banyak perempuan yang masuk DPR. Biarkanlah alami, toh afirmasi 30 persen juga tetap belum menghasilkan tokoh politik dari kalangan perempuan yang mumpuni.

Karena itu kita berharap dari Forhati akan melahirkan politisi sekaliber Wan Azizah. Tidak perlu banyak karena dengan satu Wan Azizah pun, rezim di Malaysia pun bisa tumbang dan penguasanya menjadi kelompok paria.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID