Sejarah Indonesia: Sejarah Pergumulan Para Penulis Buku - RILIS.ID
Sejarah Indonesia: Sejarah Pergumulan Para Penulis Buku
RILIS.ID
Senin | 13/02/2017 20.02 WIB
Sejarah Indonesia: Sejarah Pergumulan Para Penulis Buku

Oleh Andi Fadlan Irwan

Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas perjuangan para penulis dan pencinta buku. Juga dengan segala perdebatannya. Dalam sejarah Indonesia, buku bukan hanya menjadi saluran keluar bagi ide-ide yang ada di kepala para pendiri republik, ia juga sekaligus menjadi arena perjumpaan bagi gagasan-gagasan ke-Indonesia-an yang tak pernah selesai dianggit. buku, bukan seperti corong mikrofon yang terjulur keluar, dalam sejarah republik, buku-buku yang ditulis para pendiri republik lebih mirip suara yang tukas-menukas. Meski tak jarang, berdarah-darah.

Di tahun 1924, Omar Said Cokroaminoto, yang disebut-sebut sebagai guru para pendiri bangsa itu, menulis buku Islam dan Sosialisme, sebuah buku yang mencerminkan pergulatan generasi awal sebuah bangsa yang memasuki dunia modern. Di buku itulah, Cokroaminoto berusaha menggali dan menemukan sosialisme dari praktik keislaman, sebuah ikhtiar pencarian warna ideologi yang pas bagi sebuah bangsa yang baru belajar merangkak keluar dari kolonialisme, sebuah ikhtiar yang kelak diteruskan oleh "murid-murid"nya, meski dengan pendekatan yang bukan hanya sama sekali berbeda, tapi juga penuh tragedi.

Salah satu murid Cokroaminoto yang paling cerdas dan rajin menulis adalah seorang pemuda bernama Soekarno. Ia menjadi pengganggu yang serius bagi pemerintah kolonial dengan tulisan-tulisan pamfletnya yang dibaca banyak orang. Saat ia akhirnya ditangkap dan diajukan ke hadapan sidang pengadilan Landraad di Bandung pada tahun 1930, ia justru berhasil membakar telinga pemerintah kolonial melalui pidato panjangnya yang berjudul Indonesia menggugat. Di Tahun 1947, soekarno muda menulis sebuah buku serius tentang gerakan pembebasan kaum perempuan di dunia ketiga, yang mungkin merupakan buku emansipasi pertama yang ditulis oleh orang Asia.

Buku yang berjudul Sarinah itulah yang Soekarno serahkan kepada Musso, kawan lamanya semasa masih tinggal di rumah Cokroaminoto, saat Musso kembali ke Indonesia pada tahun 1948 setelah bertahun-tahun diasingkan ke Uni Soviet. Musso, yang memilih meninggalkan Sarikat Islam dan Cokroaminoto lalu membentuk Partai Komunis Indonesia itu tertahan di Uni Soviet setelah peristiwa PKI 1926. Pertemuan Soekarno dan Musso itu menjadi sebuah momen perjumpaan yang tak hanya mengharukan karena ia mempertemukan dua manusia yang dipisahkan kolonialisme (Musso diasingkan di Uni Soviet, sementara Soekarno dibuang ke Ende), tapi juga mempertemukan dua pemikir besar generasi awal Indonesia yang sama sekali berbeda gagasan meski lahir dari guru yang sama. Konon, sebagai terima kasih atas buku pemberian Soekarno itu, Musso berjanji kepada Soekarno, bahwa ia juga akan segera menulis buku.

Beberapa pekan setelah pertemuan itu, Musso memang menyelesaikan menulis sebuah buku. Namun ironisnya, buku yang berjudul djalan baroe itulah, yang kelak menjadi pangkal perselisihan Musso dan Soekarno. Buku yang menjadi semacam peta jalan ideologi yang harus ditempuh republik yang baru berdiri itu menginspirasi gerakan-gerakan radikal yang dihubungkan dengan peristiwa "pemberontakan" di Madiun, 1948. Musso akhirnya ditembak oleh tentara yang dikirim jenderal Nasution atas izin Soekarno.

Namun pergulatan ide-ide dan buku-buku yang ditulis oleh para pendiri republik tak berhenti di sana. Mohammad Hatta, yang disebut-sebut sebagai pasangan dwitunggal Soekarno, sejak muda sering terlibat dalam perdebatan sengit dengan Soekarno melalui tulisan-tulisan mereka di harian Daulat Ra'jat, Menjala, dan Fikiran Ra'jat. Setelah mengundurkan diri dari posisi wakil presiden, Hatta bahkan menulis sebuah buku cemerlang yang menjelaskan demokrasi versi Indonesia yang berjudul Demokrasi Kita, sebuah buku yang banyak mengkritik praktik politik yang dijalankan Soekarno di era demokrasi terpimpin.

Di zaman ketika nasionalisme merebak ke negara-negara dunia ketiga dan ideologi-ideologi besar tumbuh subur di awal abad keduapuluh itulah, Indonesia lahir dengan segala sengkarutnya. Sengkarut yang mempertemukan (atau mungkin memperhadap-hadapkan) tak hanya Soekarno melawan Musso, tapi juga Soekarno melawan Hatta, Soekarno melawan Kartosoewirjo, Syahrir melawan Amir Syarifuddin, Musso melawan Tan Malaka, dan yang lainnya.

Namun yang bisa kita lihat dari perdebatan-perdebatan itu bukan sekedar perdebatan para tokoh, tapi juga perdebatan yang pokok; gagasan-gagasan yang dengan segala kekurangannya masing-masing mencoba menemukan ruang uji coba historis untuk dipraktekkan; Pan islamisme Natsir, nasionalisme Soekarno, humanisme Hatta, sosialisme Syahrir, sosialisme Tan Malaka, atau komunisme Musso?

Maka tak seperti yang kita lihat dari perdebatan politisi-politisi di tivi, perdebatan para pendiri republik adalah perdebatan yang literer, perdebatan yang memungkinkan refleksi yang dalam dan jernih. Tulisan-tulisan Soekarno dibantah tulisan-tulisan Hatta. Buku thesis yang ditulis Tan Malaka dibantah oleh buku analisis yang ditulis Alimin. Tulisan-tulisan Amir Syarifuddin dibantah oleh buku yang ditulis Syahrir. di panggung sejarah Indonesia yang penuh perdebatan itu, ide-ide didebat, diasah, namun tak jarang saling melengkapi satu sama lain. Mungkin dari perdebatan semacam itu, Sosialisme, humanisme juga islamisme bisa bertemu dalam sebuah azas negara yang kita sebut Pancasila. Juga, dari perdebatan semacam itulah, tokoh-tokoh Islam di konstituante bisa mengalah dengan menghapus sebagian teks dari piagam Jakarta yang kemudian melahirkan UUD 1945 itu.

Maka, jika kemarin-kemarin kita mendengar bahwa di beberapa kota, ada orang-orang yang sibuk menyensor buku, sibuk memberangus buku-buku, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang buta sejarah. Mereka, adalah orang-orang yang tak paham bahwa bangsa ini adalah bangsa yang lahir dari perdebatan kebangsaan yang tak selesai. Bukankah bangsa, sesungguhnya memang tak pernah final?

Penulis adalah Dokter umum di Kab. Enrekang, masih terdaftar aktif sebagai Kader HMI


Tags
#opini
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID