logo rilis
Saatnya Berhijrah
Kontributor
RILIS.ID
11 September 2018, 22:03 WIB
Saatnya Berhijrah

Oleh Nia Sundari Sunoto
Alumnus FHUI dan Pegiat Humaniora

PADA Selasa 11 September 2018, umat Islam di seluruh dunia bergembira merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriah. Sebagian besar masyarakat Indonesia pun bersenang hati karena dapat lagi satu hari libur, dan kesempatan ambil cuti atau ‘izin’ di hari Senin yang kejepit kemarin. 

Walau tak ada perayaan besar-besaran ala tahun baru Masehi, banyak ucapan dan doa-doa baik untuk menyambut tahun baru berseliweran di grup WA maupun medsos, meskipun peringkat pertama kuantitas postingan masih ditempati pendukung capres-cawapres dari kedua kubu dan tentang melorotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.
 
Ah Amerika… salah satu destinasi utama para imigran dengan jargon “the land of dream”, “the land of opportunity”, “all people are equal”, “it’s a free country” dan istilah ideal lainnya mengenai kebebasan, keadilan dan usaha untuk memperbaiki nasib. 

Selasa, 11 September 2001, 17 tahun silam, dunia dikejutkan oleh tragedi World Trade Center di New York Amerika Serikat dan beberapa tempat lainnya. Peristiwa yang mencengangkan sekaligus memilukan mengingat begitu banyak korban yang meninggal dunia maupun luka, yang tiba-tiba kehilangan anggota keluarga maupun teman dan sanak saudara. Serangan yang berskala sangat besar, direncanakan dengan sangat “evil-ly perfect” dan amat sangat dramatis dari sisi humanis dan psikologis. 

Salah seorang pembajak pesawat dalam serangan bunuh diri tersebut, dikabarkan belajar menerbangkan pesawat di sebuah sekolah aviasi di Amerika, dan setelah kejadian tersebut, melihat wajah dan nama si teroris, sang instruktur baru teringat dan menyadari apa arti ketika muridnya itu tertawa saat hendak diajarkan cara mendaratkan pesawat, dan berkata, “Saya tidak perlu belajar bagaimana cara mendaratkan (pesawat)-nya.” 

Berbagai kontroversi juga mengikuti peristiwa tersebut seperti mengenai siapa sebenarnya dalang di balik serangan; apakah runtuhnya menara kembar itu benar-benar disebabkan oleh pesawat yang menabrak; apakah kebijakan luar negeri pemerintah Amerika Serikat sedikit banyak punya andil atas terjadinya peristiwa tersebut dan mengapa setelah kejadian 911, Islam oleh media barat seolah ditahbiskan menjadi agama yang pemeluknya semua adalah teroris dan mencetak generasi teroris.

Seiring berjalannya waktu, dengan makin berkembangnya teknologi dan begitu cepatnya penyebaran informasi, kita bisa melihat langsung bahwa ternyata “the American beauty” dalam arti sosial kemasyarakatan, “the land of opportunity” bagi para imigran disana tidaklah seindah dongeng sebelum tidur. Apalagi kini, saat Donald Trump berkuasa dan membuat berbagai kebijakan yang kadang sulit dicerna oleh akal sehat manusia. Ada yang berhasil, tapi tak sedikit pula yang gagal. Ada yang kembali ke negaranya masing-masing, ada pula yang pindah ke belahan dunia lainnya dan berkata, aku hijrah.

Pada September tahun 622, Nabi Muhammad SAW menyelesaikan hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Peristiwa inilah yang kemudian menandai tahun pertama di kalender Islam yang disebut Tahun Hijriah. Hijrah secara umum diartikan sebagai berpindah dari sesuatu yang buruk kepada yang baik, dari sesuatu yang baik kepada yang jauh lebih baik lagi.

Pernah di suatu reuni sekolah, dalam obrolannya ada teman mengatakan, “Iya ya kenapa sekarang dia jadi radikal gitu ya, berjanggut, aktifnya hanya di grup kajian Islam, promosi ekonomi umat, tapi diajak kongkow gak pernah datang. Padahal dulu ganteng dan keren.”

Sebersit terpikir, memang apa yang salah dengan perubahan seperti itu, kenapa dianggap radikal? Umur sudah diatas 40 tahun masa maunya hanya kongkow-kongkow, rokok-an, minum wine, ngebahas dunia ngalor ngidul tanpa tujuan? Atau nonton konser musik sampai jam 2 pagi? Maukah sebaliknya mereka dianggap radikal, atas pernyataannya yang mengatakan “Gak betah gue pake jilbab, gerah, leher rasanya kayak dicekik”, atau yang bilang “Ngapain lo pake hijab, kalo masih cari suami, aset jangan ditutup-tutupin.”  Walaah... kalau ketemu orang-orang jenis begini lagi mendingan balik kanan lah, bila merasa diri juga belum pantas untuk memberikan wejangan.

Keinginan hijrah seyogyanya menjadi titik awal bagi umat muslim untuk benar-benar berpindah ke jalan hidup yang diridhoi Allah. Untuk menjadi pemeluk agama yang penuh kedamaian ini, yang mengimplementasikan kebaikan dan kemuliaannya. Mempelajari apa yang diperintahkan dan yang dilarang serta mengamalkannya. Menjadi manusia yang senantiasa berpikir jernih dan seimbang, tidak mudah terkontaminasi paham radikal tetapi juga tidak sembarangan mencap orang lain radikal. Bukan menjadi bagian dari pemeluknya yang salah arah kemudian menjadi penebar teror dan kerusakan, bukan pula menjadi pengantin bom atau pilot pesawat serangan bunuh diri yang memakan korban ribuan manusia tak berdosa.

Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Walaupun sudah haji atau umroh berkali-kali, bila tidak ada kesadaran dan keinginan kuat dari dalam diri untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, di mata Allah. Tak lagi berselendang kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain. Tak lagi merasa berhak menganalisa seseorang kemudian menghakiminya secara sepihak akibat tidak mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tak ada bedanya bicara sekeras suara petasan banting ataupun gaya lembut mendayu bila kalimatnya sama-sama menusuk tajam bak belati. Cobalah introspeksi, tanyakan pada diri kira-kira Allah senang atau tidak dengan cara saya bicara atau menulis pesan pada si A, B, atau C tadi. Adakah diantara lisan kita yang mungkin menyinggung perasaan, sebab ambang batas toleransi manusia terhadap harga dirinya berbeda-beda dan bukan hak kita untuk mengatakan, "Alah, cuma gitu aja marah, tersinggung, baper...".

Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Sang Maha Kuasa. Hijrah, meskipun bisa punya takaran dan tahapan yang berbeda bagi tiap individu, sejatinya selalu berpegang pada pedoman kitab suci dari-Nya dan membuat diri kita makin dekat pada-Nya. "If you want to talk to God, Pray. If you want God to talk to you, read the Qur'an."  Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 H.

 

Selasa, 11 September 2018


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)