logo rilis
Rusia Setelah Angin Perubahan (3)
Kontributor
RILIS.ID
09 September 2018, 23:55 WIB
Rusia Setelah Angin Perubahan (3)
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

Oleh Eka Sastra
Anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar


BORIS Nikolayevich Yeltsin menjadi Presiden pertama yang dipilih secara langsung dalam sejarah Rusia pada tanggal 12 Juni 1991 dengan dukungan 57 persen suara. Yeltsin mewarisi Rusia dengan kondisi politik yang sedang bergejolak dan ditambah dengan situasi ekonomi yang juga sulit. 

Defisit anggaran hampir 19 persen dari Gross Domestic Product (GDP) dengan laju inflasi 30 persen yang layak disebut sebagai hyper inflasi dengan angka pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan yang juga tinggi. Turunnya harga minyak dunia di periode 1990an memicu penurunan GDP Rusia hampir 50 persen lebih sepanjang periode Yeltsin. 

Karena beratnya beban keuangan, Yeltsin kemudian mengajukan permohonan bantuan dana talangan ke IMF yang kemudian disetujui oleh IMF tapi dengan syarat, Rusia wajib melaksanakan liberalisasi ekonomi. Pada masa Yeltsin, terjadi transisi ekonomi Rusia secara besar-besaran dari ekonomi sosialis menuju ekonomi berbasis pasar. 

Liberalisasi, privatisasi, dan stabilisasi dijalankan secara radikal dengan tiga arsitek utamanya  Yeltsin, Yegor Gaidar sebagai deputi prime minister dan Anatholy Chubais yang kemudian menjadi penanggung jawab transisi ekonomi Rusia. Tiga resep utama IMF yang dijalankan di hampir semua negara yang menjadi pasiennya dijadikan syarat pengucuran pinjaman keuangan bagi Rusia; liberalisasi, stabilisasi makro ekonomi dan privatisasi. 

Liberalisasi yaitu pengurangan intervensi pemerintah dan penyerahan kepada mekanisme pasar untuk harga dan mata uang serta perdagangan luar negeri. Stabilisasi makro ekonomi dalam bahasa sederhananya adalah disiplin fiskal yang dilaksanakan untuk menyehatkan anggaran negara dengan memotong pengeluaran dan meningkatkan penerimaan negara sehingga ada kesimbangan fiskal yang terjadi. 

Sementara privatisasi adalah upaya untuk menjual perusahaan negara kepada pihak swasta agar pemerintah tidak lagi menjadi pelaku ekonomi tapi menyerahkan sepenuhnya kepada swasta. 

Semua program tersebut wajib dijalankan karena menjadi syarat wajib bagi pengucuran pinjaman kepada Rusia yang saat itu sedang terbelit masalah keuangan dan diambang kebangkrutan. Resep ini ternyata tidak berhasil menyelamatkan perekonomian Rusia. Bahkan banyak dikritik sebagai resep yang malah semakin menjerumuskan Rusia dan banyak pasien IMF lainnya ke jurang kehancuran. 

Situasi ekonomi yang sedang sulit dipersulit dengan pemotongan belanja dan subsidi negara pada sisi belanja dan peningkatan pajak pada sisi penerimaan. Akibatnya kemudian adalah kontraksi ekonomi karena situasi ekonomi yang sulit dan sedang dihadapi oleh masyarakat dan pengusaha semakin ditekan dengan pemotongan subsidi dan pajak tinggi. 
Perekonomian Rusia bukannya semakin membaik tapi malah semakin memburuk dengan GDP yang turun sampai hampir 50 persen diiringi angka pengangguran dan kemiskinan yang semakin tinggi. Perekonomian Rusia di bawah Yeltsin dianggap lebih menderita dibandingkan perekonomian Amerika dan Eropa Barat ketika terjadi depresi besar tahun 1930an.

Masalah lain adalah privatisasi terhadap perusahaan negara yang dijalankan saat itu malah menjadi pengalihan kepemilikan dari negara ke oligarki. Chubais melaksanakan privatisasi dengan membagikan kepemilikan beberapa perusahaan negara kepada warga Rusia dalam bentuk voucher. Tekanan kemiskinan mendorong masyarakat untuk menjual murah voucher tersebut kepada para oligarkis yang kemudian menjadi pemilik beberapa perusahaan negara dengan harga yang murah. 

Perusahaan negara lainnya malah langsung dibeli oleh para oligark yang dekat dengan kekuasaan sehingga praktis, privatisasi di Rusia adalah pengalihan aset negara ke tangan para oligark yang dekat dengan kekuasaan. Beberapa kajian malah menemukan kalau dana bantuan yang dipinjamkan oleh IMF tidak digunakan untuk membiayai perekonomian yang sedang merosot, malah digunakan untuk membeli BUMN dengan cara yang sangat halus. 

Bukannya semakin membaik, perekonomian Rusia di bawah Yeltsin dengan pelaksanaan resep IMF malah semakin memburuk dengan kemacetan ekonomi dan utang yang besar. Yang paling menyedihkan, di saat terjadi penderitaan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Rusia, pada saat bersamaan lahir oligark yang menguasai aset negara melalui program privatisasi. 

Karena itu, banyak yang mengkritik proses transisi ekonomi di Rusia sebagai yang paling terburuk, diwarnai perampasan aset negara oleh para oligark di tengah kerasnya penderitaan warga Rusia. Di zaman Yeltsin, oligark sangat berkuasa mengantikan politbiro di era komunis, melalui penguasaan ekonomi dan politiknya lewat praktik rent seeking.  

Beberapa kasus yang mencuat yang kemudian dilanjutkan investigasi menyangkut kerja sama oligark dengan keluarga Yeltsin dan orang dekatnya mendorong terjadinya pemakzulan. Tekanan terhadap Yeltsin semakin diperburuk dengan krisis keuangan Rusia tahun 1998 yang membuat pemerintahan Yeltsin tidak mampu membayar kewajiban utang Rusia kepada IMF dan donatur lainnya. 

Tekanan demi tekanan ini yang mendorong Yeltsin mengundurkan diri dan menunjuk Perdana Menteri Vladimir Putin sebagai penggantinya pada tanggal 31 Desember 1999. Pengunduran diri ini disertai dengan satu syarat, kekebalan hukum bagi Boris Nikolayevich Yetlsin sang pendorong transisi ekonomi Rusia dari semua tuntutan hukum. Malam pergantian tahun dan pergantian Presiden Rusia menjadi momentum kebangkitan Rusia di tangan Putin, sang mantan agen KGB yang bergelar ‘The Grey Cardinal”.   


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)