logo rilis
Rupiah Kian Melemah, DPR Minta Pemerintah Lakukan Ini...
PENULIS : Nailin In Saroh , Elvi R
10 Oktober 2018, 14:17 WIB
Rupiah Kian Melemah, DPR Minta Pemerintah Lakukan Ini...
Penukaran Valas. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Rupiah terus bergerak melemah terhadap Dollar AS. Dilansir dari Antara, perdagangan antarbank di Jakarta, Rabu pagi (10/10/2018) menyebutkan, Rp15.210. Sementara di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) baru saja mengeluarkan rilis data cadangan devisa bulan September 2018 yang tergerus hampir US$3,1 miliar menjadi US$114,85 miliar.

Selama menghadapi kondisi ini, Komisi XI DPR menilai, pemerintah belum memiliki strategi untuk menguatkan mata uang Garuda yang bertekuk lutut dihadapan Dolar AS. Bahkan, gelaran acara annual meeting IMF-World Bank sekalipun belum memperlihatkan dampak apapun.

"Ya pemerintah belum punya strategi yang jitu untuk bisa menjinakkan Dolar. Artinya keberadaan Indonesia sebagai tuan rumah annual meeting IMF World Bank juga tidak ada pengaruhnya," ujar anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Muharram kepada rilis.id di Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Menurutnya, ada hal fundamental di Indonesia ini yang menjadikan Rupiah tertekan terus. Di mana defisit neraca pembayaran sudah akut, ditambah impor barang yang membludak.

"Itu satu. Terus transaksi berjalannya juga akut termasuk defisit perdagangan ekspor impor sendiri kita negatif. Artinya justru adanya investasi infrastruktur dan listrik sekian ribu watt karena barang investasi itu belanjanya impor semua, kandungan impornya banyak jadi tidak membantu situasi Rupiah kita," jelas anggota legislatif Dapil Jawa Barat ini.

Politisi PKS ini menuturkan, investasi mega infrastruktur yang dihasilkan dari pinjaman luar negeri justru membuat rugi. Karena tidak mampu menopang defisit negara.

"Kan rugi kita. Investasi besar-besaran, infrastruktur dapet pinjaman dari luar negeri, Cina segala macem tapi kita enggak dapat apa-apa. Nah artinya tidak memperbaiki defisit kita," tegas Ecky.

Kemudian, manajemen portfolio di pasar modal yang tidak berjalan mulus.

"Selama ini kita dapet hot money, dapat portofolio kan yang dibursa di pasar uang. Itu juga devisa portfolio cenderung menurun. Pendapatan dari minat luar untuk portfolio juga menurun," tuturnya.

Alasan menurunnya minat portfolio lantaran ada beberapa faktor. Salah satunya kebijakan Amerika soal suku bunga. Tetapi lebih penting lagi, kata dia, adalah kepercayaan pada perekonomian nasional.

"Trust kepada pemerintah dan pemangku kepentingan disini tidak naik," katanya. 

Selain itu, juga kebijakan pemerintah yang tidak memarkir uang hasil ekspornya di dalam negeri. Sehingga, peredaran mata uang tersebut juga lemah.

"Satu lagi adalah, saya sudah ngomong, sudah lima tahun yang lalu soal devisa hasil ekspor. Memang devisa hasil ekspor sudah diimbau sudah diatur oleh BI untuk masuk rekening bank. Tapi yang memasukkan US$200, ini harusnya stay disimpen di rekening Indonesia tapi ini sebentar-sebentar. Cuma numpang lewat. Seperti Thailand dong itu di hold dulu diperbankan nasionalnya itu cukup lama," terang Ecky.

Ecky menegaskan, Komisi XI DPR selalu mengingatkan soal penguatan Rupiah. Komisi XI memang hanya memberikan saran baik ke BI maupun pemerintah sebab eksekutorialnya adalah eksekutif. Namun, saran itu tak pernah diterapkan.

"Semisal memperbaiki sistem investasi kita. Memperbaiki sistem kepercayaan investor publik kepada Indonesia. Memperbaiki hasil ekspor, kan kita hanya menyarankan tapi pemerintahnya berani enggak?" cetus dia.

Ecky menambahkan, BI tidak mungkin akan terus menjaga Rupiah dengan cara intervensi pasar. "Memang berapa sih cadangan devisa kita? Kan cuma untuk enam bulan, ditambah lagi impor pangan," ungkapnya.

"Ditambah lagi BBM, BBM kan enggak berani dalam tanda petik enggak berani dia melakukan terobosan sehingga pertamina impor terus," imbuh Ecky.

Tidak Cukup 'Main' Suku Bunga Bank Indonesia

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara menyebut, beberapa seharusnya ditempuh pemerintah untuk menghalau merosotnya nilai tukar Rupiah. Pemerintah tidak cukup hanya melalukan upaya melalui suku bunga acuan BI.

"Solusinya tekan current account deficit (CAD) lewat pengendalian impor 10 barang terbesar lewat kenaikan bea masuk dan kebijakan anti dumping," katanya kepada rilis.id, di Jakarta.

Kemudian, lanjut Bhima, pemerintah perlu memberikan insentif yang lebih besar dan jaminan kurs preferensial kepada pengusaha. Agar segera konversi dana hasil ekspornya langsung menjadi Rupiah.

"Sekarang baru 13 persen yang dikonversi ke Rupiah. Sisanya dalam bentuk valuta asing," ungkap Bhima.

Selain itu, dia juga mengatakan, pemerintah bisa mengambil jalan pintas atau quick win. Tawaran solusinya adalah mengurangi pungutan ekspor untuk Crude Palm Oil (CPO) sebesar US$50 mentah dan US$30 olahan, menjadi UD$20 per ton.

Saat ini, minyak sawit penyumbang devisa non migas terbesar. Adanya hambatan bea masuk ke India jadi persoalan yang buat kinerja ekspor CPO tidak optimal.

"Jika pungutan ekspor direlaksasi sementara daya dorong sawit diharapkan menekan defisit perdagangan dan kuatkan kurs Rupiah. Nantinya, saat sudah mulai stabil ekspornya pungutan ekspor CPO bisa dikenakan lagi," terang Bhima.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pihaknya dan Bank Indonesia akan melakukan pembauran kebijakan. Bekerja sama dengan BI maka Kementerian Keuangan akan menyesuaikan kebijakan-kebijakan yang akan diambil dengan penerapan yang dilakukan oleh BI.

"Pak Perry (Gubernur Bank Indonesia) juga sudah menyampaikan berkali-kali akan melakukan bauran kebijakan. Jadi, kami dengan BI terus melakukan hal tersebut, di mana BI mengelola nilai tukar dan dari sisi intervensi pemerintah melakukan penyesuaian melalui kebijakan-kebijakan," ujar Sri Mulyani dilansir dari Antara. 

Selain itu, menurut Sri Mulyani dinamika ekonomi AS yang meningkat tajam menyebabkan pelemahan banyak nilai tukar di sejumlah negara. Baik negara maju maupun berkembang terdampak penguatan Dolar AS.

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID