logo rilis
Rupiah Diprediksi 'Sekarat' ke Rp20 Ribu per Dolar AS, BI: Menguat Akhir Tahun
Kontributor
Nailin In Saroh
02 April 2020, 19:00 WIB
Rupiah Diprediksi 'Sekarat' ke Rp20 Ribu per Dolar AS, BI: Menguat Akhir Tahun
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. FOTO: RILIS.ID/Fajar Alim Mutaqin

RILIS.ID, Jakarta— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin hari kian merosot. Pada Kamis (2/4/2020), mata uang Garuda terkoreksi berada dikisaran Rp16.540 /US$ di pasar spot, melemah 0,61 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.

Kendati demikian, menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, nilai tukar rupiah pada saat ini masih di bawah nilai fundamentalnya. Kedepannya, kata dia rupiah akan cenderung stabil. 

"Bahwa kami memandang rupiah yang sekarang undervalue, dan ke depannya akan cenderung stabil bahkan menguat karena akan ada portfolio inflow yang lebih besar," ujarnya di Jakarta, Kamis (2/4/2020).

Perry mengatakan, pihaknya akan terus menstabilkan nilai tukar rupiah melalui triple intervention baik secara spot, DNDF, dan pembelian SBN dari pasar sekunder. 

"Dengan langkah bersama kami yakin nilai tukar rupiah tidak hanya stabil tapi bahkan menguat di Rp15.000 di akhir tahun ini," ungkapnya. 

Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, nilai tukar rupiah masih akan melemah dari level yang saat ini akibat pandemi COVID-19.  

Dalam skenario berat Sri Mulyani, nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp17.500/US$. Sementara dalam skenario sangat berat, nilai tukar rupiah bisa menembus level Rp20.000/US$.

"Kemungkinan terburuknya rupiah bisa mencapai 20.000/US$," kata Sri Mulyani dalam video conference, Rabu (1/4). Level ini jauh dari target yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 yang sebesar Rp14.400/US$.

Inflasi tahun ini juga diperkirakan akan meleset dari target. Dalam skenario berat Sri Mulyani, inflasi 2020 akan mencapai 3,9 persen dan skenario sangat berat inflasi akan tembus 5,1 persen.

Skenario berat harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di level US$ 38 per barel dan skenario sangat berat ICP berada di level US$ 31.

Adapun pertumbuhan ekonomi tahun ini, diperkirakan mencapai 2,3 persen dalam skenario berat. Bahkan, bisa turun alias negatif 0,4 persen, dalam skenario sangat berat akibat pendemi COVID-19.

Namun demikian, Sri Mulyani menegaskan bahwa ini merupakan skenario terburuk. Pemerintah berkomitmen akan terus menjaga stabilitas makro ekonomi.  “Ini akan diantisipasi agar tidak terjadi,” kata Sri Mulyani. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID