Rakyat - RILIS.ID
Rakyat
Mohammad Nasih
Rabu | 31/01/2018 14.43 WIB
Rakyat

RILIS.ID, – KATA rakyat, untuk menyebut warga negara, merupakan kata serapan dari Bahasa Arab, yang berarti gembalaan. Kata ini berbentuk lampau ra’â, berarti menggembala. Konsep rakyat tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam, karena konsep tersebut pernah dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sebuah sabdanya: “Setiap kalian adalah pemimpin (râ’in, penggembala), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat (ra’iyyah, gembalaan)-nya.” (HR. Bukhari: 2371).

Paradigma tentang rakyat yang ada dalam hadis ini adalah bahwa mereka harus mendapatkan arahan dan panduan dari pemimpin. Dalam konteks politik modern, arahan dan panduan itu berupa koridor yang membuat mereka mendapatkan kepastian meraih tujuan hidup, yaitu kebahagiaan. Dan kebahagiaan hakiki, sesungguhnya bukan di dunia ini, tetapi justru di akhirat. Sebab, hidup ini tidak hanya sekali sebagaimana dikatakan banyak orang karena kesalahpahaman dan paham yang salah, melainkan dua kali. Setelah kehidupan di dunia ini, akan ada kehidupan lagi di akhirat yang kekal, abadi. 

Alquran memberikan pernyataan yang sangat tegas bahwa kebanyakan orang adalah fasik, tidak menggunakan akal, tidak tahu, bodoh, tidak bersyukur, hanya mengikuti praduga, dan yang semacamnya. Kebanyakan orang itulah yang sesungguhnya merupakan representasi rakyat. Karena itu, diperlukan pemimpin-pemimpin yang mampu membuat koridor sebagai jalan hidup mereka, agar mereka selamat. Mereka tidak bisa dan karena itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, tanpa aturan yang bisa mengarahkan kehidupan mereka. 

Sebab, tanpa aturan yang jelas, mereka akan berbenturan satu sama lain dan mengakibatkan kekacauan. Dan secara bersamaan, aturan tersebut juga merupakan kebenaran yang berasal dari Allah Swt sebagai wujud iman dan takwa kepadanya. Jika rakyat sebuah negara beriman dan bertakwa kepada Allah akan memberikan barakah.

Jika sebaliknya, maka siksaanlah yang akan mereka terima. Terdapat banyak kisah di dalam Alquran yang mengisahkan tentang umat di masa lalu dan kemudian dihancurkan oleh Allah karena mereka menyekutukan Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya. Kehancuran Atlantik misalnya, disebut oleh Plato juga disebabkan oleh sikap tidak syukur penduduk buminya kepada Sang Pencipta.

Pemimpin ideal yang bisa membawa kepada keberkahan adalah pemimpin yang memiliki pemahaman yang baik kepada panduan Tuhan. Merekalah yang memiliki potensi untuk membangun hukum-hukum yang merupakan transformasi ajaran Allah.  Mereka itulah yang mampu untuk menolong rakyat untuk membangun kehidupan yang tidak hanya sejahtera, tetapi juga makmur. 

Menolong rakyat tidak cukup hanya dengan pangan, sandang dan papan, tetapi harus juga lengkap dengan menyelamatkan mereka dari pandangan-pandangan atau keyakinan yang sesat dan menyesatkan. Kesesatan keyakinan akan menyebabkan amal perbuatan yang baik menjadi sia-sia di sisi Tuhan, karena tidak diletakkan di atas fondasi yang kokoh. 

Amal yang sia-sia, menyebabkan pelakunya dianggap sebagai orang-orang yang merugi, karena seharusnya dengan amal kebaikan itu mendapatkan balasan, tetapi tidak mendapatkan balasan. Mereka yang beruntung adalah yang menjalankan amal saleh dengan fundamen iman yang benar kepada Allah dengan segala turunannya. Rakyat dengan iman dan takwa itulah yang akan menjadikan negara menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negara yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun). Wallahu a’lam bi al-shawab.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID