Prabowo Dinilai Lebih Prospek Pilih Gatot ketimbang Hasil Ijtimak Ulama - RILIS.ID
Prabowo Dinilai Lebih Prospek Pilih Gatot ketimbang Hasil Ijtimak Ulama
Zulhamdi Yahmin
Kamis | 02/08/2018 18.30 WIB
Prabowo Dinilai Lebih Prospek Pilih Gatot ketimbang Hasil Ijtimak Ulama
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. FOTO: RILIS.ID.

RILIS.ID, Jakarta – Dua nama kandidat cawapres hasil ijtimak ulama, yakni Ketua Dewan Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad, dianggap belum cukup mampu untuk mendongkrak elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Menurut Peneliti dari Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia (Formasi), Muhammad Taufik Rahman, justru dua nama lain, yakni mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih memiliki prospek sebagai cawapres Prabowo ketimbang dua nama hasil ijtimak ulama tersebut. 

"Salim Segaf dan Abdul Somad sementara ini belum punya prospek bagus untuk jadi cawapres. Elektabilitas dan popularitasnya rendah. Malah lebih rendah dibandingkan Gatot dan Anies," kata Taufik kepada rilis.id, Kamis (2/8/2018).

Taufik menilai, hasil ijtimak ulama tidak serius terkait munculnya nama Salim Segaf dan Somad. Dirinya menduga, dua nama itu direkomendasikan ke Prabowo hanya sebatas alat negosiasi untuk mendapatkan posisi bila Prabowo menang dalam Pilpres 2019 nanti. 

"Usulan sebagai cawapres ini tidak serius ditujukan untuk merebut posisi itu. Rekomendasi ini hanya akan dijadikan alat negosiasi. Seandainya ditolak oleh Prabowo, kompensasinya tentu juga menguntungkan," ujarnya.

Taufik mengungkapkan, nama-nama yang bermunculan saat ini, di antaranya Salim Segaf, Somad dan Komandan Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) belum tentu dipilih oleh Prabowo sebagai cawapres.

Pasalnya, ungkap dia, nama-nama itu dimunculkan hanya untuk meredam gejolak di internal partai politik koalisi pendukung mantan Danjen Kopassus tersebut. 

"Pernyataan Fadli Zon ini kelihatannya ditujukan untuk mendinginkan suasana koalisi yang agak galau gara-gara Partai Demokrat masuk. Suasana di koalisi menjadi kurang nyaman karena Demokrat jelas akan menawarkan AHY. Itu artinya, jatah cawapres yang dari awal diincar PKS akan bergeser," paparnya.

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID