Politisi Sontoloyo - RILIS.ID
Politisi Sontoloyo
Mohammad Nasih
Minggu | 28/10/2018 13.11 WIB
Politisi Sontoloyo
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, – FRASA “politisi sontoloyo” keluar dari mulut Presiden Jokowi. Latar belakangnya adalah kejengkelannya terhadap para politisi yang mengkritik kebijakannya tentang dana untuk kelurahan yang akan digelontorkan tahun depan. 

Tentu yang dimaksud sontoloyo oleh Jokowi bukan makna aslinya, yakni: tukang angon bebek; melainkan bodoh, lemah, tidak beres, atau konyol. Karena pergeseran semantik dalam waktu yang sangat panjang, makna asli kata sontoloyo nyaris tidak lagi dikenal oleh banyak orang, bahkan orang Jawa sekalipun. 

Siapa pun bisa berdebat tentang kepantasan seorang presiden yang merupakan kepala pemerintahan bahkan juga kepala negara mengucapkan kata-kata kasar itu di depan publik, terlebih alasannya adalah kejengkelan Jokowi. Namun, yang terpenting adalah bagaimana bisa negara ini dikelola oleh politisi sontoloyo, politisi yang bodoh, politisi yang lemah mental, politisi yang konyol, dan politisi yang tidak beres?   

Secara substansi apa yang dikatakan oleh Jokowi kali ini, dengan segala motifnya, ada benarnya. Menurut al-Ghazali, seorang filsuf muslim kenamaan, manusia terdiri atas empat kategori, yaitu: yang tahu dan tahu bahwa ia tahu, yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu, yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu, dan yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tidak tahu. 

Kategori yang pertama sangat positif, karena dia berilmu dan karena ilmunya itu ia tahu dan mau melaksanakan tanggung jawabnya sebagai orang yang tahu. Yang kedua negatif, karena dia memiliki sesuatu yang harus diajarkan, mengerti apa yang seharusnya ia lakukan, tetapi tidak mau melakukan tanggung jawab sebagai orang yang tahu. Yang ketiga positif, karena dia akan berusaha untuk belajar agar ia bisa berubah, dari tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan yang ketiga sangat negatif, karena selamanya akan menjadi sontoloyo, menyebarkan virus sontoloyo, dan bahkan bisa menyebabkan kerusakan.

Bagaimana asal mula sontoloyo bisa menjadi politisi? Inilah yang perlu kita bahas dan kita cari cara agar para sontoloyo tidak lagi memiliki jalan untuk memegang kendali kekuasaan. Sebab, para sontoloyo ini sungguh sangat berbahaya. Politisi sontoloyo tidak mengerti bagaimana sistem politik bekerja dengan segala implikasinya. Sangat mungkin, karena ketidaktahuan, para politisi sontoloyo membuat kebijakan politik yang membahayakan kedaulatan negara, merugikan rakyat, dan semacamnya, tetapi mereka tidak mampu menangkap implikasi kebijakan yang mereka buat itu.

Jalan strategis sontoloyo masuk ke dalam sistem politik bermula dari demokrasi ultraliberal bernama Pemilu secara langsung. Demokrasi langsung menyebabkan siapa pun, baik yang berpengetahuan maupun yang kurang pengetahuan, yang moralis maupun yang amoralis, yang waras maupun setengah waras, yang bersih maupun yang korup, memiliki hak suara yang sama, kecuali yang benar-benar sudah dicabut hak pilihnya oleh pengadilan. 

Dari sinilah para sontoloyo bermunculan, baik di lembaga legislatif maupun lembaga eksekutif. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah memiliki concern untuk mengurusi urusan publik, tiba-tiba terpilih menjadi pemimpin politik.  

Berdasarkan survei, mayoritas pemilih di Indonesia sesungguhnya masih dalam kategori sontoloyo. Sebab, berdasarkan data dari berbagai lembaga survei, tidak kurang dari 70 persen pemilih menjadikan praktik politik uang sebagai preferensi untuk memilih. Preferensi itu disebabkan mereka kurang mampu memahami bahwa politik sesungguhnya adalah membangun kebijakan untuk kebaikan bersama. 

Dalam konteks Indonesia yang didesain sebagai negara-bangsa yang religius berdasarkan Pancasila, kebaikan bersama itu tidak mungkin bisa dipahami kalau politisinya sontoloyo, tidak mengerti ajaran substansial agama dan juga ilmu pengetahuan dari masa lalu sama kontemporer. 

Namun, karena pemilih sontoloyo menganggap bahwa yang akan mereka pilih juga adalah sontoloyo, maka mereka meminta kompensasi atas suara mereka. Uang recehan pun cukup untuk mengganti suara mereka. Hanya karena jumlah pemilih yang memilih harus banyak agar politisi sontoloyo bisa benar-benar memenangkan kompetisi, maka mereka pun mengeluarkan dana dalam jumlah yang besar, bahkan terbilang sangat besar. Untuk memenangkan Pilkada, belasan bahkan puluhan miliar harus disiapkan untuk ditebar. 

Mereka yang berhasil duduk sebagai anggota DPR RI, rata-rata mengeluarkan dana tidak kurang dari Rp4 miliar. Politik tidak lagi pertarungan ide untuk membangun kebijakan berbasis kebijaksanaan, tetapi pertarungan untuk membuat kebijakan politik yang menguntungkan para pemilik kapital, bisa para bandar dan bisa juga politisi yang semula bandar kemudian terjun sendiri. Lalu rakyat diapakan? Mereka paham, bahwa pemilih sontoloyo sudah cukup dengan sekedar pencitraan.

Pemilih sontoloyo tidak bisa memahami ide dan kedalamannya. Mereka hanya bisa melihat sesuatu yang kasat mata, seperti bangunan-bangunan dengan tanpa tahu entah untuk siapa bangunan itu dibangun. Mereka akan menganggap sebuah lembaga pendidikan bonafid karena gedung-gedungnya yang megah, bukan para pendidiknya yang benar-benar mampu mengubah mentalitas sontoloyo menjadi mentalitas yang kuat. 

Itulah yang menyebabkan dua puluh tahun Indonesia mengalami reformasi, tetapi tidak kunjung mengalami kemajuan yang berarti. Tetap saja tertinggal dari negara-negara lain, bahkan yang dulu pernah “menyusu” kepada Indonesia. Sebab, jika pun dalam beberapa aspek Indonesia mengalami kemajuan, tetapi negara lain maju dengan percepatan yang jauh lebih tinggi. 

Sayangnya, partai politik yang berfungsi rekrutmen politik yang mestinya melakukan seleksi terhadap orang-orang yang layak dinominasikan, hanya mengikuti “kehendak pasar”. Sesungguhnya, walaupun sangat banyak jumlah pemilih sontoloyo, tetapi sesungguhnya sebagiannya bisa dicerdaskan dengan pendidikan politik yang optimal. Namun, partai politik tidak menjalankan secara optimal fungsi pendidikan politik ini. Sebab, partai politik juga dihuni oleh para aktivis yang tak kalah sontoloyo.
 
Para politisi sontoloyo tentu tidak akan pernah mengerti tentang apa yang seharusnya mereka kerjakan untuk menata negara. Mereka lebih senang mencari alasan dan kambing hitam yang dipersalahkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dan bisa jadi, untuk menghilangkan kesan sontoloyo pada diri sendiri, politisi akan mengatakan politisi lain adalah sontoloyo. Ibarat maling teriak maling. Wallahu a’lam bi al-shawab


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID