Peringati Satu Suro, Tiga Pusaka Ponorogo Diarak ke Makam Batoro Katong - RILIS.ID
Peringati Satu Suro, Tiga Pusaka Ponorogo Diarak ke Makam Batoro Katong
Budi Prasetyo
Senin | 10/09/2018 11.21 WIB
Peringati Satu Suro, Tiga Pusaka Ponorogo Diarak ke Makam Batoro Katong
Ritual adat malam satu suro. FOTO: RILIS.ID/Budi Prasetyo

RILIS.ID, Ponorogo – Lantunan kidung Kala Singgah terdengar bergema di pendopo kabupaten Ponorogo pada Minggu malam (9/9/2018). Beberapa saat kemudian, satu peleton bregada (prajurit) kerajaan, yang dipimpin seorang senopati, berjalan berbaris memasuki halaman. Secara bergiliran, para pasukan menerima kalung bunga melati dari Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni. 

Kemudian, para pasukan  menerima tiga pusaka  yakni sabuk cinde puspito, payung songsong tunggul wulung dan tombak tunggul nogo. Setelah didoakan, tiga pusaka itu lalu diarak ke makam Bataro Katong  di Desa Setono, Kecamatan Jenangan (Ponorogo Wetan). 

Ya,  itu adalah salah satu prosesi bedol pusaka di Ponorogo, yang digelar untuk memperingati tradisi suroan yang digelar Pemkab Ponorogo. 

"Pusaka itu akan diinapkan di makam Batoro Katong sebelum dijamas," kata Bahari, panitia pakasa Gebang Tinatar dari Paguyupan Keraton Surakarta. 

Dia mengatakan, para pembawa pusaka itu harus melakukan mlampah ratri (mlaku bisu) menuju makam, yang letaknya sekitar lima kilometer dari Pendopo Kabupaten Ponorogo. 

"Sebagai pengingat, pengiring akan menabuh kentongan agar mereka konsentrasi," tambahnya. 

Bahari menegaskan, para pengiring yang merupakan abdi dalem membawa pisang ayu, nasi kepal yang biasa disebut buceng kuat. 

"Buceng ini merupakan simbol kekuatan. Warga masyarakat Kabupaten Ponorogo pada umumnya memaknai sesajian buceng kuat ini mengandung sebuah harapan meminta keselamatan kepada Allah SWT," tambahnya. 

Sedangkan, bacaan kidung Kalasinggah dilantunkan sebagai sebuah doa penolak balak agar dijauhkan dari marabahaya. 

 "Segala marabahaya supaya sumingkir dan yang datang rahayu keselamatan," katanya.

Bupati Ipong mengatakan, prosesi bedol pusaka ini digelar sebagai salah satu rangkaian peringatan tahun baru islam. 

"Bedol Pusaka ini sudah menjadi tradisi yang digelar setiap `suroan` atau peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram," ujarnya. 

Menurut Ipong,  ketiga pusaka tersebut dipergunakan oleh pendahulunya untuk mempertahankan wilayah Ponorogo dari serangan penjajah.

Tiga pusaka ini dibedol ke Pasar Pon, yang dikenal sebagai kawasan kota lama Ponorogo. "Menurut sejarahnya, pemerintahan Ponorogo sebelum dipindahkan ke Pringgitaan yang sekarang saya tempati ini, dulu berpusat di Pasar Pon," katanya.

Menurut Ipong, dari catatan sejarah, yang menyebut Ibu Kota Kabupaten Ponorogo pada 1496 berpusat di Pasar Pon, sebelum kemudian dipindahkan ke Pringgitan pada 1738.

"Jejak keratonnya sekarang memang sudah tidak terlihat lagi di Pasar Pon. Tapi ada artefak bangunan masjid tua dan sebuah makam, yang menguatkan bahwa Pasar Pon adalah kota lama yang dulu pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo," pungkasnya. 

Editor Elvi R


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID