logo rilis
Penyuntikan Vaksin AstraZeneca di 7 Provinsi Dikebut karena Mendekati Masa Kadaluarsa
Kontributor
RILIS.ID
11 April 2021, 14:09 WIB
Penyuntikan Vaksin AstraZeneca di 7 Provinsi Dikebut karena Mendekati Masa Kadaluarsa
ILUSTRASI: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah mengeluarkan surat edaran bernomor HK.02.02/II/841/2021 tentang Informasi Mengenai Vaksin Covid-19 AstraZeneca.

SE yang ditandatangani oleh Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu tanggal 6 April 2021 itu ditujukan kepada kepala Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Dikutip dari laman resmi Kemenkes, vaksin AstraZeneca telah didistribusikan ke tujuh provinsi. Yakni Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Jakarta dan Maluku. Juga bagi TNI/Polri di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah mengimbau agar penggunaan vaksin tersebut dioptimalkan. Hal ini dilakukan karena mengingat masa kadaluarsa (expired rate) vaksin AstraZeneca pada 31 Mei nanti.

Karenanya penggunaan vaksin bagi TNI/Polri, lansia, petugas pelayanan publik di tujuh provinsi yang telah menerima alokasi vaksin AstraZeneca tahap pertama ditarget rampung sebelum 31 Mei.

Vaksin tersebut diberikan kepada sasaran dengan usia minimal 18 tahun sebanyak dua dosis dengan O,5 ml setiap dosisnya secara intramuscular dengan interval 8-12 minggu dari dosis pertama.

Surat edaran itu juga menginformasikan beberapa kondisi yang menjadi kontraindikasi vaksin AstraZeneca. Seperti alergi terhadap vaksin atau komponen vaksin dan riwayat alergi berat (syok anafilaksis) pada pemberian dosis pertama.

Sementara, Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi (KIPI) bersifat ringan seperti pusing, mual, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), nyeri di tempat suntikan, kelelahan, malaise, dan demam.

Namun apabila keluhan berlanjut, Kemenkes menyarankan kepada peserta vaksinasi untuk segera menghubungi petugas kesehatan atau bisa langsung datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam surat edaran itu dijelaskan vaksin AstraZeneca adalah vaksin vektor adenoviral (rekombinan) yaitu mengandung virus flu biasa yang telah dimodifikasi sehingga tidak dapat bereplikasi/berkembang di dalam tubuh manusia, tetapi dapat menimbulkan respon kekebalan terhadap Covid-19.

BPOM telah menerbitkan Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin AstraZeneca pada tanggal 22 Februari bernomor EUA2158100143A1.

Dengan demikian, BPOM telah menjamin bahwa vaksin AstraZeneca aman dan berkualitas. Ditambah Fatwa MUI menyatakan bahwa penggunaan vaksin AstraZeneca bersifat mubah atau diperbolehkan.

Selain itu, Indonesia juga mendapatkan dukungan vaksin AstraZeneca dari Covax Facility. Vaksin tersebut telah mendapatkan WHO Emergency Use Listing (EUL).

Sebanyak 1,1juta vaksin AstraZeneca produksi SK Bioscience Co, Ltd, Republic of Korea telah tiba di Indonesia, yang merupakan dukungan COVAX Facility. COVAX adalah sebuah inisiatif global untuk memberikan akses setara bagi seluruh masyarakat di dunia dalam mendapatkan vaksin Covid-19.

Berdasarkan rekomendasi WHO pada 16 Maret 2021, disebutkan bahwa efikasi vaksin AstraZeneca terbaik didapatkan pada interval pemberian vaksin 12 minggu dengan 76 persen.

Kemenkes juga melaporkan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang dimulai sejak 13 Januari 2021 menargetkan sasaran 181,5 juta orang. (*)

Editor: Segan Simanjuntak


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID