logo rilis
Penyakit LGBT
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
24 Januari 2018, 21:57 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Penyakit LGBT

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) adalah pengidap penyakit. Dan tidak hanya itu, penyakit yang mereka idap itu bisa menular kepada siapa saja yang tidak memiliki daya tahan yang cukup. Daya tahan yang dimaksud adalah daya tahan dalam pengertian yang sangat luas, bisa daya tahan tubuh untuk menghadapi orang yang bertindak jahat pada awalnya, sampai kepada daya tahan iman yang menyebabkan sikap dan perilaku sekedar coba-coba dan ikut-ikutan lalu terbawa arus.

Agar penyakit tersebut tidak nampak sebagai penyakit, oleh para pengidapnya diusahakan untuk ditularkan dengan berbagai macam cara, terutama dengan cara yang sangat halus, mempengaruhi cara berpikir dan gaya hidup anak-anak muda. Dan untuk mempermudah proses penularan tersebut, mereka berusaha untuk membuat lembaga-lembaga penentu kebijakan politik agar memberikan ruang kepada komunitas mereka. Jika kebijakan politik tidak menyasar LGBT dengan hukuman, maka mereka akan mudah untuk menyebarkan penyakit yang sangat membahayakan itu.

Baca Juga

Penyakit LGBT membahayakan karena tiga hal: Pertama, tidak sesuai dengan ajaran agama. Bisa dikatakan bahwa semua agama melarang hubungan sesama jenis. Islam terutama secara tegas bahkan menyatakan bahwa perilaku menyimpang seksual ini telah menyebabkan murka Allah yang menyebabkan ummat Nabi Luth yang tinggal di Sodom dibinasakan dengan gempa bumi dahsyat dan hujan batu yang mengerikan. Namun, ada pula pembela LGBT dengan menjadikan QS. Al-Nur: 31 sebagai dalil bahwa perilaku homo dan lesbi bukanlah sesuatu yang dilarang, setidaknya larangan itu tidak tegas. Mereka menarik pemahaman secara sembrono, jauh dari keluasan analisa Al-Qur’an yang memang harus melibatkan ayat-ayat yang lain, di antaranya tentang tujuan pernikahan adalah untuk melahirkan generasi yang akan meneruskan kehidupan di dunia ini untuk beribadah kepada Allah.

Kedua, tidak sesuai dengan Pancasila. Ini sesungguhnya merupakan konsekuensi semata. Jika LGBT bertentangan dengan ajaran agama, maka tentu saja secara otomatis bertentangan dengan Pancasila. Sebab, Pancasila sesungguhnya hanyalah titik temu berbagai agama yang diakui di Indonesia. Karena bertentangan dengan Pancasila, maka sampai kapan pun, mestinya tidak ada lagi pembahasan tentang LGBT untuk memberikan celah legalisasi. Jika pun ada pembahasan, maka yang harus dilakukan adalah mengatur hukuman yang bisa membuat siapa pun menghindarinya.

Ketiga, fakta ilmiah menunjukkan bahwa LGBT bisa menyebabkan penyakit menular seks yang sangat membahayakan. Bahkan terdapat penelitian yang menyatakan bahwa potensi pelaku tindakan seks menyimpang ini terkena HIV/AIDS sampai 6000%. Jika potensi penyakit ikutannya besar, maka negara memiliki tugas untuk melindungi segenap rakyatnya agar terhindar dari bahaya penyakit yang mengintai.  

Namun, penyebaran penyakit ini berkait sangat erat dengan eksistensi kelompok LGBT yang sudah ada. Agar keberadaan mereka makin diakui, maka usaha untuk mendapatkan ruang hidup terus mereka perjuangkan. Bahkan walaupun dengan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Dan untuk mempercepat perluasan ruang bagi mereka, legitimasi politik sangat mereka perlukan.

Jika banyak negara, di antaranya Amerika telah menjadi sasaran pelegalan LGBT, maka bukan tidak mungkin Indonesia adalah target berikutnya. Karena itu, lontaran Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, harus dijadikan sebagai momentum untuk benar-benar mengantisipasi agar jangan sampai LGBT mendapatkan celah legitimasi politik. Sedikit saja LGBT mendapatkan celah untuk berkembang, maka akan sangat membahayakan.

Jika pun tidak ada legalisasi LGBT, para orang tua tetap harus meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga anak-anak. Jika pada zaman dahulu para orang tua cukup dengan mengkhawatirkan anak-anak perempuan, maka  kini mereka harus meningkatkan kewaspadaan kepada anak-anak lelaki mereka. Sebab, LGBT bisa memangsa anak-anak dengan jenis kelamin apa pun, tanpa pandang bulu.

Akhirnya, negara-bangsa yang religius ini jangan sampai kecolongan oleh kelompok-kelompok liberal yang senantiasa ingin menggerus karakter religius negara ini dengan berbagai macam cara. Skenario sangat halus untuk melegalkan LGBT harus benar-benar menjadi pelajaran kepada kita semua untuk mencermati secara jeli dan teliti, agar tidak ada penyesalan di masa yang akan datang. Wallahu ‘alam bi al-shawab.


#LGBT
#Pancasila
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID