Penggunaan Meningkat saat Pandemi, Legislator PKS Minta Pemerintah Gratiskan Internet - RILIS.ID
Penggunaan Meningkat saat Pandemi, Legislator PKS Minta Pemerintah Gratiskan Internet
Nailin In Saroh
Senin | 22/06/2020 20.02 WIB
Penggunaan Meningkat saat Pandemi, Legislator PKS Minta Pemerintah Gratiskan Internet
Anggota Komisi I DPR Fraksi PKS, Sukamta. FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Sukamta, mengatakan bahwa akses internet menjadi andalan semua kegiatan di masa pandemi seperti sekarang ini. Bahkan kata dia, anggaran rumah tangga untuk biaya internet bisa jadi sudah melebihi anggaran untuk makan dan transportasi.

Sukamta mendorong agar pemerintah mempermudah akses dan mempermurah biaya internet, sebab para pekerja sebagian masih melakukan working from home (WFH) meski beberapa sudah mulai bertahap untuk working from office (WFO). Kemudian, anak-anak pun belum diperbolehan belajar di sekolah secara fisik, sehingga harus belajar via online (SFH). 

"Saya mendorong kepada pemerintah agar internet terjangkau dari segi harga dan cakupan wilayahnya,” ujar Sukamta dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/6/2020).

Lebih lanjut, Wakil Ketua Fraksi PKS ini menjelaskan, internet terjangkau dari segi harga maksudnya adalah adanya keberpihakan negara khususnya bagi masyarakat kecil, pengemudi ojek online, UMKM. Negara, saran dia, sebisa mungkin menggratiskan internet atau jika tidak bisa, setidaknya mengurangi biaya internet. 

"Berilah subsidi internet utamanya kepada anak-anak sekolah, UMKM dan pengemudi ojek online. Negara perlu berpihak khususnya mereka agar meringankan pengeluaran internet ketika pendapatan sedang turun dan negara tidak bisa memberikan BLT kepada mereka," kata Sukamta. 

Selain itu, Sukamta juga meminta pemerintah menjamin internet terjangkau dari segi cakupan wilayah sinyalnya agar daerah bisa akses internet.

Seperti diketahui, data Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menyebutkan penggunaan internet pada masa pandemi COVID-19 ini meningkat hingga 443 persen. Namun sayangnya masih ada 12.548 desa yang belum bisa mengakses internet dengan baik.

"Sampai saat ini banyak daerah yang belum terjangkau internet. Ada siswa SMP yang harus jalan kaki 2,5 km supaya bisa dapat sinyal internet. Juga tidak boleh dilupakan internet untuk pesantren daerah terpencil. Semoga program seperti Palapa Ring bisa menjadi jawaban atas masalah ini," ungkapnya.

Saat ini, tambah Sukamta, internet provider sudah lebih dari BEP (break even point) sehingga seharusnya bisa sharing beban. "Mereka mengurangi keuntungannya dan pemerintah memberikan subsidi untuk internet ini," harapnya.

Disisi yang lain, kata dia, pemerintah juga perlu memperhatikan terkait keterjangkauan harga pulsa internet yang dirasakan masih mahal.

"(Bayangkan) berapa kuota yang habis untuk tayangan iklan? Begitu pula berapa banyak dana iklan yang disedot facebook dan platform lainnya dari Indonesia sementara mereka tidak membayar pajak?," katanya. 

Untuk informasi, sambung dia, ada dua tipe iklan di facebook, kelas tertinggi ada 70 ribu pengiklan dari seluruh dunia yang membayar US$ 5000 US per hari, itu sama dengan Rp5250 triliun. Belum lagi iklan di bawahnya dari seluruh dunia.

"Kalau pengguna yang dari Indonesia saja misalkan ada 5 persen-nya, maka itu senilai Rp215 triliun. Sayangnya dengan simulasi penghasilan sebesar itu mereka tidak membayar pajak, sehingga secara nasional sebetulnya bangsa kita dirugikan, dan ini sangat kita rasakan ketika bangsa ini sedang butuh anggaran seperti dalam masa pandemi ini,” pungkas wakil rakyat dari Daerah Istimewa Yogyakarta itu. 

 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID