logo rilis
Pencoleng Sejarah
kontributor kontributor
Arif Budiman
30 Agustus 2017, 23:19 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Pencoleng Sejarah

Sejarah dalam pemahaman banyak orang dipahami secara sederhana sebagai segala peristiwa yang terjadi di masa lalu. Masa kecilnya orang dewasa, saat rebungnya batang bambu, waktu ulatnya kupu-kupu, termasuk satu detik yang telah berlalu. Namun, karena alasan tertentu, tidak semua peristiwa kemudian dikenal sebagai penanda zaman. Hanya kejadian-kejadian besar yang dibicarakan, dicatat, dan diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Pemilihan peristiwa untuk dicatat, diperingati, dan diceritakan tidak pernah bebas nilai. Semuanya mengandung kepentingan. Tak terkecuali holocaust, pendaratan pertama manusia di bulan, peringatan hari kemerdekaan, bahkan perayaan hari kelahiran seseorang. Ada tujuan reproduksi trauma dalam holocaust, ada maksud demonstrasi superioritas pada pendaratan pertama manusia di bulan, ada motif reaktualisasi nasionalisme dalam peringatan hari kemerdekaan, pun niatan revitalisasi gagasan dan solidaritas dalam perayaan hari kelahiran seseorang. 

Baca Juga

Sejak kepentingan melekat bersamanya, kejujuran dalam menampilkan wajah sejarah telah menjadi sesuatu yang langka. Otentisitas berubah bias. Fakta digelar hanya jika sesuai dengan selera. Culas menggantikan proporsionalitas. Pengamanan terhadap penguasaan ekonomi, politik, dan budaya menjadi tujuan utama.  

Akibatnya, keutuhan sejarah menjadi sirna. Tersisa penggalan-penggalan yang ditampilkan secara suka-suka. Sebagian ditonjolkan secara berlebihan, sementara sebagian yang lain disembunyikan, bahkan dihilangkan. Pelaku tak ubahnya para astronom palsu, yang mengumbar cerita bahwa cahaya gemintang bersumber dari dirinya sendiri, tanpa kredit kepada matahari.

Setiap kita punya sejarah. Rangkaian sikap dan tindak, rekaman kegagalan dan prestasi, jejak pemikiran dan gagasan, semua menjadi bagian yang melekat pada peralihan ruang dan gerak waktu diri masing-masing. Dalam konteks interaksi sosial berkesinambungan (continuous social interaction), semuanya menjadi saling berkelindan. Wajah sejarah tak terbentuk dari satu bahan, tetapi merupakan kumpulan potongan puzzle yang saling berkaitan, dengan bentuk dan ukuran yang saling berhubungan. Penyatuan itu pada akhirnya menghasilkan wajah sejarah sebagaimana yang dikehendaki dan disaksikan.

Inilah realitas sejarah dengan kejujurannya. Oleh karena itu, manakala ada pengaburan fakta, pemotongan ruang dan waktu, klaim superioritas kontribusi dalam pembentukan wajah sejarah maka sesungguhnya pelakunya itu tak lebih dari para pencopet, pencuri, dan penjambret. Mereka itulah para pencoleng sejarah.


#sejarah
#semburat
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID