Pembatasan Sosial Berskala Besar dari Selatan Jakarta - RILIS.ID
Pembatasan Sosial Berskala Besar dari Selatan Jakarta
Elvi R
Jumat | 10/04/2020 11.10 WIB
Pembatasan Sosial Berskala Besar dari Selatan Jakarta
Jalan Raya Tanjung Barat sepi saar PSBB. FOTO: RILIS.ID/Elvi R

RILIS.ID, Jakarta – Pukul 09:00WIB merupakan waktu paling padat di selatan Jakarta. Perbatasan Depok dan Jakarta merupakan daerah yang selalu dilintasi puluhan ribu orang, baik pekerja, karyawan swasta dan lainnya. 

Namun, hari pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jumat (10/4/2020) tim  rilis.id  mencoba menelusuri jalan-jalan di selatan Jakarta. Jalan Raya Lenteng Agung hingga Jalan Raya Pasar Minggu nampak lengang. Tak seperti hari biasanya yang sangat padat dan macet, hari ini kendaraan yang berlalu-lalang bisa dihitung dengan jari.

Tak hanya jalanan, pasar sayur di Pasar Minggu pun tak terlihat geliatnya. Meski pedagang membuka lapak, namun pembeli sangat sepi, meskipun ramadan tinggal menghitung hari.

"Saya dari subuh jualan sampai jam 10:00WIB ini baru dapat Rp18 ribu. Biasanya sudah dapat ratusan ribu," ujar Suminah dengan pasrah.

Penjual rempah dan bawang ini mengeluhkan keadaan sepinya Jakarta sejak terjadinya pendemi COVID-19. Menurutnya, keadaan cukup sepi terjadi hari ini dan ketika COVID-19 pertama kali ditemukan di Indonesia.

Lain Suminah, lain Jarwo. Pedagang tempe itu mengaku terus merugi akibat dagangannya tak laku. Sering tidak habis karena sejak subuh baru satu pembeli yang menghampiri lapaknya. 

"Kalau enggak laku ya sudah risiko. Ini jualan sampai jam dua siang saja, sepi banget," ungkapnya.

Sementara itu, di bagian depan pasar nampak jejeran toko mas tutup. Hanya dua toko mas yang masih buka untuk menjajakan dagangannya. 

Penuturan Koko panggilan Sang pemilik toko, bukan membeli emas. Akhir-akhir ini masyarakat justru hanya menjual perhiasan mereka.

"Sekarang orang enggak pada beli, mereka jual," katanya.

Koko mengaku membuka toko lantaran memberikan fasilitas kepada masyarakat jika ingin menjual perhiasannya. Pasalnya, dia sangat paham emas adalah salah satu jenis investasi masyarakat.

"Kita mau enggak buka kasihan orang. Mereka butuh uang dan mau jual emas. Namanya kita jualan kan harus bisa kasih pelayanan meski COVID-19," ujar Koko.

Setiap pelanggan toko pun diwajibkan memakai hand sanitizer yang disediakan toko. Parkiran Pasar Minggu Jakarta Selatan pun nampak sepi. 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID