logo rilis
Paradoks Ajaran Teroris vs Islam
kontributor kontributor
Taruna Ikrar
08 Juni 2017, 14:55 WIB
Professor & Dean, Biomedical Sciences, National Health University, California, USA.
Paradoks Ajaran Teroris vs Islam

Akhir-akhir ini media massa internasional, nasional dan bahkan domestik, dipenuhi berita tentang berbagai Aksi teror yang terjadi diberbagai belahan dunia. Seperti aksi teror yang terjadi di Inggris, Francis, Jerman, Amerika, hingga yang terakhir terjadi di Kampung Melayu, Jakarta Indonesia. Di mana kesemua aksi teror tersebut didalangi oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Hal ini diakibatkan, oleh sikap radikal yang sangat tidak masuk akal, dan mencederai perasaan kita sebagai manusia, dan tentu saja melukai rasa keadilan dan keyakinan umat Islam dunia.

Padahal dalam konteks ke-Islam-an, sangat jelas perintah Rasulullah Muhammad SAW, yang mengajarkan dan mempraktikkan bahwa Islam adalah agama yang damai, agama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dan menghormati umat manusia secara keseluruhan.

Baca Juga

Dalam konteks tersebut, ada dua ajaran Islam yang sangat kuat, yang tercantum dalam Alquran, dan diperkuat oleh Hadits Rasulullah. Ajaran tersebut, bahwa Islam adalah rahmatan lil'alamin (rahmat bagi alam semesta), dan laa ikrahafiddiin (tidak ada paksaan dalam memeluk agama). 

Umat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil'alamin, sebab ajaran ini telah dinyatakan oleh Alquran: "Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil'alamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS Al Anbiya': 107). Penafsiran di atas diperkuat dengan hadits shahih yang menegaskan bahwa rahmatan lil-’alamin telah menjadi karakteristik Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam dakwahnya.

Sebagai contoh: Ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendoakan keburukan bagi orang-orang Musyrik, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: "Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim). Demikian pula diperkuat dengan ayat berikutnya: "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia secara keseluruhan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (basyiiran wa nadziiran)" (QS. Saba: 28).

Bahkan, telah tercatat dalam sejarah bahwa, selama masa hidup Rasulullah sebagai pembawa risalah Islam, senantiasa mengajarkan kasih sayang, kelembutan, dan persahabatan, serta menjauhkan diri dari sikap arogan, sombong, dan perilaku yang melakukan perusakan di muka bumi.

Rasulullah bahkan berpesan, tidaklah diterima iman seorang muslim, sehingga mereka memperlakukan tetangga dan orang di sekitarnya, hingga tetangganya merasakan kedamaian. Karena ajaran utama Islam adalah damai dan menyejukkan. Adapun, ajaran jihad dalam Islam, adalah upaya mempertahankan diri dan membela kebenaran, bukan justru membunuh sesama umat manusia dengan sangat kejam dan keji. Karena pada prinsipnya pembunuhan dalam Islam, merupakan dosa besar yang sangat dilarang.

Kondisi ajaran Islam, sangat bertentangan dan paradoks, dengan sikap dan ajaran yang ditampilkan oleh ISIS. Mereka melakukan tindakan yang sangat janggal, dan berlawanan dengan sikap yang diajarkan oleh Muhammad, karena mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan muslim. Fakta tersebut dapat dilihat dari sikap yang dilakukan oleh ISIS, sebagai berikut: 

ISIS telah membunuh dengan cara sadis. Sekitar ribuan muslim dibasmi oleh ISIS tanpa ampun. Padahal telah jelas dikatakan di Alquran bahwa kematian satu orang yang tidak bersalah sama saja seperti kematian seluruh dunia. Di antara 1.500 orang tersebut, banyak sekali pemuka agama dan orang-orang yang jelas-jelas bersyahadat, namun tetap mereka membunuhnya. 

Merusak situs dan peninggalan sejarah Islam, tidak terhitung berapa situs bersejarah yang dirusak oleh ISIS. Membunuh anak-anak, dan perempuan yang tak bersalah, serta melakukan tukar menukar tawanan perempuan, seperti memperjualbelikan wanita. Padahal wanita harus dihargai dan dilindungi, walaupun agama dan keyakinannya berbeda, dan masih banyak lagi tindakan, yang secara prinsipnya bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Kalau demikian, apa yang menjadi motif dan tujuan dari gerakan tersebut? Apakah murni untuk membela Islam dan memperjuangkan kebenaran agama Ilahi, atau ada maksud lain, di luar dari tujuan mulia tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu kita harus melihat, sikap dan ajaran ISIS dalam bersikap, demikian pula perlu melihat latar belakang munculnya gerakan ini.

Berdasarkan sikap dan perilaku yang dijalankan, nampaknya justru berlawanan atau paradoks dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Demikian pula kalau berlandaskan historinya, atau sejarah munculnya gerakan ini, akan nampak borok yang sebenarnya.

Sebenarnya berdasarkan sejarah munculnya gerakan ISIS, merupakan akibat dari kondisi Negara Irak dan Suriah yang tidak stabil. Demikian pula akibat banyaknya pemberontakan dan akibat kejatuhan rezim Saddan Husein serta ketidakpuasan terhadap presiden Assad. 

Menurut para ahli dan masyarakat Suriah dan Irak, para pemimpin ISIS merupakan mantan perwira Irak di zaman Saddam Husain, termasuk para anggota komite militer dan keamanan, serta sebagian besar para amir dan pangeran Irak. Para mantan perwira itu membawa keahlian militer dan sejumlah agenda dari mantan orang-orang Partai Baath ke ISIS. 

Bahkan fakta menunjukkan, bahwa kekejaman rezim Baath Saddam Hussein, yang berawal dari pembubaran tentara Irak setelah invasi pimpinan AS tahun 2003, pemberontakan yang terjadi setelah itu, dan marginalisasi kaum Sunni Irak oleh pemerintah yang didominasi Syiah, semuanya saling terkait dengan munculnya ISIS, sehingga kondisi Irak dan Suriah semakin runyam dan kompleks.

Pasukan ISIS merupakan pemberontakan yang tumbuh di Irak dan kelompok itu terkait dengan Irak, setelah kejatuhan Saddam Husain, diperkirakan sebanyak 400.000 anggota tentara Irak yang telah dikalahkan kemudian dipecat. Tunjangan pensiunnya tidak dibayarkan, serta mengalami penghakiman politik, dari rezim yang sedang berkuasa.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka sangat jelas, gerakan ISIS sangat paradoks dengan gerakan yang diajarkan Rasulullah. Demikian pula ideologi, motivasi dan tujuan utama ISIS adalah kekuasan dan kepemimpinan di Suriah dan Irak, bukan murni tujuan mulia ajaran Islam.

Akhirnya, sangat ironis jika masih banyak umat Islam Indonesia yang ingin bergabung dengan gerakan yang tujuan utamanya kekuasaan dan politik. Wallahu alam bissawab, hanya Allah SWT yang paling tahu kondisi nyata yang sedang terjadi di Jazirah Suriah dan Irak tersebut, sembari berdoa semoga kondisi itu segera berakhir. Dan siapapun yang bersalah harus mendapat hukuman yang setimpal.


#taruna ikrar
#lentera
#islam
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID