logo rilis
Panen Padi dan Ikan di Lahan Tergenang Kalimantan Tengah
Kontributor
Elvi R
22 April 2020, 14:37 WIB
Panen Padi dan Ikan di Lahan Tergenang Kalimantan Tengah
Panen Padi dan Ikan di Lahan Tergenang Kalimantan Tengah. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Barito Utara— Musim panen kali ini di Kalimantan Tengah tidak hanya terjadi di lahan sawah irigasi, rawa pasang surut, rawa lebak dan lahan kering, tetapi juga di lahan sawah yang tergenang air tinggi.  Sehingga, pilihan menyegerakan panen harus dilakukan untuk mewaspadai gagal panen setelah terendam genangan air.   

Situasi ini terjadi di kelurahan Montallat II kecamatan Montallat, Kabupaten Barito Utara. Lahan yang luasnya lebih 32 hektare di desa tersebut tergenang dengan ketinggian air 70-95 sentimeter akibat banjir dari hulu sungai Barito sejak seminggu menjelang panen. Ancaman kegagalan panen sudah mencemaskan petani, tetapi beruntungnya di wilayah tersebut sawah ditanami varietas Inpari 30 benih dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah. Sehingga petani bisa melakukan panen pada 18 April 2020.

Dibilang beruntung, karena varietas tersebut dikenal sebagai jenis padi yang lebih tahan pada cekaman genangan air hingga panen tetap bisa dilakukan walaupun malai telah tergenang air selama 9 hari.  Fakta tersebut diungkapkan Yatmo, baru-baru ini melalui sambungan telepon.

“Inpari 30 ini dapat tumbuh berkembang di lahan sawah petani yang mempunyai sistem drainase kurang baik atau sering tergenang," ujarnya. 

Dengan kondisi ini, petani di Desa Montalat kerapkali melakukan budidaya mina padi. Menurut mereka  varietas padi Inpari-30 mampu tumbuh baik pada tipologi lahan di wilayah tersebut. Selain itu, ada yang unik di areal pertanaman padi desa ini, kondisi genangan menjadi habitat yang baik bagi ikan-ikan sungai berkembang di lahan sawah.

Saat luapan banjir sungai Barito, ikan bermigrasi ke lahan-lahan sawah atau kontur lahan yang lebih rendah.  Pada saat musim panen seperti saat ini, selain padi petani juga bisa memanen ikan. Tidak ada alat panen khusus yang dapat digunakan oleh petani di lahan yang tergenang air, kecuali sabit. 

Cara memanennya pun belum ada alat yang dapat menghindarkan bulir agar tidak basah, kecuali melakukan dengan penuh kehati-hatian. Untuk mengeringkan hasil panen juga, secara sederhana petani menjemurnya di sepanjang jempatan yang ada di sekitar lahan mereka. Setelah itu mereka baru mengangkut dan merontokannya.  

Faham akan kondisi dan kebutuhan wilayah, sejak 2014 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui BPTP Kalteng telah mendiseminasikan beberapa Varietas Unggul Baru (VUB) padi irigasi dan padi ladang/gogo di kabupaten Barito Utara. Diantaranya yang cukup berkembang adalah  varietas Inpari 30 yang memiliki potensi hasil tinggi rata-rata sampai dengan 7,2 ton per hektare serta tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik. 

Kepala BPTP Kalteng, Dr. Syamsuddin ketika diwawancara di tempat terpisah mengatakan Balitbangtan Kementan melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) telah menghasilkan lebih dari 300 VUB padi Inbrida dan Hibrida. Perakitan VUB disesuaikan dengan prevelensi rasa nasi masyarakat dan kondisi lingkungan tumbuh yang ada di Indonesia. “Sementara di Desa Montallat ini kita terapkan varietas dan teknologi lainnya yang sesuai dengan karakteristik spesifik lokasi lahan disini," tambahnya.

Hal tersebut senada dengan arahan Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry yang terus menginstruksikan kepada UK/UPT Badan Litbang Pertanian untuk melakukan diseminasi dalam skala luas dan dapat menjangkau petani di seluruh Indonesia. "Utamanya bagaimana mengoptimalkan peran UPBS (Unit Pengelola Benih Sumber) di seluruh BPTP Balitbangtan," ungkap Fadjry dalam sebuah rilis.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kab. Barito Utara, Setia Budi saat dihubungi menyebutkan, panen kali ini adalah panen yang penuh berkah, karena terjadi di tengah adanya wabah corona virus, dan hasil padi yang diperoleh wargapun cukup baik yakni 3,3 ton per hektare untuk tanaman padi yang tergenang banjir. "Selain itu panen kali ini terjadi di mana-mana termasuk di lahan kering yang dominan di kab. Barito Utara", imbuhnya.

Menurutnya saat ini lahan sawah disekitar alur DAS Barito terdapat ratusan hektare sawah seperti Kecamatan Montallat yang terancam gagal panen karena genangan.  “Walaupun para petani ini sudah masuk dalam Asuransi Usaha Tani Padi dan dapat pergantian (asuransi) jika mengalami gagal panen, akan tetapi kerugian kita adalah produksi padi kita untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ikut hilang, ” ungkap Setia Budi.

Lebih lanjut dikatakan, Kalimantan Tengah memiliki luas lahan kering 7,7 juta hektare dimana diantaranya merupakan lahan kering yang berada di Barito Utara dan berpotensi dikembangkan dalam rangka meningkatkan produksi pertanian. “Selain itu  teknologi mina padi di lahan sawah irigasi ini dapat menjadi solusi tambahan pendapatan petani di saat covid-19," tutupnya.


 

Sumber: Susilawati/Dedy Irwandi/BPTP Kalteng/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID