logo rilis
Pancasilakah Kita?
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
05 Juli 2017, 20:17 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Pancasilakah Kita?

Setelah UKP PIP diresmikan presiden dan dilantik pengurusnya, saya selaku warga negara berucap, “Amicus indonesia, sed magis amica veritas (saya senang indonesia tetapi saya lebih senang kebenaran).” Maksudnya, saya bangga dengan kesadaran pemerintah soal Pancasila, tetapi lebih takjub jika Pancasila direalisasikan, oleh kita semua. Dan, itu harus dimulai oleh elite Pemerintah.

Pertanyaan selanjutnya adalah, "Apa itu kebenaran ala Indonesia?"

Baca Juga

Mari kita cek satu-satu berdasar bacaan yang relatif reflektif plus proyektif. Indonesia purba adalah peradaban Atlantik. Indonesia masa lalu adalah kejayaan Nusantara. Indonesia masa kini adalah republik yang kehilangan banyak kesempatan emas. Indonesia masa depan, tergantung kita dalam mewarnainya.

Agar tak paria, mari kita tempatkan indonesia sebagai seperangkat metode memahami masa lalu, masa kini dan masa depan secara seimbang, kritis dan progresif. Bukan tujuan dan akhir dari segala. Sebab, jika dijadikan tujuan dan akhir kehidupan maka akan banyak orang berindonesia tersesat. Mengapa tersesat? Karena mereka mengaborsi masa depan, membunuh masa kini dengan menghidupkan masa lalu.

Tanpa usaha menempatkan indonesia sebagai alat untuk memahami 3 masa, jangan harap diri kita dan bangsa ini punya derajat dan martabat. Lembaga UKP PIP ini hadir saat tepat untuk bertobat. Atas indonesia yang telah membuat melarat. Yang mewariskan utang dan tipu-tipu seakan-akan pilihan suci. Yang menjadi surga Ekonom Neolib melacurkan diri berkali-kali.

Jadi, apa kebenaran indonesia? Saya pinjam tesis Mochtar Lubis untuk menjawabnya. "Saya sudah tahu semenjak semula bahwa menjadi Indonesia adalah menjadi jalan yang tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya.

Di mana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan. Yaitu perjuangan menegakkan Pancasila.

Ya. Menegakkan Pancasila. Bukan hanya menjalankan. Lihat kata Nabi Muhammad, "tegakkan salat." Jika kita mampu tegakkan Pancasila di Republik kita, maka kisah setrilyun tahun setelah kepergian Indonesia adalah kisah bangsa Sang Rasul (utusan alam raya) dan novel Sang Nabi (jejak negeri idaman).

Dalam sebuah "baldah toyyibah wal 'adalah" maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan penghuninya ketika ajal tiba. Mereka yang membaca sejarahmu akan bangga mengenalmu: bersedih karena kebodohanmu, takjub akan keberhasilanmu, ingin meniru akan semua prestasimu. Seolah negeri ini Negeri Penghasil Rasul dan Produsen Nabi yang kemarin ada di sini: bersenda gurau tetapi esok tiada lagi.

Jadi, apa itu peradaban Pancasila? Adalah tempat di mana para Rasul disemai dan para Nabi diproduksi dengan kesadaran to born to holy war. Merekalah pasukan Revolusi Pancasila yang merealisasikan perubahan mendasar secara akseleratif: melibatkan revolusi material (sila ke-5), revolusi kultural (sila ke-1,2,3) dan revolusi politikal (sila ke-4). Revolusi material diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran, berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong royong) dan penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Revolusi kultural diarahkan untuk menciptakan masyarakat religius yang berprikemanusiaan, egaliter, mandiri, amanah dan terbebas dari berhala materialisme-hedonisme, serta sanggup menjalin persatuan dengan semangat pelayanan.

Revolusi politikal diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk integrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan yang berorientasi persatuan (negara kekeluargaan) dan keadilan (negara kesejahteraan). Revolusi politikal ini diwujudkan dengan pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan perdamaian dan keadilan.

Tertradisikanlah mental revolusioner yang menyatukan pikiran, sikap dan tindakan sebagai suatu integritas yang melandasi mentalitas kemandirian, mentalitas gotong royong dan mentalitas pelayanan. Ketiganya disebut tricita revolusi mental di mana kemandirian, gotong royong, dan pelayanan harus menjadi landasan ideologi kerja bagi penyusunan platform dengan segala turunan program dan kebijakannya di semua lini dan sektor pemerintahan.

Dus, tanpa pikiran, ucapan dan tindakan revolusioner, kita hanya hidup segan, mati sungkan. Bukan pewaris peradaban atlantika; bukan keturunan nusantara. Tentu juga bukan manusia pancasila, apalagi negeri pancasila.


#kolom
#nusantara
#yudhie haryono
#pancasila
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID