Orisinalitas Kebangsaan dan Keberagamaan - RILIS.ID
Orisinalitas Kebangsaan dan Keberagamaan
RILIS.ID
Jumat | 18/08/2017 16.50 WIB
Orisinalitas Kebangsaan dan Keberagamaan
ILUSTRASI: Hafidz Faza

“Mbak, ada charger HP merk ******?” tanyaku pada penjaga kios di pusat perbelanjaan modern di pinggiran Jakarta.

“Ada Mas, mau yang ori atau yang biasa?” timpalnya sopan.

“Hmmmmm… pandai juga si Mbak ini menjaga perasaan,” batinku. Jenis KW disebut dengan ‘biasa’, tanpa nada merendahkan si lawan bicara.

“Ori 150 ribu, biasa 50 ribu,” lanjutnya dengan senyum yang ramah.

Lepas jeda sejenak, dengan gesture badan yang ditegak-tegakkan dan suara yang dibaritonkan, aku menjawab, “Yang biasa aja, Mbak.”

Setelah mengalihtangankan selembar uang kertas, aku berlalu menuju gerai kopi yang tak jauh dari situ. Usai memesan kopi dan sepotong brownies berbentuk segitiga, aku duduk di kursi sofa bermotif bunga-bunga. Menyadari baterei telepon genggam hampir habis, pengisi baterei yang baru kubeli tadi langsung kutusukkan ke stop kontak dan menyambungkannya ke port charger telepon genggam. Sambil menikmati kopi dan berselancar menyusur kanal-kanal berita media online, sesekali kutengok penanda asupan energi ke perangkat komunikasi itu.

“Sundal!” umpatku ketus. Sudah hampir satu jam, tetapi progressnya baru 20%. Namun, cela tinggallah cela. Perangkat baruku tetap berlalu. Mengabaikan kutukanku yang tak ampuh.

Ada rupa ada harga, kata pedagang di Tenabang. Aku pun pasrah. Kualitas premium tak mungkin berharga biasa, begitu pula sebaliknya.

Dalam hal apapun, orisinalitas selalu linear dengan kualitas. Inovasi selalu bernilai tinggi, sedangkan plagiasi kerap membenam harga diri. Begitu pula dengan benda. Barang asli lekat dengan durabilitas tinggi, sedangkan tiruannya hanya bertahan sekejapan mata. 

Sama halnya dengan semangat kebangsaan dan keberagamaan kita. Orisinalitasnya dapat diamati dari daya tahan dan konsistensi. Kecintaan kepada bangsa tak hanya ramai saat peringatan hari kemerdekaan. Kecintaan kepada agama tak hanya muncul dalam perayaan keagamaan. Nasionalisme mesti menjelma dalam substansi kebijakan, religiusitas otentik termanifestasi dalam perilaku keseharian. Sepanjang zaman. Bukan musiman, apalagi sekadar motif kepentingan. 


Tags
#semburat
#kebangsaan
#keberagaman
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID