Mudik Lebaran - RILIS.ID
Mudik Lebaran
Mohammad Nasih
Senin | 18/06/2018 14.21 WIB
Mudik Lebaran
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, – BAGI umat Islam di Indonesia, hari Idulfitri merupakan hari yang tidak biasa. Pada hari itu, bukan saja mereka kembali dibolehkan untuk melakukan segala sesuatu yang selama dalam bulan Ramadan dilarang, tetapi juga melakukan kunjungan massal ke kampung halaman untuk saling bermaafan, walaupun di antara mereka sesungguhnya tidak pernah terjadi kesalahan, bahkan belum pernah saling kenal. 

Pemerintah juga menjadikan beberapa hari menjelang dan sesudah Idulfitri sebagai hari libur. Bahkan tahun ini lebih panjang dibanding sebelumnya. Karena itu, pada hari raya, biasanya terjadi lonjakan pergerakan manusia dari pusat-pusat aktivitas ekonomi menuju ke kampung halaman. Mereka yang selama hampir setahun bekerja keras seolah lupa kampung halaman, kembali mengingatnya dan berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulang kampung. Mereka memiliki motif yang berbeda-beda mulai dari motif ideologis, psikologis, sampai ekonomis.
 
Motif ideologis, karena lebaran adalah momentum yang sangat strategis untuk bertemu dengan banyak orang untuk melakukan silaturrahim atau menyambung tali kasih sayang, terutama dengan banyak anggota keluarga lain yang memang berasal dari satu rahim yang sama. Islam mengajarkan agar silaturrahim senantiasa dilakukan, sehingga terbangun hubungana kekeluargaan yang lebih erat, agar bisa terajut jalinan yang lebih kuat dan bisa saling tolong untuk melakukan kebaikan dan takwa kepada Allah Swt. secara lebih optimal. Forum pertemuan tahunan bisa menjadi kesempatan untuk mengetahui kabar untuk menggali potensi untuk diberdayakan. 

Motif psikologis, karena tidak sedikit yang telah memendam rasa rindu kepada kampung halaman dengan segala yang ada di dalamnya. Bagi banyak orang, kampung halaman menyimpan banyak kenangan, baik yang berkaitan dengan tempat-tempat maupun orang-orang yang membangkitkan inspirasi, sehingga penting untuk dikunjugi. Walaupun revolusi digital telah terjadi, tetapi pertemuan di dunia nyata tetap tidak bisa tergantikan. Dalam momentum ini, mereka mereka merayakan kebersamaan dengan makan bersama-sama.
 
Motif ekonomis, karena oleh sebagian mereka, Idulfitri juga menjadi momentum untuk menunjukkan kesuksesan, khususnya dalam aspek ekonomi. Mereka harus berhasil membuktikan bahwa kepergian mereka ke rantau benar-benar tidak sia-sia. Faktor ekonomi inilah yang membuat banyak kampung kemudian menjadi sepi, karena mereka juga mengajak sanak saudara atau tetangga untuk melakukan hal yang sama. Perantauan dianggap lebih menjanjikan. Padahal yang menentukan keberhasilan mereka sesungguhnya adalah komitmen mereka untuk bekerja keras. 

Di mana pun, jika mereka memiliki semangat bekerja yang keras, maka kesuksesan akan bisa didapatkan. Di perantauan, mereka menanggalkan rasa malu dan dituntut untuk bertahan hidup. Karena itu, mereka harus mengubah sikap malas menjadi pekerja keras. Semangat dan perilaku sebagai pekerja keras itulah sejatinya yang menjadi penentu keberhasilan. Itu ditunjukkan dengan keberhasilan para pendatang, di mana pun. 

Namun, selain semua itu, hikmah terpenting yang nampak dari orang dari udik yang pergi dan bertebaran di kota, tetapi selalu kembali ke kampung halaman adalah bahwa semua manusia berasal dari Tuhan dan kepada-Nya semua akan kembali. Tanpa terkecuali. Yang harus dilakukan di dunia ini adalah mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk memperoleh rida-Nya. Wallahu a’lam bi al-shawab.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID