logo rilis
Menyambut Masa Lalu
kontributor kontributor
Arif Budiman
17 Juli 2017, 14:56 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Menyambut Masa Lalu

Sejarah adalah replikasi. Pengulangan peristiwa dengan sejumlah modifikasi. Pencapaian peradaban masa kini mempunyai kesamaan pola dengan pencapaian di masa lalu. Begitupun kemunduran dan keruntuhannya, selalu menyimpan rahasia kelemahan yang sama. Karenanya, masa depan bukanlah sesuatu yang susah untuk diterka. Semudah menebak akhir cerita telenovela dan sinetron berbiaya murah yang tayang di layar kaca.

Peta jalan kemajuan dan keemasan tak sulit dipelajari. Sinyal kemunduran dan keruntuhan kekuasaan dapat dengan mudah diramalkan. Bukan sebab faktor cenayang melainkan semata karena pengalaman. Tak harus bersemedi untuk meraih prestasi, tak perlu rasi bintang untuk menebak kekuasaan yang akan tumbang. Gerak sejarah dapat diamati dengan mata telanjang.

Baca Juga

Wajah sejarah berbeda dari masa ke masa. Tampilannya mewakili cutik modifikasi, bukan repetisi gerak roda pedati. Tidak pula analog dengan pergantian musim seperti yang Herodotus yakini. Pergerakannya juga tidak linear menjejak garis horisontal menuju muara tatanan ideal sebagaimana didengungkan St. Augustinus dan Ibnu Khaldun. Meski ia mengalami 'pengulangan', wujudnya tidak sepenuhnya sama kala ia kembali. Giambattista Vico menyebutnya sebagai gerak sejarah spiral, sebuah istilah yang menggambarkan proses daur kultural.

Dalam ruang yang demikian terang-benderang, anak-anak zaman tak pantas bimbang. Kecuali bagi yang kehilangan harga diri, ketegasan sikap adalah manifestasi dari kesadaran. Karenanya, keraguan menjadi ancaman bagi kemanusiaan.

Ketika masa lalu memilih tragedi sebagai habitat, mewarisi trauma, memelihara kaum bisu dan membunuh Dewi Liberti demi melanggengkan kekuasaan, maka yang demikian itu sungguh niscaya berulang di masa kini dan yang akan datang. Begitupun sebaliknya, prestasi yang ditoreh masa lalu sangat mungkin dicapai kembali di masa kini. Tentu saja tidak sepenuhnya sama, karena sebagaimana kata Vico, daur kultural itu akan terjadi dengan sejumlah modifikasi.

Apapun yang dipilih, karena masa sekarang merupakan ‘pengulangan’ atas peristiwa masa lampau maka kita boleh menyapa masa kini sebagai masa lalu.

Karenanya, tanpa memersoalkan niatnya, katakan saja: Selamat datang, Masa Lalu! 


#Sejarah
#Semburat
#Arif Budiman
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID