logo rilis
Mental Postkolonial
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
22 November 2017, 07:08 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Mental Postkolonial

INDONESIA telah senantiasa mengalami kemajuan dengan percepatan. Namun, banyak negara lain yang mengalami percepatan yang jauh lebih tinggi, bahkan di antaranya adalah negara-negara yang pada era pertengahan sampai akhir Orde Baru masih berada di belakang Indonesia. Di antara indikator posisi Indonesia yang masih di depan saat itu adalah negara-negara itu mengirimkan banyak mahasiswa untuk belajar di Indonesia. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, justru sebaliknya, negara-negara itu menjadi tujuan belajar cukup banyak mahasiswa dari Indonesia. Sebut saja Malaysia sebagai contohnya. Di antara penyebab utama kekalahan dalam percepatan itu adalah mental postkolonial yang masih melekat kuat.

Mental postkolonial terus melekat menjadi sumber kompleks rendah diri (inferiority complex), karena yang ada di dalam benak adalah keunggulan bangsa-bangsa lain, sementara bangsa sendiri adalah bangsa rendah. Mental tersebut telah menyebabkan kehinaan bangsa ini, karena menempatkan bangsa lain, terutama Eropa, Arab, dan China pada posisi di atas. Bangsa-bangsa itu seolah sudah layak dan sewajarnya menyubordinasi bangsa Indonesia. Ingatan bangsa ini seolah masih belum beranjak dari masa penjajahan (1600-1945) dengan pembagian kelas; Eropa pada posisi teratas, disusul Arab, dan kemudian China. Sementara penduduk pribumi adalah para pekerja kasar dan pembantu saja.

Baca Juga

Sadar tentang mentalitas itu, para pendiri negara ini melakukan berbagai usaha luar biasa untuk memerdekakan negara ini. Dengan kemerdekaan, mentalitas baru yang merasa setara dan sama-sama memiliki potensi untuk maju dan sejahtera secara bersama hendak dibangun. Keyakinan itulah yang membuat rakyat bergerak dan hanya dengan bambu runcing mampu mengalahkan pasukan bersenjatakan meriam. Saat itu, mentalitas rakyat sangat tampak berubah oleh motivasi yang diberikan oleh para pemimpin pergerakan kemerdekaan, sehingga melahirkan kekuatan dan keberanian yang luar biasa yang menghasilkan kemenangan untuk mewujudkan kemerdekaan.

Namun, mental postkolonial itu rupanya kembali dan menjadi gejala umum, tidak hanya di kalangan rakyat, tetapi juga pemimpin atau elite politik. Mental ini seolah menjadi penyakit menahun yang menyerang mereka, sehingga sampai saat ini tak kunjung sembuh, bahkan makin parah, tetapi ironisnya tetap tidak disadari. Tindakan menjual negara dianggap sebagai keunggulan. Sikap menghamba dianggap sebagai kemampuan untuk melakukan diplomasi. Padahal, keduanya jelas-jelas sangat berbeda.

Nyata sekali bahwa bangsa-bangsa lain, terutama Eropa, Arab, dan China masih dibayangkan sebagai bangsa unggul. Bahkan hal-hal yang sesungguhnya merupakan kebiasaan, seperti bahasa Inggris, Arab, dan China lantas dijadikan sebagai kriteria keunggulan. Padahal, anak balita bahkan orang gila di negara-negara tersebut pun bisa menggunakannya dengan lancar. Penanaman mental agar negara-negara tersebut menjadi tujuan dalam belajar melahirkan dan memperkuat paradigma bahwa belajar ke luar negeri juga menjadi faktor keunggulan. Jika lulusan luar negeri benar-benar unggul, mengapa mereka tidak mampu untuk membangun center of excellent untuk mengakselerasi kemajuan negara ini? Ini adalah tantangan yang harus dijawab dengan kerja, bukan sekadar retorika dan apologi. Anak-anak bangsa yang merasa telah memiliki kualitas unggul, terutama mereka yang telah belajar ke luar negeri, harus membuktikan bahwa mereka benar-benar unggul dengan telah menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi selama mereka belajar, lalu bisa membangun pusat-pusat keunggulan di Indonesia dan membuat anak-anak dari seluruh penjuru dunia tertarik untuk masuk dan belajar di dalamnya. Wallahu a’lam bi al-shawab.


#Mental Postkolonial
#Inferiority Complex
#Kolom
#Paradigma
#Mohammad Nasih
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID