logo rilis
Menlu Retno ke Anggota OKI: Palestina Satu-satunya Negara yang Masih Dijajah
Kontributor
RILIS.ID
17 Mei 2021, 15:31 WIB
Menlu Retno ke Anggota OKI: Palestina Satu-satunya Negara yang Masih Dijajah
Menlu Retno Marsudi. Foto: Dok Rilis.id

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menghadiri pertemuan darurat 16 Menteri dan Wakil Menlu negara-negara anggota OKI pada Minggu (16/5/2021).

Pada pertemuan tersebut, Retno menyampaikan bahwa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) harus kembali bertemu untuk membahas agresi Israel terhadap Palestina.

Sejak OKI didirikan komitmen negara OKI tidak pernah luntur dan terus bertekad untuk bersama Palestina di dalam memperjuangkan hak-haknya.

Terlepas dari tekad kuat tersebut, Retno menyatakan bahwa sampai saat ini masih adanya gangguan terhadap pelaksanaan ibadah di Masjid Al-Aqsa, illegal settlement semakin merajalela, pergerakan orang-orang Palestina dibatasi di tanah mereka sendiri, dan hak-hak Palestina dihilangkan.

"Kita semua tidak boleh lupa bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang masih diduduki oleh kekuatan kolonial di dunia ini," ucapnya dikutip dari laman Kemenlu, Senin (17/5/2021).

Menurut Retno, semua penderitaan Palestina disebabkan oleh Israel sebagai occupying power. Indonesia mengecam keras semua tindakan yang dilakukan oleh Israel yang lebih melukai lagi. Terlebih tindakan tersebut dilakukan di bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.

Retno juga mengusulkan beberapa langkah kunci yang harus dilakukan oleh OKI.  Pertama, memastikan adanya persatuan.

Menurutnya, persatuan negara anggota OKI Persatuan di antara semua pemangku kepentingan di Palestina. Tanpa persatuan, kata Retno, OKI tidak akan mampu menjadi penggerak bagi dukungan internasional untuk Palestina.

"Di saat yang sama, bangsa Palestina hanya bisa mencapai cita-citanya untuk merdeka apabila mereka bersatu," tuturnya.

Kedua, masih kata Retno, OKI harus mengupayakan terciptanya gencatan senjata segera. Ia menyerukan agar masing-masing negara OKI menggunakan pengaruhnya masing-masing, menggunakan pengaruh yang mereka miliki untuk mendorong gencatan senjata secepatnya.

"Dan semua tindakan kekerasan harus segera dihentikan," ujarnya.

Ketiga, menurut Retno, agar OKI tetap fokus membantu kemerdekaan bangsa Palestina. Dalam kaitan ini, OKI harus lebih keras berupaya untuk mendorong dimulainya kembali negosiasi multilateral yang kredibel.

"Yang berpedoman pada parameter-parameter yang telah disetujui secara internasional dengan tujuan mencapai perdamaian yang lestari berdasarkan prinsip solusi dua negara," imbuhnya.

Di akhir pernyataanya, Retno menyampaikan bahwa perjuangan untuk mendukung kemerdekaan Palestina masih jauh dari selesai.

Ia pun mengajak negara OKI bersatu untuk mendukung perjuangan Palestina.

"Together we have to act now. Keadilan harus tercipta bagi rakyat Palestina. Dan saya tekankan bahwa Indonesia akan terus mendukung perjuangan Palestina," tambahnya.

Indonesia secara aktif memberikan masukan substansial agar OKI dapat menghasilkan kesepakatan yang nyata. Di antaranya seruan kepada komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah konkret atas tindakan kekerasan dan pelanggaran hukum internasional.

"Dan bila DK PBB gagal, maka SMU PBB harus melakukan pertemuan darurat. Kita juga harapkan dalam resolusi tersebut akan terdapat elemen desakan untuk menerapkan mekanisme international protection untuk melindungi warga sipil Palestina maupun kompleks Masjid Al Aqsa," paparnya.

Kemudian seruan kepada komunitas internasional untuk menghentikan aksi kolonial dan segregasi rasial Israel, penegasan kembali posisi OKI dalam mendukung isu Palestina dan Al Quds Al-Sharif dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina berdasarkan two-states solution dan sesuai dengan parameter-parameter internasional. (*)

Editor: Segan Simanjuntak


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID