Menggugat Naga Cina - RILIS.ID
Menggugat Naga Cina

Jumat | 04/05/2018 16.48 WIB
Menggugat Naga Cina
PM Malaysia Najib Razak berkunjung ke Great Hall of the People, di Beijing, Cina, 13 May 2017. Credit: AFP/Thomas Peter

RILIS.ID, Kuala Lumpur – MANTAN Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berjanji, jika memenangkan pemilu dia akan merenegosiasi hubungan kerja sama dengan Cina. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Najib Razak, hubungan bilateral kedua negara hanya menguntungkan pihak Cina.

Dalam beberapa kesempatan wawancara, Mahathir mengatakan akan memperketat investasi dari Negeri Ginseng ke Negeri Jiran itu. Jikapun perusahaan-perusahaan Cina berdiri di Malaysia, Mahathir janji akan mensyaratkan mempekerjakan tenaga lokal serta membawa modal dan teknologi.

Pemimpin oposisi yang keras mengkritik pemerintahan Najib itu mengatakan, Malaysia tak memperoleh keuntungan dari investasi yang ditanam Cina.

Namun, koalisi oposisi Mahathir, Pakatan Harapan, tidak sepenuhnya bersikap konfrontatif terhadap investasi Cina. Hanya saja, jika terpilih dia akan meninjau kembali semua mega-proyek yang didanai asing.

Investasi yang dimaksud Mahathir adalah pembangunan jalur kereta senilai US$73 miliar, proyek pelabuhan Melaka, reklamasi, lokalisasi industri serta mega-proyek miliaran dolar lainnya yang didanai oleh Cina. 

Salah satu kritikan keras Mahathir terhadap Najib adalah mengenai skandal perusahaan pemerintah 1MDB yang dibentuk untuk mendanai proyek pembangunan jangka panjang di Malaysia. 

Pada saat yang sama, gelontoran investasi yang masuk ke Malaysia menempatkan Cina sebagai investor terbesar di negara itu. 

Meskipun telah dirong-rong baik di dalam maupun luar negeri, Najib selalu menepis tuduhan bahwa dia telah menyalahgunakan anggaran pemerintah dari 1MDB ke kantong pribadinya. 

Isu itu menjadi makanan kuat bagi kelompok oposisi Pakatan untuk menekan Najib dan memunculkan kampanye "politik bersih" yang digaungkan Mahathir.

Masih dalam nuansa tersebut, kedekatan serta deal-deal Najib dengan Cina menurut Mahathir layaknya penyerahan kedaulatan negara kepada kekuatan modal asing yang akan menyetir kebijakan dalam negeri Malaysia. 

Ambisi Presiden Cina Xi Jinping untuk merealisasikan jalur sutera "One Belt One Road" tampak semakin menapak, negara-negara di organisasi regional Asia Tenggara (ASEAN) mengambil kesempatan berlomba-lomba mendatangkan turis dan modal investasi dari Cina ke negara-negara mereka.  


PM Malaysia Najib Razak dan PM Cina Li Keqiang menginspeksi pasukan kehormatan di Great Hall of China di Beijing. Credit: AFP/Wang Zhao

 

Melansir Asia Times, Malaysia di bawah kepemimpinan Najib mengambil manfaat dengan semakin menguatnya cengkraman Cina di Laut Cina Selatan (LCS) dan negara-negara Asia Tenggara yang telah kuyup diguyur investasi.

Meski Malaysia termasuk negara yang menolak klaim teritorial Cina pada LCS, namun, sejumlah pengamat menilai, tekanan Malaysia terhadap klaim tersebut akan melunak guna menghindari perselisihan dengan Beijing.

Sementara Mahathir melalui janji-janji kampanyenya menyatakan akan merenegosiasi soal LCS.

Selain itu, Malaysia juga mengambil peran salah satu anggota yang mendirikan China's Asian Infrastructure Investment Bank--upaya Cina untuk menyaingi lembaga moneter World Bank dan Asian Development Bank.

Di sisi militer, Malaysia merupakan negara ASEAN yang pernah menggelar latihan perang terbesar dengan Cina pada 2015 dan 2016. 

Di sisi lain, Najib berdalih, penguatan hubungan Malaysia dengan Cina merupakan upaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Mahathir pun, menurutnya, rela dijadikan sebagai "boneka" dari salah satu pimpinan oposisi yang juga merupakan pemimpin Partai Aksi Demokrat Lim Kit Siang.

Dari sejak menjabat sebagai perdana menteri pada 1981, nilai transaksi antara Cina dengan Malaysia menembus angka US$289 juta dolar dan bertambah US$20 juta dolar ketika kepemimpinan Mahathir berakhir pada 2003.

Dengan sisa waktu lima hari menuju pemilu, Mahathir berjibaku untuk memenangkan suara di kampung halamannya di Langkawi. 

Mantan mentor Najib yang kini berusia 92 tahun itu setidaknya masih memiliki daya tahan dan kekuatan untuk bertarung dalam momentum yang diprediksi akan menjadi panggung terakhirnya dalam politik.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID