Menebus Akta Emansipasi Negara - RILIS.ID
Menebus Akta Emansipasi Negara
RILIS.ID
Kamis | 16/11/2017 17.02 WIB
Menebus Akta Emansipasi Negara

PERBUDAKAN dalam bentuk purbanya memang sudah tiada. Seperti halnya wajah jujur eksploitasi kolonialisme yang telah lama terkubur, kezaliman paling nyata terhadap manusia telah lama lenyap dari beranda rumah kita.

Perbudakan adalah borok sejarah. Derita yang muncul akibat pembiaran atas luka dalam interaksi manusia. Antonio Morga pada 1609 mengurai bentuk “luka interaksi manusia” yang menjadi penyebab terjadinya perbudakan di Filipina, yaitu karena terlahir dalam keluarga budak, didera kemiskinan hingga terpaksa menjual dirinya sendiri, dijatuhi hukuman pengadilan, lantaran menjadi tawanan perang atau korban penculikan dalam aksi perampokan (Hendrik E. Niemeijer, 2012).

Niemeijer, dalam bukunya Batavia, mencatat bagaimana masyarakat kolonial abad XVII, khususnya di Batavia, banyak yang terpaksa menjual atau menggadaikan kebebasan dirinya untuk sekadar bertahan hidup. Kemerdekaan asasi yang ditandai Akta Emansipasi diserahkan sebagai jaminan untuk mendapatkan uang dan makanan. Notaris hadir menyaksikan. Manusia merdeka berubah menjadi hamba sahaya.

Akta Emansipasi adalah harga diri. Bukti kebebasan dan kemerdekaan. Surat sakti untuk berkeliaran dan berjalan-jalan. Menikmati hidup dan kehidupan. Juga menentukan pilihan.

Berbeda dari hamba sahaya, manusia merdeka memiliki kuasa. Memilih satu dari sekian opsi. Menempuh jalan sesuai keinginan. Menolak kehendak jika tidak berkenan.

Kini, wajah perbudakan yang dulu menjijikkan telah bermetamorfosis menjadi menyenangkan. Ia hadir dengan senyuman. Perbudakan masa lalu yang hanya bermukim di ruang individu, sekarang meluaskan jangkauan hingga ke lembaga. Sambil merapal mantra kemajuan, ia menyihir negara. Dengan dalih investasi, jeratan utang disambut puja-puji. Belenggu dianggap madu. Negara dibuat tak berdaya. Menggadaikan Akta Emansipasinya dengan harga murah. 

Sayangnya, gadai akta emansipasi negara tidak dimaksudkan untuk menawar lapar, tetapi demi memenuhi kebutuhan papan. Uang pinjaman dibelanjakan bedak dan lipstik, juga parfum palsu pengusir bau. Cantik dulu, kenyang belakangan. Biar maksa asalkan bergaya.

Guru di belahan dunia lain tak digugu tak ditiru. Swadesi Gandhi di India tak dicerna. Penebusan Akta Emansipasi Rusia pasca-Yeltsin tak dipelajari. Self-rule berdasarkan self-reliance tak disuka. Lebih memilih berdiri di atas kaki orang lain. Nyaman dalam pelukan dana berbunga. Bangga menjadi hamba sahaya.

Sesungguhnya, tak sulit menebus Akta Emansipasi Negara. Dengan modal sosial yang cukup, kemerdekaan dan kebebasan dapat dikembalikan. Syaratnya, negara harus jujur dalam menilai keadaan. Masyarakat hanya perlu diyakinkan, bahwa negara bekerja untuk kesejahteraan yang membanggakan, bukan kemakmuran yang menghinakan. Lebih dari itu, tampil saja apa adanya. Usah banyak bergaya. Sok kaya tapi aslinya tak punya apa-apa.


Tags
#Akta Emansipasi Negara
#Perbudakan
#Kolom
#Semburat
#Arif Budiman
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID