logo rilis
Memilah Generasi
kontributor kontributor
Arif Budiman
08 Agustus 2017, 18:06 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Memilah Generasi

“Api kok digunakan untuk memadamkan kebakaran… Anda sehat?”

Pertanyaan ini sering terdengar akhir-akhir ini. Berhamburan di berbagai media sosial. Lontaran yang tidak dimaksudkan untuk meminta jawaban, tetapi secara sengaja ditujukan untuk mengintimidasi dan menghinakan lawan bicara. Pertanyaan ini semakin populer seiring memanasnya situasi sosial-politik dan pertentangan dikotomik yang membelah masyarakat kita.

Baca Juga

“Anda sehat?”

Sama sekali tak mewakili rasa peduli. Sebaliknya, kalimat tanya itu menyimpan ironi. Ia ingin mencela fakta, logika, argumentasi, atau pernyataan lawan bicara yang dinilai ngawur, tidak berdasar, tidak logis, dan tidak argumentatif. Kebalikan dari orang sehat dengan segala kerunutan logika dan argumentasinya, orang sakit seringkali tak mampu mengendalikan sistematika pikirnya. Karenanya, terhadap mereka yang menampilkan fakta, menunjukkan logika, dan menyampaikan argumentasi secara serampangan, diajukan pertanyaan ini.

“Anda sehat?”

Bagi mereka yang tidak terbiasa menguji argumentasi dalam ruang diskusi terbuka, perbedaan pandangan sering melibatkan perasaan, alias baperan. Alih-alih memerkuat posisi dan opini dengan data yang valid dan argumentasi yang logis, kaum baperan malah memilih melemparkan makian dan cacian. Akibatnya, berdebat tidak lagi menjadi perangkat untuk menemukan kebenaran, tetapi digunakan untuk mengklaim kemenangan, dengan cara yang sangat tidak elegan.

Dalam situasi yang demikian, sangat mungkin tumbuh spirit Machiavellian. Tak peduli betapa sistematisnya alur pikir dan logisnya argumentasi lawan bicara, sepanjang tidak memberikan keuntungan dan dukungan bagi opini, sikap, dan tindak seseorang maka ia harus ditolak. Pragmatisme menjadi way of life, seperti halnya Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk merebut dan memertahankan kekuasaan. Sepanjang tujuan bisa diwujudkan, maka segala pilihan cara bisa dilakukan.

“Selama kucing itu bisa menangkap tikus, maka aku tak peduli ia berbulu putih atau hitam,” begitu Mao Zedong mengatakan.

Tak ada lagi kebenaran objektif sebagai tujuan. Kemenangan adalah satu-satunya yang dituankan. Kemenangan harus dikedepankan, meski untuk mendapatkannya harus dengan cara membunuh kebenaran.

Haruskah demikian? Agar keduman kita harus ikut menjadi edan?

Pragmatisme lekat dengan sikap mental oportunistik. Kaum pragmatis tidak memercayai adanya tolak ukur moral yang berlaku secara universal. Etika diletakkan di tong sampah. Sepanjang keuntungan praksis dan nyata bisa diperoleh maka segala tindakan dapat dibenarkan.

Apakah sikap mental generasi yang demikian dapat menyokong suatu bangsa menuju kemajuan? Tentu saja tidak!

Kemajuan sebuah bangsa hanya bisa dicapai melalui dukungan generasi yang memiliki jati diri, yaitu kaum muda yang memiliki kesadaran progresif berbasis ideologi yang kuat. Mereka memahami sejarahnya. Mereka memiliki cita-cita mulia dan konsisten dalam mewujudkannya. Pragmatisme bukanlah pilihan. Sebaliknya, ia adalah penyakit yang harus disembuhkan. Sikap mental oportunistik dari mereka yang kerap mencaci dan memaki adalah penghambat laju gerakan menuju idealitas tatanan. Generasi pragmatis yang labil berbalut semangat nasionalisme musiman adalah penghalang nyata bagi kemajuan.  Kaum muda baperan yang sering lebay dalam mengamati dan menyikapi keadaan sungguh tak berguna bagi peradaban!


#semburat
#arif budiman
#generasi muda
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID