logo rilis
Membeli Kejayaan
kontributor kontributor
Arif Budiman
24 Agustus 2017, 17:45 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Membeli Kejayaan

Banteng gagah itu mendengus. Matanya tajam menatap Sang Matador. Sejurus kemudian kakinya menghentak, melontar tubuhnya lurus menyerang si penantang. Sayang, tak dikena tubuh di balik muleta itu. Banteng menanduk angin. Matador tersenyum. Faenanya sempurna.

Sebaliknya, dengan sekali gerakan, satu tombak Matador menghujam tubuhnya. Bandirello itu membuka jalan darah segar keluar dari badan banteng yang terluka. Binatang itu mengerang. Kulitnya basah oleh darah. Penonton bersorak. Stadion bergemuruh. Matador membungkuk hormat.

Baca Juga

Makhluk bertanduk itu masih berdiri. Matanya memerah murka. Nampak pedih yang tertahan disembunyikan. Perlahan badannya berputar, kembali mengarah pada si penantang yang pongah. Matador balas menatapnya, dengan senyum penuh misteri. Bandirello kedua sudah siap di genggamannya.

Stadion penuh. Sorak sorai di seluruh penjuru. Gemanya membahana. Bergairah menanti semburan darah. Menghela si 'pembunuh'. Mendamba sang banteng menyerah. Tumbang kehabisan darah.

Aku diam. Pertunjukan ini memilukan. Tak paham mengapa kekerasan dirayakan. Tak mengerti mengapa begitu banyak orang sedia membeli kejayaan dengan darah dan luka.

Bagi para pencinta kedamaian, darah dan luka takkan pernah menjadi alat tukar, bahkan untuk kedamaian itu sendiri. Hal ini berlaku juga dalam transaksi kejayaan. Kekerasan tidak akan melahirkan selain kekerasan baru yang secara eskalatif bermetamarfose menjadi motif bagi kemunculan kekerasan-kekerasan berikutnya.

Kekerasan yang berbalas kekerasan pada akhirnya melahirkan situasi yang disebut Helder Camara sebagai spiral kekerasan. Mengikuti Camara maka sesungguhnya slogan kekerasan demi kejayaan adalah ilusi. Ia tak lebih dari logika propaganda yang telah cacat sejak dalam pikiran. 

Kecintaan kepada bangsa dan negara menghendaki kita bersungguh-sungguh menjaga supaya Indonesia terhindar dari kutukan spiral kekerasan. Untuk itu, cinta dan prestasi harus dipilih dari sekian banyak opsi. Cinta dan prestasi harus menjadi pondasi, tempat dimana monumen kejayaan penguasa berdiri kokoh di atasnya.

Biarlah kegilaan Hitler di Jerman, ketidakwarasan Stalin di Rusia, kekejaman Karadzic di Srebrenica, kebengisan Pol Pot di Kamboja, dan deretan nama-nama 'tenar' lainnya menjadi catatan kelam sejarah dunia. Mereka adalah trauma, yang menjadi pengingat bagi kita, bahwa darah dan luka takkan pernah sebanding dengan kejayaan manusia, termasuk bagi bangsa kita, Indonesia.


#semburat
#indonesia
#prestasi indonesia
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID