logo rilis
Membaca Putaran Kedua Pilkada DKI
kontributor kontributor
Iswandi Syahputra
28 Februari 2017, 20:29 WIB
Pencari makrifat kehidupan, bekerja sebagai pengajar tetap pada Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Su
Membaca Putaran Kedua Pilkada DKI

Bila pada putaran pertama Ahok memilih lawan untuk putaran kedua, maka pada putaran kedua giliran buzzer Ahok memilih dan memilah fans AHY untuk persiapan pemenangan putaran kedua.

Berdasarkan pengamatan dan diskusi terbatas dengan sejumlah pihak di lingkaran dalam, ditemukan tiga kelompok pemilih AHY yang diprospek untuk kemenangan Ahok pada putaran kedua. 

Baca Juga

Pertama, kelompok nasionalis. Terhadap kelompok ini, isu yang diembuskan adalah Anies merepresentasikan kelompok agamais radikalis. Bila kubu Anies terpancing isu ini, insya Allah Ahok menang. Karena pada hakikatnya, head to head jumlah pemilih nasionalis lebih besar dari jumlah pemilih agamais.

Kedua, kelompok fanatis/loyalis, Terhadap kelompok ini, isu yang diembuskan adalah, lebih baik netral atau abstain pada putaran kedua. Fanatisme terhadap SBY dan AHY distimulasi agar mengkristal bertahan tidak memilih Anies. Bila kubu fanatis/loyalis SBY/AHY terpancing isu ini, insya Allah Ahok menang. Karena pada perolehan, head to head jumlah pemilih Ahok lebih besar dari jumlah pemilih Anies.

Ketiga, kelompok agamais. Kelompok ini jumlahnya sedikit dan sulit dipengaruhi karena kuatnya pengaruh ideologis. Dipastikan, kelompok ini akan mengalihkan suaranya ke Anies.

Pada puncaknya, head to head pada putaran kedua Pilkada DKI nanti yang bertarung adalah kelompok agamais dan nasionalis. Inilah gen besar sosiologi politik Indonesia sepanjang masa.

Di atas kertas, juga mengacu pada beberpa peristiwa sejarah masa lalu, kubu nasionalis selalu memenangkan pertarungan politik. Karena masih ada anggapan/ancaman bahwa agama berbahaya ikut campur urusan politik negara.

Bila analisis ini diteruskan, didukung oleh sistem kekuasaan saat ini, ditopang oleh industri media besar nasional, pendukung fanatik dan mungkin juga kesediaan dana yang memadai, bukan bermaksud mendahului takdir, agaknya Ahok akan terpilih kembali sebagai Gubernur DKI. Peluangnya untuk menang lebih besar dari Anies. Ini penting diketahui sejak dini agar kubu Anies (terutama kelompok agamais) siap juga untuk menerima kekalahan.

Bila Ahok yang terpilih, rangkullah kelompok lain dari genetis agamais. Selanjutnya bersama-sama kembali ke garis depan NKRI.

Bagaimana dengan Anies? Peluangnya masih besar bila mampu menata tim kampanye dan buzzer-nya di media sosial. Dalam politik, kadang defensif tapi sesekali perlu ofensif.

Melihat perolehan suaranya dan suara Agus pada putaran kedua, Anies sebenarnya sudah di bibir kemenangan. Sedikit lagi…

Namun, bila demikian Anies sudah merasa menang, maka justru tunggu saja kekalahannya. Anies menurut saya harus lebih ofensif. Silaturahmi ke SBY dan Parpol pendukung AHY, perkuat kantong pemilih ideologis mulai berani ofensif. Dan bersiap defensif saat diserang. Sepertinya beberapa kesalahan Anies akan dicari sebagai amunisi propaganda jelang putaran kedua nanti.

Bila Anies yang terpilih, rangkullah kelompok lain dari genetis nasionalis. Selanjutnya bersama-sama kembali ke garis depan NKRI.

Ini penting diketahui sejak dini agar kubu Ahok (terutama kelompok nasionalis fundamental) siap juga untuk menerima kekalahan.

Bagaimana dengan Agus? Walau kalah, justru Agus sudah memberi dasar politik etik pada Ahok dan Anies bahwa, siapa pun yang kalah hormati yang menang. Dan, siapa pun yang menang, rangkul yang kalah.

Agus pendatang baru dalam dunia politik, masih muda dan prospektif. Dalam pandangan saya, belum punya dosa politik. Dia tinggalkan karier militernya yang cemerlang. Tapi toh, Agus harus terempas.

Walau kalah, ini bukan akhir segalanya bagi Agus. Perkiraan saya, dengan pengaruh kuat SBY di PD, Agus dapat diprospek menjadi Ketum PD untuk persiapan 2024. Di sanalah panggung dan mikrofon sudah menantinya…

Atau bisa lebih cepat dari itu. SBY dukung Anies untuk putaran kedua dengan kompensasi Anies-Agus untuk Pilpres 2019. Peluang pasangan ini sangat potensial menang, mengingat belum ada tokoh yang bisa imbangi Jokowi pada 2019 nanti. Selanjutnya 2024 Agus maju RI 1. Cikeas aman setidaknya hingga 2030.

Terima kasih Agus, darah kesatria khas prajurit muda TNI mengalir kental dalam jiwanya.

Agus, Ahok dan Anies usai Pikada nanti, kembalilah bersama ke garis depan menjaga NKRI


#Pilkada DKI Jakarta
#Putaran Kedua
#Ahok Vs Anies
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID