Mantan Ketua Umum GMNI Heran Tiba-tiba Banyak Orang Bicara Pancasila - RILIS.ID
Mantan Ketua Umum GMNI Heran Tiba-tiba Banyak Orang Bicara Pancasila

Rabu | 07/06/2017 12.48 WIB
Mantan Ketua Umum GMNI Heran Tiba-tiba Banyak Orang Bicara Pancasila
Sekelompok anak muda berdialog tentang Pancasila di Jakarta. FOTO: RILIS.ID/Henrikus Setya

RILIS.ID, Jakarta— Twedy Noviady Ginting, Ketua Umum GMNI 2011-2015 menjelaskan Pancasila harus dioperasionalkan. Karena jika ideologi tidak dioperasionalkan akan berangsur mati. 

Saat ini menurutnya, Pancasila tidak terinternalisasi dengan baik hingga ke semua peraturan perundangan, nilai Pancasila tidak menjadi etos kerja pemerintah. Padahal etos kerja pemerintan akan mementukan etos kerja masyarakatnya. 

"Soal Pancasila saya justru agak aneh, tiba-tiba banyak yang bicara Pancasila," katanya dalam diskusi Orang Muda Bicara Pancasila di Jakarta, Selasa (6/6/2017).

Sementara Mantan Ketua Umum KAMMI 2013-2015, Andriyana, menuturkan berbicara Pancasila harus terlebih menelusuri perjalanan kehidupan berbangsa di Indonesia. Pemuka Buddha datang pada abad ke-7, Islam mulai datang kemudian di abad ke-14. Artinya bahwa Indonesia disinggahi oleh banyak agama sehingga saham keagamaan di Republik ini begitu besar. 

"Saya melihat ini adalah satu bentuk dari krisis identitas yang dialami oleh masyarakat hari ini. Siapakah dirinya dari mana asalnya dan di mana itu," ungkapnya.

Menurutnya, sebagai generasi muda harus banyak meneladani tokoh bangsa. Menarik untuk diteladani, ia melanjutkan, perdebatan sengit tokoh bangsa dalam sidang konstituante tentang dasar negara bisa menjadi bahan pelajaran.

"Pikiran dan wacana beradu hebat tetapi dalam amaliah dalam perbuatan dalam pergaulannya mereka begitu hangat bersahabat walaupun ide gagasan mereka sering berbenturan," jelasnya. 

Sebutlah, menurut Andri tentang cerita Muhammad Natsir yang mengatakan ingin melempar DN Aidit dengan kursi. Kemudian Muhammad Hatta yang berusaha membantu seorang tokoh Masyumi untuk membeli rumah. Dalam hal perbedaan ide dan gagasan di antara mereka begitu tajam tapi perbuatan pergaulan persahabatan di antara mereka begitu kuat.

Ia juga menjelaskan istilah Kuntowijoyo tentang objektifikasi dalam buku paradigma Islam bahwa objektifikasi Islam ini juga sebenarnya bisa dilakukan dalam konteks objektifikasi terhadap Pancasila.

"Pertama dari Pancasila dijadikan sebagai norma kemudian ideologi yang kedua juga harus ada Pancasila dalam kerangka ilmu pengetahuan," jelasnya. 

Menurutnya, Pancasila harus bisa dioperasionalkan. "Selama ini kan kita melihat bahwa ini hanya ruang kosong sehingga Pancasila dapat digunakan dalam konteks dan kepentingan tertentu," katanya. 


Tags
#pancasila
#kammi
#gmni
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID