Kompetisi Politik Harus Jauh dari Sentimen Agama - RILIS.ID
Kompetisi Politik Harus Jauh dari Sentimen Agama
Ainul Ghurri
Senin | 12/02/2018 03.03 WIB
Kompetisi Politik Harus Jauh dari Sentimen Agama
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta – Ketua Setara Institute Hendardi mengingatkan, agar proses kompetisi politik, khususnya yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilihan presiden (pilpres) jauh dari sentimen primordial agama. Terutama, untuk kepentingan yang sifatnya jangka pendek.

"Kerukunan antar elemen bangsa dan ikatan kebangsaan, di antara mereka terlalu luhur untuk dirusak demi dipertukarkan dengan jabatan politik jangka pendek apapun," ungkapnya dalam pernyataan resmi di Jakarta, Minggu (12/2/2018).

Dia menyarankan, pemerintah, pemuka agama, dan elite ormas keagamaan sesuai otoritas masing-masing, hendaknya mencegah dan menghentikan provokasi di ruang-ruang syiar agama. Khususnya yang membangkitkan perasaan tidak aman, kebencian, dan kemarahan. Begitu juga hal-hal yang memicu tindakan main hukum sendiri dan penggunaan kekerasan, seperti yang terjadi di Sleman, Tangerang, Bandung, juga Bantul dalam dua pekan terakhir.  

Untuk itu, aparat keamanan hendaknya mewaspadai dan mencegah pola-pola gangguan keamanan yang menyasar tokoh-tokoh agama dan menggunakan sentimen keagamaan. Terutama yang bertujuan memecah belah umat beragama dan menghancurkan kerukunan di tingkat akar rumput.

Sebelumnya, telah terjadi persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Kabupaten Tangerang pada 7 Februari 2018 lalu. Disusul, serangan terhadap peribadatan Gereja St. Ludwina Desa Kabupaten Sleman Minggu pagi (11/2/2018), yang menyebabkan Romo Prier dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam. 

Sebelumnya, terjadi dua serangan brutal terhadap tokoh agama, yaitu ulama Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka Bandung, KH. Umar Basri pada (27/1), dan ulama Pimpinan Pusat Persis, H. R. Prawoto, dianiaya orang tak dikenal pada Kamis (1/2), hingga nyawanya tak dapat diselamatkan dan meninggal dunia.

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID