Kini Tak Ada Lagi Gadis Ahok di Parlemen - RILIS.ID
Kini Tak Ada Lagi Gadis Ahok di Parlemen

Selasa | 16/05/2017 14.18 WIB
 Kini Tak Ada Lagi Gadis Ahok di Parlemen
Srikandi Hanura Miryam S Haryani. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ketika menginjakkan kaki lagi di Kompleks Parlemen, Jakarta, tidak lagi menemukan sosok mungil, modis dan tentu saja banyak menebar senyum saat memasuki Gedung Kura-kura DPR, tempat Komisi II DPR membahas sejumlah isu strategis.

Ya, setelah isu KTP elektronik menyebar secara masif, Srikandi Hanura ini seolah lenyap ditelan bumi. Menghilang. Baru namanya dan gambarnya muncul setelah sang pemilik nama Miryam S. Haryani ditetapkan sebagai tersangka KTP elektronik dan belakangan dijerat dan ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan tuduhan memberikan keterangan palsu.

Kendati sosoknya mungil tapi trenginas. Sadar dari partai kecil di DPR, Miryam, harus gesit karena harus merangkap di sejumlah alat kelengkapan. "Maaf, beginilah saya. Makin sibuk. Hari ini banyak tamu dan dari rapat ke rapat kelengkapan," kata Miryam, suatu siang.

“Maklum anggota Fraksi Hanura kan cuma belasan orang,” ujar anggota DPR dari daerah pemilihan Jabar VIII (Indramayu, Kota dan Kabupaten Cirebon).

Mantan Koordinator Program Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya Jakarta ini sangat peduli dengan isu-isu perempuan dan jender. Pada Pemilu 2009 dan 2014 mayoritas pemilihnya adalah perempuan.

Bahkan pada Pemilu 2009 Miryam meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk kategori kampanye terbesar tingkat nasional dengan serba perempuan. Orator semua perempuan, 35 ribu massa semuanya perempuan, hingga polisi penjaga keamanannya adalah perempuan. Ketika itu Miryam melenggang ke Senayan dengan mengantongi 28.749 suara.

Miryam sangat menyadari, dapilnya sangat sarat dengan permasalahan perempuan. Bahkan di kalangan masyakat dan peneliti sudah menjadi stempel atau stereotipe tertentu. Tentu sangat negatif.

"Dapil saya itu daerah agraris, sementara pertaniannya sistem tadah hujan. Saat menunggu musim hujan itu disela dengan musim paceklik. Kalau musim paceklik, perempuan di dapil saya menjadi TKW atau jadi perempuan…," Miryam tak kuasa melanjutkan perkataannya.

Menghela napas sebentar, kemudian berujar, "Inilah pekerjaan rumah saya yang sampai kini belum terselesaikan. Entah sampai kapan. Tapi bagi saya yang penting terus bekerja dan minimal bermanfaat bagi konstituen.”

Saat masih aktif menjadi anggota DPR, Ketua Umum DPP Srikandi Hanura ini selalu mengajak kaum perempuan Indonesia untuk menjadi perempuan plus. Artinya, perempuan plus itu bisa menjadi politisi, bupati, walikota atau dokter atau profesi lainnya. 

"Bukan zamannya lagi perempuan Indonesia hanya berkutat di sumur, dapur dan kasur," ujar pemilik usaha konstruksi dan kafe ini.

Kesadaran Miryam berpartai dimulai sejak menjabat Wakil Sekjen Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai Bintang Reformasi yang saat itu dipimpin dai kondang Zainuddin MZ. Gagal jadi caleg, Miryam sempat menjauh dari politik. Hingga akhirnya ia kepincut sosok Wiranto di Partai Hanura.

"Saya awalnya tidak langsung tertarik masuk Hanura. Setelah saya jalani beberapa waktu, saya melihat Hanura adalah partai yang reformis, nasionalis, namun tetap agamis. Di situlah saya akhirnya memberanikan diri untuk kembali mencalonkan diri menjadi anggota DPR," ujarnya.

Kini, Miryam sudah dipecat Partai Hanura dan "Gadis Ahok" dalam Pilkada DKI Jakarta ini sudah mendekam di tahanan KPK. Miryam tak sempat lagi memberdayakan perempuan di dapilnya yang sudah dicap jelek secara sosial karena kini sibuk mengurus sengkarut hukum yang menjeratnya.

Duh!


Tags
#hanura
#miryam s haryani
#srikandi hanura
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID