logo rilis
Kholis Malik dan Ikhtiar Menuju Senayan
Kontributor
Taufiq Saifuddin
23 Agustus 2018, 23:13 WIB
Kholis Malik dan Ikhtiar Menuju Senayan
FOTO: RILIS.ID/Taufiq Saifudin

POLITIK konon mengandung candu. Hal demikian ini, dirasakan pula oleh bakal calon anggota legislatif nomor urut 2 dari Partai Golkar, Kholis Malik. Pada Pemilu 2019 nanti, adalah yang ketiga kalinya ia melecut semangat untuk maju di daerah pemilihan (Dapil) yang sama, Jawa Barat X. 

Pria kelahiran Ciamis, 7 Sepetember 1970 ini memang telah kenyang dengan aktivisme organisasi. Dalam kurun waktu 2002-2004, dirinya pernah didapuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Politik adalah jalan yang dipilih Kholis untuk mengabdi pada bangsanya. 

Meski demikian, langgam poltik praktis adalah kawah yang defisit keteladanan belakangan ini. Meski begitu, baginya, harus selalu ada orang yang mengurai benang kusut tersebut. “Makanya konsistensi dan kesungguhan tidak boleh lagi jadi barang langka,” ungkap Kholis saat ditemui rilis.id di kawasan Tebet, Jakarta, baru-baru ini. 

Kholis lalu menyeru kepada generasi muda untuk tidak berkecil hati. Indonesia surplus orang-orang baik. Semangat itulah yang ingin dibawanya menuju Senayan. Kholis merasa sama saja dengan orang kebanyakan, yang tak lahir dari keluarga berada. Sehingga peluhnya tak pernah lahirkan keluh. 

Pecinta novel sejarah ini, ingin membawa visi Revolusi Industri 4.0 bersamanya. Ia menjelaskan, telah terjadi perubahan cara kerja manusia di zaman ini. Ada semacam pergeseran ekonomi, dari lapak biasa ke dunia maya. Ia menitikberatkan dampak industri 4.0 ini kepada angkatan kerja. 

Tenaga kerja, terangnya, beriringan pula dengan bonus demografi angkatan muda Indonesia yang memonopoli jumlah pekerja secara keseluruhan. “Artinya, kalau usia produktif anak muda tidak diiringi dengan lapangan kerja, ya sama saja bohong,” tegasnya. Sehingga, menjadi politisi belakangan ini harus fokus pada penyiapan sumber daya manusia. 

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, hendak mengaitkan tantangan dan peluang revolusi industri 4.0 dengan potensi yang ada di dapilnya. “Saya akan bawa gagasan ini ke Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar,” ujarnya. 

Bagi Kholis, kerja parlemen tidak melulu berfokus pada perundang-undangan. Sangat diperlukan pula semacam political will untuk menyambungkan program eksekutif/kepala daerah dengan masyarakat. Dari situlah akan terbangun kolaborasi pemimpin dan rakyatnya, terutuama sekali angkatan mudanya. Sehingga, industri 4.0 adalah titik temu kerja sama antara politisi dan konstituen. 

Ayah dari tiga anak ini menjelaskan, Dapil Jabar X memiliki potensi yang tidak kalah dengan wilayah lainnya di Indonesia. Salah satunya ada di sektor pertanian. Dengan adanya kolaborasi dalam penerapan revolusi industri 4.0, nantinya akan tercipta lapangan kerja peralihan. Akhirnya, produksi pertanian tidak hanya berfokus pada pemanfaatan lahan. 

Sebab, lanjut Kholis, tanah tentu sangat berpengaruh pada kondisi alam dan ketersediaan air. Untuk itu, menciptakan lapangan kerja peralihan sangat penting. Hal ini, sangat terbantukan dengan perkembangan teknologi informasi yang demikian pesatnya. 

Sehingga, untuk sektor pertanian, fokus Kholis ke depannya adalah menelaah mata rantai pertanian sampai ke meja konsumsi. Hal itu meliputi, petani, ketersediaan lahan, air, pemasaran hasil pertanian dan produk pertanian sampai bisa dinikmati oleh konsumen. Dari sanalah akan lahir lapangan kerja baru bagi masyarakat di Dapil Jabar X. 

“Bentuknya, tentu bergantung pada teknologi. Misalnya, untuk ketersediaan air kita bisa berkolaborasi membuat bendungan. Dan yang paling penting adalah mengemas hasil pertanian dan menjualnya secara daring. Insya Allah, kalau kita berkolaborasi, itu semua bisa kita ciptakan,” terang Kholis sambil tersenyum optimistis. 

Kholis menambahkan, revolusi industri 4.0 sudah pasti akan sedikit banyak menggantikan kerja manusia. Ia lalu mencontohkan, jika sebelumnya ada 10 petani dalam penggarapan sebuah lahan, maka dengan adanya traktor dan teknologi pertanian lainnya, yang dibutuhkan bisa saja hanya 1 petani. “Jadi saat ini terjadi, 9 lainnya bisa ngurusin jualan daring, pengemasan produk pertanian dan seterusnya,” tambahnya.
 
Departemen Pemenangan Pemilu Jawa dan Kalimantan DPP Partai Golkar ini, tak ingin tinggal diam. Ia juga tak ingin larut dalam diskursus yang penuh dengan keluhan dalam menyikapi krisis multidimensi ini. Ia beranggapan, revolusi industri 4.0 merupakan gerak zaman dan telah terjadi di seluruh dunia. Maka, jalan yang harus diambil adalah mempersiapkan diri dan turut bersaing sehingga generasi Indonesia tidak tertinggal. 

Sektor lain yang juga ingin dikembangkan Kholis di Dapil Jabar X adalah pariwisata. Ia menyebutkan, potensi itu ada di keindahan alam Kabupaten Pangandaran yang tidak kalah dengan Pulau Dewata. Begitu juga dengan wisata sejarah yang ada di Kabupaten Ciamis, seperti Kerajaan Galuh. Kabupaten Kuningan pun demikian, disana pernah terjadi peristiwa penting Perjanjian Linggarjati. 

Namun, yang sangat ingin dikembangkan oleh suami dari Wahyuni Refi Setya Bekti ini adalah pemasaran sektor pariwisata berdasarkan kearifan lokal. Ia berpendapat, kesusastraan dan kesenian masayarakat di Dapil Jabar X juga harus dikapitalisasi, sehingga memiliki dampak ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat. 

Menurutnya, produk kebudayaan seperti karya sastra dan seni tidak boleh terhenti dan hanya dinikmati oleh masyarat Jawa Barat saja. Ada khalayak Indonesia dan dunia yang juga bisa merasakan kehebatan karya-karya tersebut. Ia pun optimistis, jika ini bisa dijalankan maksimal maka akan tercipta pasar yang luas bagi masyarakat di dapilnya.
 
Ia pun berjanji, jika terpilih nantinya menjadi anggota DPR RI, dirinya akan berupaya untuk membentuk tim guna menerjemahkan karya sastra yang ada di Jawa Barat ke dalam bahasa nasional dan internasional. Begitu juga, dengan membabarkan seni musik dan terutama seni pertunjukan. Dengan begitu, ia berharap, penerimaan pendapatan warga dapat terbantukan. 

“Sekali lagi ini adalah kerja kolaborasi, anak muda itu jadi penentu. Kuncinya adalah membuat konten kreatif yang kekinianlah terhadap kesusastraan dan keseniaan di Jawa Barat. Khususnya di dapil saya,” Kholis menyebutkan. 

Sosok penikmat kopi ini menyebutkan, hal demikian itu adalah kerja babarengan dengan anak milenial. Sebab, hasrat anak muda zaman sekarang ini memang dekat dengan internet. Tinggal bagaimana menciptakan karya yang bisa menjadi tontonan menghibur sekaligus menjadi tuntunan. “Dan yang tidak kalah penting, bisa membantu perekonomian masyarakat,” ditambahkannya. 

Revolusi industri 4.0 bak sepak bola. Dipilih Kholis untuk menarik minat anak muda guna membangun potensi diri dan daerahnya. Ia berkeyakinan, generasi milenial bila diwadahi dengan aktivitas menarik akan lebih produktif dalam berkarya. Sebagaimana lazimnya olah raga yang menggunakan bola, di dalamnya tentu membutuhkan kerja tim yang tidak sederhana untuk mencetak gol. 

Melalui visi ini, Kholis ingin menjelaskan bahwa kekayaan di Dapil Jabar X yang melimpah di sektor pertanian dan pariwisata, tak akan berarti tanpa adanya kerja keras. Seperti tradisi sepak bola yang mengharuskan adalah kedisiplinan tinggi agar memperoleh kemenangan. Membangun Dapil Jabar X bagi Kholis adalah kerja tim dari seluruh komponen yang terlibat di dalamnya. 

Industri 4.0 adalah wadah menempa potensi diri. Memunculkan keberanian untuk menatap masa depan secara setara. Orang yang bergelut didalamnya selalu memiliki good will, dengan begitu kesejahteraan sudah sejengkal dari kaki.

Kholis bercita-cita menjadikan wadah ini tempat berkreasinya masyarakat di Dapil Jabar X. Akankah cita ini terwujud? Kita tunggu saja 17 April 2019 nanti. 

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)