Ketika Banjir Berkunjung Lagi - RILIS.ID
Ketika Banjir Berkunjung Lagi
Zulhamdi Yahmin
Jumat | 09/02/2018 17.15 WIB
Ketika Banjir Berkunjung Lagi
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

RILIS.ID, – BOCAH itu terbaring pulas beralaskan karpet dan kain sarung. Tapi, wajahnya menyimpan keluh, terlihat dari rautnya yang merengut. Bukan suara rintik gerimis yang menganggunya. Sudah dua hari ini, Januar, 5 tahun, demam cukup tinggi.

Sang kakak, Aldi (14) duduk di sebelahnya. Kedua tangannya bolak-balik, bergantian mengibaskan kipas anyaman ke adiknya yang lagi terlelap. Ia tak kalah gelisah, karena suhu badan Januar belum juga turun meski sudah minum obat.

"Udah dikasih obat tapi belum turun demamnya," kata Aldi sambil menggaruk kaki yang dari kemarin gatal-gatal. 

Sejak Senin, 5 Februari kemarin, kedua anak ini bersama orang tuanya, tinggal di sebuah tenda pengungsian sepanjang Jalan Jatinegara. Di sana lah posko banjir dari pemerintah dan sejumlah relawan berdiri. Rumah mereka terendam air.

Bukan hanya Aldi dan keluarga, ada ratusan orang warga dari Kampung Pulo, Jakarta Timur yang mendiami hunian sementara itu. Belum termasuk mereka dari kawasan terdampak banjir lainnya. Kiriman air Bogor waktu itu sangat dahsyat.

Sungai Ciliwung, di dekat rumahnya, RW 003 Kampung Pulo, meluap begitu cepat. Puncaknya, cerita Aldi, pada Senin tengah malam, pukul 00.00 WIB. "Airnya udah seleher, bang," katanya.

Dengan Landing Craft Rubber (LCR) atau perahu karet, Aldi bersama warga lainnya langsung diangkut ke lokasi pengungsian. Sampai Rabu, 7 Februari malam, mereka belum bisa pulang ke rumahnya, karena air belum surut secara total.

Seorang relawan di posko tersebut, Diko Nugraha mencatat ada 770 orang korban banjir di lokasi pengungsian tersebut. Namun, jumlah itu masih sebagian, karena sisanya ditampung ke rumah susun warga (rusunawa) serta posko lain.

"Dari tiga RT saja menurutnya, ada sekira 770 jiwa yang mengungsi," kata Diko.

Tak hanya di Kampung Pulo, banjir cukup parah juga terdapat pada 31 titik lain Ibu Kota. Per Selasa, 6 Februari kemarin, sedikitnya ada 6.532 orang yang mengungsi di Jakarta Timur dan Selatan akibat meluapnya sungai Ciliwung.

"Paling banyak di Jakarta Selatan 3.900 jiwa dan Jakarta Timur 2.632 jiwa," kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, belum lama ini.

Sejauh ini, menurut pantauan, kebutuhan dasar para pengungsi masih terpenuhi. Antara lain, makanan, alas tidur, selimut serta obat-obatan, telah tersedia. Sekarang, tinggal bagaimana banjir cepat suruh, sehingga warga bisa pulang.

"Pompa mobile juga siap. Kita pastikan seluruh pompa di muara masih bekerja dengan baik," ujar orang nomor satu di Pemprov DKI ini.

Tidak Maksimal

Pengamat Lingkungan Perkotaan Jakarta, Ubaidillah, mengatakan debit air Sungai Ciliwung tampaknya lambat turun. Karena, kiriman dari Bogor masih mengalir, sementara pompa yang disiapkan tak mampu menyedot secara cepat.

"Dan Kanal Banjir Timur (BKT) tidak maksimal dalam menampung air melalui sodetan dari sungai Ciliwung," kata Eks aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta ini.

Genangan air yang menenggelamkan sejumlah permukiman warga tersebut, kata dia, memiliki kedalaman sekisar satu sampai dua meter. Banjir yang paling parah berada wilayah Rawajati dan Pejaten Timur, Jakarta Selatan.

Cuma, tak usah kaget. Banjir adalah masalah klasik yang "mengutuk" Jakarta. Apa yang terjadi pada awal Februari ini, bukan pertama kalinya terjadi menimpa warga di sana. Pangkalnya masih sama, yakni Bendungan Katulampa.

Dari data dihimpun Ubaidillah, setidaknya sudah empat kali bendungan tersebut masuk status siaga I dalam lima tahun terakhir. Antara lain pada Januari 2013, November 2015, Maret-April 2016 dan terakhir 5 Februari 2018.

"Mereka yang berdekatan Sungai Ciliwung menjadi korban terdampak banjir," kata dia.

Sekarang yang harus dipikirkan penanganan pascabanjir. Para pengungsi mulai terserang penyakit, seperti demam, diare dan tak sedikit yang merasa gatal-gatal. Pemprov DKI Jakarta harus tanggap menangani urusan ini.

Petugas medis dari sejumlah puskesmas di area terdampak banjir, memang sudah diterjunkan. Banyak penyakit pascabanjir yang kerap menjangkit para pengungsi. Di antaranya gatal karena jamur, demam, dan batuk pilek.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Koesmedi Priharto mengatakan, sejauh ini belum ada lonjakan pesat dari warga yang menjadi korban terdampak banjir. Cuma, bukan berarti dianggap remeh, karena harus diwaspadai.

"Misal, leptospirosis, ISPA, diare, tipes, dan demam berdarah (DBD)," katanya. 

Cuma, masalahnya bagaimana sekarang menganggulangi banjir. Sebab, masalah ini terus menerus menjadi persoalan rutin yang menjadi momok warga Jakarta. Pun banyak warganet yang membanding-bandingkan masa kepemimpinan Ahok dan Anies.

Sebenarnya, Anies memiliki modal kuat dengan gagasan sumur resapan. Di tambah, progres pembangunan yang pernah dilaksanakan era Gubernur Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Hanya, mengapa tetap banjir? (bersambung)

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID