logo rilis
Kemenkes Ungkap Prinsip-prinsip yang Harus Dipenuhi dalam Pembuatan dan Pemakaian APD
Kontributor
Elvi R
09 April 2020, 15:00 WIB
Kemenkes Ungkap Prinsip-prinsip yang Harus Dipenuhi dalam Pembuatan dan Pemakaian APD
Pembuatan APD. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria

RILIS.ID, Jakarta— Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Republik Indonesia Ketua Aliansi Telemedis Indonesia Bambang Wibowo mengungkapkan prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam pembuatan alat perlindungan diri (APD). Dia mengatakan, APD harus dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya seperti percikan, kontak langsung, maupun tidak langsung.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat dan fasilitas kesehatan yang membuat alat pelindung diri (APD) memperhatikan kualifikasi dan spesifikasi bahan produksi.

"Untuk masyarakat dan fasilitas kesehatan yang membuat APD sendiri, juga agar memperhatikan kualifikasi atau spesifikasi bahan yang diperlukan," ujar Bambang dalam konferensi pers secara daring di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (9/4/2020).

Seperti apa kualifikasi dan spesifikasi yang dimaksud, yuk cek penjelasnnya di bawah ini.

1. Spesifikasi APD
Spesifikasi APD, lanjut Bambang, hendaknya terbuat dari material seringan mungkin dan nyaman digunakan, dapat dipakai secara fleksibel, tidak menimbulkan bahaya tambahan, tidak mudah rusak, memenuhi ketentuan dari standar yang ada, pemeliharaan mudah dan tidak membatasi gerak petugas kesehatan. 

2. Beberapa jenis APD,

Adapun jenis APD antara lain masker, termasuk masker N95, masker bedah dan masker kain, pelindung wajah, pelindung mata, gaun, celemek atau apron, sarung tangan, pelindung kepala dan sepatu pelindung

"Kemenkes telah menerbitkan buku petunjuk teknis di sini sudah lengkap terkait dengan standar seperti apa yang diperlukan oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat dan pasien, dan jenis-jenis apa yang digunakan," ujar Bambang.

3. Penggunaan APD harus tepat guna

Menurut Bambang, akan mampu mencegah transmisi SARS Cov-2, penyebab COVID-19, sementara pembuatan APD mandiri diharapkan dapat membantu tetap terjaganya ketersediaan APD selama masa pandemi. Bambang menjelaskan APD sebagai penghalang memiliki potensi untuk memblokir penularan kontaminan seperti darah, cairan tubuh atau sekresi pernapasan.

"Penggunaan APD yang tepat guna akan mampu bertindak sebagai penghalang, antara bahan infeksius sebagai virus dan bakteri, pada kulit mulut hidung atau selaput lendir mata bagi tenaga kesehatan maupun pasien," kata Bambang.

4. Diikuti praktik kesehatan yang dianjurkan

Selain itu, Bambang mengingatkan penggunaan APD yang tepat guna juga harus disertai praktik pengendalian infeksi lainnya oleh tenaga kesehatan maupun dokter dan perawat, seperti lima momen cuci tangan, etika batuk dan bersin.

"Serta, penting sekali lagi pemindahan atau pembuangan APD yang telah terkontaminasi atau telah digunakan untuk mencegah terpaparnya pemakai atau orang lain terhadap bahan infeksius," kata Bambang.

Saat ini, kebutuhan APD sangat tinggi, sementara ketersediaan APD sangat terbatas. Namun, pada saat pandemi COVID-19, APD tidak hanya digunakan dan diperlukan oleh dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain. Tetapi juga pasien dan masyarakat, sehingga memang diperlukan produksi APD sendiri.
 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID