Keluarga Berencana - RILIS.ID
Keluarga Berencana
Mohammad Nasih
Rabu | 28/02/2018 15.16 WIB
Keluarga Berencana
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, – PADA tahun 1970-an, pemerintah Orde Baru membangun program Keluarga Berencana (KB), yang bahkan dikampanyekan dengan sangat gencar. Dari aspek penamaan, program ini sangat bagus, karena sebuah keluarga memang memerlukan perencanaan yang baik dan matang untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera sebagaimana tujuan program tersebut. 

Namun, program tersebut terdistorsi oleh jargon “dua anak cukup”. KB, karena itu, dipahami tidak lebih sebagai memastikan agar anak tidak lebih dari dua orang saja untuk menekan ledakan penduduk yang saat itu dianggap sebagai tantangan besar. Karena itu, dilakukan berbagai bentuk pengendalian kelahiran, di antaranya dengan menggunakan alat kontrasepsi. 

Bahkan, di desa-desa waktu itu, setiap kali akan melakukan pemasangan alat kontrasepsi, masyarakat menyatakan akan mengikuti KB. Kesesatan paradigma ini terjadi sampai saat program ini tidak lagi semeriah dulu. Dengan kata lain, program ini sudah tidak begitu terdengar, tetapi fondasi konseptualnya yang keliru itu masih tetap ada dan tertanam kuat dalam benar sebagian masyarakat. 

Tujuan paling substansial KB mestinya adalah kelahiran generasi yang lebih berkualitas, sehingga bisa memperkuat negara. Tidak ada gunanya juga jika tingkat kelahiran turun, tetapi kualitas generasi baru tidak mengalami peningkatan. Bahkan minus demografi juga bisa menjadi ancaman tersendiri, sebagaimana saat ini dialami oleh beberapa negara dengan biaya hidup tinggi dan masyarakatnya mengidap sindrom workaholic. Karena itu, KB mestinya dibangun dengan fondasi dan kerangka konseptual yang komprehensif. 

Di antrara yang perlu menjadi perhatian utama untuk melahirkan anak-anak yang berkualitas, adalah kecerdasan para ibu. Para ibu yang memiliki kecerdasan cukup, akan menjadi tidak hanya madrasah yang pertama (al-madrasat al-ûlâ), tetapi juga yang utama (al-madrasat al-awlâ). Semakin banyak jumlah anak yang dimiliki oleh keluarga yang baik, maka akan semakin baik pula efeknya bagi masyarakat dan negara. Sebaliknya, sebuah keluarga yang tidak berkualitas jika memiliki anak dengan jumlah yang banyak, justru berpotensi besar menyebabkan masalah. Mereka bukan menjadi tiang negara, melainkan sebaliknya, menjadi beban negara.  

Gagasan tentang pembangunan generasi yang berkualitas dan punya loyalitas tinggi kepada negara sudah pernah muncul dari para filsuf Yunani Kuno. Dalam konteks saat itu, anak-anak dipandang sebagai aset utama negara, terutama karena yang laki-laki bisa menjadi tentara yang sangat diperlukan untuk melakukan bela negara. Hanya saja, ide mereka sangatlah ekstrem. 

Ide para filsuf Yunani Kuno itu dipengaruhi oleh paradigma tentang kualitas manusia yang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Karena itulah mereka mengusulkan agar orang-orang yang berkualitas tinggi dinikahkan secara spiritual. Lalu anak-anak mereka dipisahkan untuk diasramakan, agar loyalitas mereka bukan kepada orang tua, melainkan kepada negara. Ini di antara gagasan tentang model perencanaan untuk melahirkan generasi pembela negara.

Dalam konteks program KB di Indonesia, yang bisa diambil pelajaran dari ide para filsuf Yunani Kuno tersebut adalah keluarga yang berkualitas mestinya harus didukung oleh negara, agar SDM yang lahir adalah SDM yang berkualitas tinggi. Warga negara yang berkualitas, harus didukung untuk membangun perencanaan yang baik, agar melahirkan generasi berkualitas dalam jumlah sebanyak-banyaknya. 

Inilah yang sesungguhnya memerlukan perencanaan. Sebab, untuk melahirkan SDM yang berkualitas tinggi, diperlukan usaha-usaha mulai dari pertemuan dua orang lelaki dan perempuan untuk menjalin hubungan dalam ikatan pernikahan, pembuahan, proses dalam kandungan, proses lahir, setelah lahir, masa tumbuh kembang sampai benar-benar menjadi manusia mandiri yang memiliki keunggulan untuk memberikan kontribusi kepada pembangunan masyarakat dan negara. Sebaliknya, keluarga yang telah terbukti melakukan penelantaran kepada anak-anak mereka, harus mendapatkan sanksi yang tegas. Sebab, menelantarkan anak, sesungguhnya adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap mereka.  
  
Karena itu, program ini harus dilanjutkan dengan perencanaan yang benar-benar matang dan komprehensif, juga dilakukan dengan aksi-aksi yang konkret di lapangan. Para pemuda yang hendak menikah, harus mendapatkan pelatihan yang serius untuk membangun keluarga yang berkualitas. Sebab, tujuan pernikahan bukan sekadar melampiaskan nafsu seksual secara halal dan legal, tetapi yang lebih substansial dari itu adalah untuk meneruskan keturunana, agar terjadi regenerasi yang makin berkualitas. 

Dengan adanya regenerasi yang makin berkualitas, maka sebuah negara akan bisa didorong untuk menjadi lebih maju, bahkan terus mengalami akselerasi. Dan yang lebih penting lagi, banyak anak bukan lagi menyengsarakan dan merepotkan, melainkan sangat menyenangkan, karena justru membuka peluang banyak rizki. Wallahu a’lam bi al-shawab. 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID