logo rilis
Kehadiran yang Menggenapkan
kontributor kontributor
Dadang Rhs
18 Oktober 2017, 11:34 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Kehadiran yang Menggenapkan

“SAYA tidak akan membawa orang yang dapat bertarung dengan harimau dengan tangan kosong, atau menyeberangi sungai tanpa perahu. Saya ingin seseorang yang mendekati kesukaran dengan hati-hati dan yang memilih sukses dengan strategi.”

Penjelasan ini adalah jawaban seorang guru atas pertanyaan muridnya. Sang murid bertanya, “Jika guru memimpin pasukan yang hebat, orang seperti apa yang guru inginkan bersama Anda?”

Baca Juga

Michael Tang menuliskan kutipan dialog dalam buku Kisah-Kisah Kebijakan China Klasik, Refleksi bagi para Pemimpin. Dialog itu ia sitir dari Konfusius.

Memilih sukses dengan strategi. Mungkin inilah kunci yang perlu dipegang oleh seorang pemimpin. Kepiawaian mengelola harapan warga dengan saksama. Cermat dan tepat. Juga, presisi saat memilih diksi.

Memang tak mudah. Cakrawala seorang pemimpin akan menjadi pemandu sekaligus penentu. Karena, seorang pemimpin adalah sandaran atas harapan pengikutnya. Tiap-tiap kebijakan seorang pemimpin akan menuntun ke arah mana barisannya hendak bergerak. Tindak-tanduk dan perkataannya akan memengaruhi semangat, keutuhan, juga kohesivitas tiap-tiap warga. Salah saja sang pemimpin memberi pertanda atau berucap, hal ini bisa berakibat buruk. Bahkan, mungkin, akan menyita perhatian dan tenaga yang tak terbilangkan. Sekali saja ia memantik api prasangka, ia akan mengobarkan amarah yang sulit untuk dipadamkan.

Michael Tang, di bukunya, dalam satu bab khusus mensarikan buah pikiran Sun Tzu yang termasyhur, “Seni Perang” (Sun Tzu, The Art of War). "Seorang jenderal yang kuat dengan pasukan yang lemah atau seorang jenderal yang lemah dengan pasukan yang kuat adalah pertanda kekalahan."

Pemimpin yang baik tentu bukanlah demagog. Konsekuensi atas tindakan pemimpin akan ditanggung oleh tiap-tiap orang di bawah wilayah kepemimpinannya. Baik oleh yang memercayai ataupun tidak memercayainya. Kegembiraan ataupun nestapa. Kemuliaan juga hinaan.

Warga yang orang kebanyakan tentu tak punya waktu untuk mencari tahu niat pemimpin mereka. Warga hanya dapat mengikuti arah tindakan juga perkataan pemimpinnya. Seorang pemimpin adalah nakhoda bagi warganya. Tenggelam atau tiba ke alamat tujuan sebuah bahtera akan ditentukan oleh sang nakhoda. Niat adalah satu hal, karena niat baik pada satu saat akan menjadi buruk tatkala hadir dalam tindakan yang tidak tepat. Niat adalah milik privat, sedang ucapan dan tindakanlah yang hadir di ruang publik.

Pemimpin yang lancung tidak akan pernah membawa sampai ke tujuan. Kejujuran seorang pemimpin hanya dapat dibuktikan dengan keberaniannya untuk memperbaiki kesalahannya. Bahkan atas sesuatu yang mungkin dianggap sebagai hal yang remeh. Sejarah menunjukkan betapa tak sedikit pemimpin hebat jatuh dan terjungkal hanya karena terpeleset “kulit pisang”.

Atas peran seorang pemimpin, ada pepatah Arab yang kurang lebih berbunyi demikian: “Kehadiranmu haruslah menggenapkan, ketidakhadiranmu haruslah mengganjilkan.”

Alhasil, apa pun kemudian, tiap-tiap warga tentu saja memerlukan kehadiran pemimpin yang dapat menggenapkan impian mereka akan hasrat hidup bersama. Hidup yang bersahaja. Itu saja.


#Seni Perang
#Sun Tzu
#The Art of War
#Kolom
#Merdeka
#Dadang Rhs
#Gagasan
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID