Kampus Harus Deteksi Dini Paham Radikalisme - RILIS.ID
Kampus Harus Deteksi Dini Paham Radikalisme

Sabtu | 06/05/2017 22.32 WIB
Kampus Harus Deteksi Dini Paham Radikalisme
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir. FOTO: litbangkemdagri

RILIS.ID, Semarang— Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir menegaskan rektor perguruan tinggi harus mampu mendeteksi jika ada paham atau gerakan radikalisme yang masuk ke kampus.

"Rektor bertanggung jawab terhadap ini. Radikalisme (masuk, red.) di dalam kampus, rektor yang bertanggung jawab," katanya usai menyampaikan kuliah umum di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jawa Tengah, Sabtu (6/5/2017).

Pada kesempatan itu, dilakukan pula deklarasi semangat bela negara, antinarkoba, dan antiradikalisme yang ditandatangani oleh mantan Rektor terpilih Universitas Diponegoro Semarang (Undip) tersebut.

Nasir mengingatkan paham radikalisme bisa menjangkiti kalangan kampus baik dosen maupun mahasiswa sehingga sudah disiapkan regulasi yang mengaturnya, termasuk mengenai sanksi yang akan diterapkan.

"Untuk antisipasi, kami bersama kementerian-kementerian lain sedang menyiapkan regulasi untuk menguatkan langkah antiradikalisme," kata Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip itu.

Di dalam kurikulum perkuliahan pun, kata dia, sudah disiapkan mengenai pencegahan paham dan gerakan radikalisme yakni mata kuliah Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan mengenai empat pilar kebangsaan.

"Wawasan Kebangsaan berisi mengenai empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika," kata sosok kelahiran Ngawi, 27 Juni 1960 itu.

Indonesia, kata Nasir, menyatakan diri, melalui perguruan-perguruan tinggi, baik PT negeri maupun swasta, serta bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk membasmi radikalisme di kampus.

Sementara itu, Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius menegaskan perguruan tinggi merupakan wadah pendidikan yang menjadi pusat persemaian calon tunas bangsa generasi penerus yang harus steril dari hal negatif.

"Hal negatif, seperti radikalisme, narkoba, dan lain sebagainya. Kami secara aktif dan masif melaksanakan ini dengan Kemenristek Dikti. Ke depan juga dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," katanya.

Dalam kaitan ini, Suhardi menekankan perlunya kepedulian dari seluruh civitas akademika, mulai dosen, dekan, hingga rektor untuk memahami terhadap dinamika di kampus untuk mendeteksi radikalisme sejak dini.


9.

Infrastruktur Pertanian Terus Dibangun

RILIS.ID, Banda Aceh— Presiden Joko Widodo memastikan pembangunan infrastruktur pertanian mulai dari waduk, embung, hingga irigasi sekunder dan tersier akan berkelanjutan untuk menjamin ketersediaan air yang memadai bagi pertanian.

"Pertanian itu kuncinya di air, kalau airnya enggak ada darimana kita mau menanam?" kata Presiden Jokowi saat membuka Pekan Nasional Petani Nelayan ke-15/2017 di Stadion Harapan Bangsa, Gampong Lhong Raya, Banda Aceh, Provinsi Aceh, Sabtu (6/5/2017).

Menurut Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Presiden Jokowi menyebutkan sebanyak 49 waduk besar yang tersebar mulai dari Sabang sampai Merauke tengah dibangun pemerintah.

"Banyak sekali, tapi yang paling banyak di Nusa Tenggara Timur karena di situ sangat membutuhkan," kata Presiden.

Presiden juga telah memerintahkan Menteri Pertanian serta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk membangun embung-embung kecil. "Target kita tahun ini 30 ribu embung harus jadi," ucapnya.

Pemerintah menjanjikan pembangunan irigasi sekunder dan tersier akan tuntas pada 2017 sebagaimana yang dijanjikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman tiga tahun lalu.

"Bagaimana masalah irgasi sekunder, tersier? Menteri Pertanian menyampaikan sampai saat ini sudah mencapai tiga juta hektare. Saya belum menghitung, Pak Menteri sudah menghitung. Kalau kurang, awas," kata Presiden Jokowi.

Presiden mengingatkan gubernur, wali kota, dan bupati untuk mulai mencari tanaman-tanaman unggulan di daerahnya yang memiliki harga jual yang baik. "Jangan kita ini terpaku pada tanaman-tanaman tertentu saja," ucap Presiden.

Kakao dan kopi adalah contoh dari komoditas yang memiliki harga jual yang baik. Untuk kakao misalnya, permintaan di dalam negeri tinggi tapi suplainya masih kurang. "Kopi harganya juga naik terus," ucap Presiden.

Presiden menceritakan pengalamannya saat dirinya tinggal di Aceh di mana hampir setiap pagi menikmati kopi gayo. "Karena kopi gayo enak sekali," ucap Presiden.


10.

Pengamat Militer Dukung Tentara Dikerahkan ke Perbbatasan

RILIS.ID, Jakarta—  Pengamat militer Mayor Jenderal TNI (Purn) I Gusti Kompyang Manila menilai wacana Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengerahkan personel TNI ke kawasan perbatasan berpeluang menumbuhkan kecintaan pada negara.

"Kalau dilihat masyarakat perbatasan akses informasinya terbatas, sehingga seringkali lebih banyak dapat berita dari negara sebelah," ujar IGK Manila, dalam diskusi "Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa", di Senayan, Jakarta, Sabtu (6/5/2017).

Selain itu, harga kebutuhan pokok maupun barang-barang di negara tetangga seringkali lebih murah dibandingkan di dalam negeri.

Kondisi tersebut yang kerap menunjukkan adanya kesenjangan ekonomi di perbatasan, kata Manila yang juga Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu lagi.

Namun, menurut dia, selain menghadirkan keamanan selayaknya tugas TNI, kelak pengerahan aparat ke wilayah terluar Indonesia juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di sana.

Ia mencontohkan adanya pembangunan pusat-pusat perbelanjaan, perbaikan akses jalan, serta pembuatan pusat komunikasi sebagai peningkatan taraf hidup masyarakat di perbatasan.

"Dengan kehadiran TNI, kecintaan terhadap negara ini lama-lama meningkat. Warga di perbatasan tidak akan melirik negara tetangga lagi, ini salah satu manfaatnya," kata mantan Direktur Akademi Olahraga Indonesia (AKORIN) terseb


Tags
#radikalisme
#narkoba
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID