Jelang Natal dan Tahun Baru, Optimis Harga dan Stok Cabai Terkendali - RILIS.ID
Jelang Natal dan Tahun Baru, Optimis Harga dan Stok Cabai Terkendali

Rabu | 01/11/2017 01.32 WIB
Jelang Natal dan Tahun Baru, Optimis Harga dan Stok Cabai Terkendali
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono, saat memberikan pengarahan kepada para petani unggulan agar men

RILIS.ID, Jakarta— Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) optimis stok cabai jelang Natal 2017 dan tahun baru 2018 stabil. Sebab, terjadi surplus produksi pada Oktober-November.

"Berdasarkan prognosis yang kamu lakukan, neraca produksi cabai rawit dan cabai besar surplus di bulan Oktober dan November," ujar Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono, di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Menurut perhitungan Ditjen Hortikultura, produksi cabai rawit dari luas tanam 46.589 hektare pada Oktober sebanyak 77.983 ton atau 8.669 ton lebih banyak dibanding kebutuhan. Sedangkan pada November, prognosis ketersediaannya mencapai 77.792 ton yang dihasilkan dari 52.773 hektare dan kebutuhan 69.344 ton atau surplus 8.448 ton.

Cabai rawit tersebut dihasilkan dari 20 daerah sentra produksi terbesar, yakni Lombok Timur, Banyuwangi, Jember, Banjarnegara, Malang, Brebes, Blitar, Probolinggo, Situbondo, Sampang, dan Garut. Lalu, Lumajang, Wonosobo, Temanggung, Boyolali, Magelang, Takalar, Jombang, Bondowoso, dan Bojonegoro.

Untuk cabai besar pada Oktober, prognosis Ditjen Hortikultura atas ketersediaannya sebanyak 100.373 ton yang dipanen dari lahan seluas 35.028 hektare atau kelebihan 8.905 ton dari kebutuhan sebesar 91.468 ton. Pada November, diperkirakan surplus 8.124 ton, karena produksi dari lahan seluas 34.559 hektare ditaksir 100.464 ton dan kebutuhan cuma 92.340 ton.

Adapun sentra produksi cabai besar ialah Karo, Brebes, Temanggung, Rejang Lebong, Garut, Tanah Datar, Kerinci, Magelang, Solok, dan Malang. Kemudian, Simalungun, Agam, Maros, Tapanuli Utara, Wonosobo, Lombok Timur, Tasikmalaya, Rembang, Serang, dan Banyuwangi.

Spudnik pun berkeyakinan, harga cabai jelang dua hari besar tersebut akan tetap stabil. Sebab, berdasarkan sepanjang Januari-Oktober 2017, gejolak cuma terjadi di awal tahun lalu serta cenderung turun dan stabil kemudian. "Ketika Idul Fitri dan Idul Adha, juga tidak ada masalah berarti untuk harga," jelasnya.

Meski demikian, peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya ini menegaskan, Kementan terus berupaya mempertahankan capaian positif tersebut. Salah satu upaya yang baru-baru ini dilakukan adalah mengumpulkan petani unggulan (champion) di Yogyakarta, 25-27 Oktober kemarin.

"Pada kesempatan itu, kami meminta agar champion terus mengawal kebijakan pemerintah. Sehingga, harapan kita bersama, harga yang stabil di tingkat petani sampai konsumen dan stok yang terus terjaga sepanjang waktu, terealisasi," bebernya.

Guna mengantisipasi harga di tingkat petani jatuh karena stok melimpah, lanjut Spudnik, Kementan juga telah melakukan beragam cara. Misalnya, mendorong hilirisasi oleh petani. Maksudnya, hasil panen dapat diolah menjadi produk baru yang lebih berkualitas dan awet. Hal tersebut pun mendorong peningkatan kesejahteraan petani, karena langsung merasakan nilai tambah.

"Kementan juga berupaya memfasilitasi petani dengan industri rumah tangga, olahan maupun horeka (hotel, restoran, dan katering), agar hasil panennya bisa dapat langsung diserap. Jika dibutuhkan, kami juga akan bersurat kepada Bulog untuk segera menyerap hasil panen petani," tandas mantan Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan itu.


Tags
#Kementan
#Ditjen Hortikultura Kementan
#Spudnik Sujono
#Cabai
#Natal
#Tahun Baru 2018
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID