Isu Perang Dagang Tak Goyahkan Investor, Rupiah Diprediksi Menguat - RILIS.ID
Isu Perang Dagang Tak Goyahkan Investor, Rupiah Diprediksi Menguat
Elvi R
Selasa | 10/07/2018 10.50 WIB
Isu Perang Dagang Tak Goyahkan Investor, Rupiah Diprediksi Menguat
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta – Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed mengatakan, Rupiah memasuki pekan perdagangan baru dengan positif, karena Dolar AS melemah. Perhatian investor akan tertuju pada data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan untuk dirilis di hari Rabu (11/7/2018). Data penjualan Mei dianggap bisa memberi wawasan baru mengenai keadaan ekonomi Indonesia.

"Jika data aktual lebih besar dari proyeksi pasar yaitu 4,4 persen maka Rupiah berpotensi semakin menguat," ungkap Hussein di Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Hussein menyebut, ketegangan dagang mendominasi tajuk utama pekan lalu, namun investor Wall Street mengabaikan isu perang dagang dan menyambut gembira laporan lapangan kerja Amerika Serikat. Data menyebutkan 213 ribu lapangan kerja baru dibuka di ekonomi AS di Juni, bahkan jauh melampaui proyeksi sebanyak 195 ribu. Sementara itu, data Mei meningkat dari 223 ribu menjadi 244 ribu lapangan pekerjaan baru. Pertumbuhan upah sedikit lebih rendah dari ekspektasi 2,8 persen YoY yaitu 2,7 persen.

"Walau demikian, pertumbuhan lapangan kerja yang baik dan rendahnya inflasi upah adalah kombinasi positif untuk saham karena alasan sederhana. Pertumbuhan lapangan kerja yang baik mencerminkan kekuatan ekonomi, inflasi upah yang rendah memberi fleksibilitas ekstra untuk Federal Reserve untuk memperketat kebijakan," jelasnya.

Kendati demikian, keadaan positif bisa terhenti kapan saja apabila investor yakin bahwa ketegangan dagang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Sejauh ini, AS telah memberlakukan tarif US$34 miliar untuk impor dari China, begitu pula China terhadap impor AS. Tahap ini jelas sudah terefleksikan pada harga. Meninjau kinerja saham Asia hari ini, investor sepertinya tidak berpendapat bahwa perang dagang akan terjadi. 

"Walau begitu, Presiden Trump sulit ditebak sehingga momentum naik ini sepertinya akan terbatas, terutama untuk saham siklikal, hingga ada kejelasan mengenai isu perdagangan," kata Hussein.

Di pasar FX, Indeks Dolar merosot ke level terendah sejak 14 Juni yaitu di bawah 94 karena pertumbuhan upah yang stagnan. Trader perlu memantau rilis Indeks Harga Konsumen AS di hari Jumat pekan ini yang diperkirakan akan meningkat 2,9 persen YoY yang merupakan peningkatan tahunan terbesar sejak Februari 2012. Apabila IHK melampaui acuan 3 persen, maka Dolar berpotensi sangat menguat karena ini berarti Fed tidak memiliki pilihan selain semakin memperketat kebijakan.  
 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID