logo rilis
Internet Sulit, 463 Juta Pelajar di Dunia Tidak Bisa Akses Belajar Daring
Kontributor
Rilis
26 Februari 2021, 15:19 WIB
Internet Sulit, 463 Juta Pelajar di Dunia Tidak Bisa Akses  Belajar Daring
Foto: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Pandemi covid-19 telah mengubah tata cara belajar mengajar dari sistem tatap muka langsung menjadi pembelajaran jarak jauh di Indonesia.

Menurut laporan yang dikeluarkan PwC dan Unicef bertajuk GenU (Generation Unlimited) tahun 2020, sekitar 463 juta anak muda tidak dapat mengakses pembelajaran secara daring selama sekolah ditutup.

Beberapa kaum muda berhenti bekerja karena mengalami kesulitan untuk akses internet, tidak memiliki perangkat komunikasi layak pakai, serta kurangnya keterampilan ilmu teknologi, informasi dan komunikasi (TIK).

Terkait kebutuhan tenaga kerja di Indonesia, Badan Pusat Statistik menganalisis kebutuhan tenaga kerja di perusahaan teknologi menjadi salah satu yang tertinggi.

Dari peningkatan kebutuhan ilmu TIK, di tahun 2019 mencapai 5,32 persen dibanding tahun 2018 sebesar 5,07 persen. Namun, peningkatan ilmu TIK belum merata karena peningkatan terjadi di DKI Jakarta sebesar 7,31 persen dan terendah di Papua, yaitu 3,33 persen pada tahun 2019.

Adanya keterbatasan akses dalam meningkatkan keterampilan ilmu TIK untuk programming data science dan data analisis menjadi salah satu penyebab. Padahal ilmu tersebut dapat dipelajari dalam waktu 12 minggu. Sehingga, siapapun yang tertarik menjadi praktisi bisa mempelajarinya melalui pusat pelatihan TIK informal.

Hal ini yang menjadi alasan bagi Magnifique dan Yayasan Dian Sastrowardoyo untuk menyelenggarakan webinar M-Class keenam bertema “Menjelajah Data Analisis dan Data Visualisasi dengan Mudah Menggunakan Metabase”.

Kegiatan itu menggandeng Hacktiv8 dan PwC Indonesia, yang ingin memberikan ilmu kepada para pemula untuk menjadi programmer siap kerja.

Webinar ini diikuti oleh 260 siswa dari berbagai daerah dan komunitas data analis, dengan pembicara Adhitia Saputra, Head of Marketing Hacktiv8, dan Marcello Dwianto, Manager PwC Indonesia.

“Dengan memperkenalkan pentingnya belajar data analisis dan data visualisasi dari Hacktiv8, kami bertujuan mendekatkan ilmu TIK kepada para siswa dan komunitas/organisasi yang tertarik pada bidang ini,” ungkap Dian Sastrowardoyo, Pendiri Yayasan Dian Sastrowardoyo, dalam siaran pers yang diterima Rilislampung.id, Jumat (26/2/2021).

Djohan Pinnarwan, Corporate Responsibility Leader dari PwC Indonesia menambahkan,  pandemi telah mempengaruhi setiap sektor, institusi, dan individu di seluruh dunia.

Program M-Class ini dapat menjawab empat tahap penting untuk membantu para siswa mengurangi kesenjangan digital, yaitu: konektivitas, akses, literasi digital dan keterampilan siap kerja.

Sementara Adhitia Hidayat Saputra mengatakan, saat ini masih banyak siswa yang belum paham pentingnya belajar ilmu pemrograman data analisis dan data visualisasi.

M-Class adalah sebuah inisiatif webinar dari Magnifique Indonesia dan Yayasan Dian Sastrowardoyo yang bertujuan untuk berkontribusi menyebarkan ilmu bermanfaat melalui sistem daring selama pandemi berlangsung.

“Webinar M-Class akan terus dilaksanakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh yang masih harus berlangsung selama masa pandemi ini,” pungkasArifaldi Dasril, Managing Partner Magnifique. (*)

 

Editor: Andry Kurniawan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID