Ini Cara Mencegah Virus Kuning pada Cabai - RILIS.ID
Ini Cara Mencegah Virus Kuning pada Cabai

Senin | 09/07/2018 10.45 WIB
Ini Cara Mencegah Virus Kuning pada Cabai
FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Jakarta – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman telah menginstruksikan jajaran Kementerian Pertanian mengawal swasembada cabai yang sudah dicapai, salah satunya dengan membantu petani menghadapi serangan penyakit. Jenis penyakit yang banyak dihadapi petani cabai di Indonesia adalah virus kuning (pepper yellow leaf curl) atau virus Gemini. 

Virus tersebut terdeteksi ditemukan di sentra-sentra produksi utama cabai seperti Cianjur, Kediri, Blitar, Banyuwangi dan beberapa sentra lain di Indonesia. 

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto melihat sendiri serangan berat virus ini pada bulan Maret 2018 di Kabupaten Kediri saat melakukan inspeksi lapangan dalam rangka pengawalan produksi aneka cabai menghadapi Idul Fitri 2018.

"Virus kuning menyerang kabupaten Kediri secara masif, lebih dari 80 persen dari 4000 hektare tanaman cabai terserang virus ini yang berpengaruh terhadap provitas cabai rawit di wilayah ini,” ungkapnya di Jakarta, Senin (9/7/2019).

Serangan virus ini diduga karena petani menggunakan benih varietas lokal yang sudah terserang virus kuning sebelumnya, tambahnya.

Menurut pengakuan salah seorang anggota kelompoktani cabai Gede Harapan Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Uden Suhendar, serangan virus kuning cukup membuat gelisah petani.

Gejala awal yaitu daun yang berubah warna lebih pucat, tulang daun memutih, lalu gejala berkembang menjadi warna kuning, bagian tulang daun menebal dan daun mengeriting ke arah atas.

“Kalau sudah terserang virus ini, kami menjadi was-was karena terbukti cepat menyebar dan berdampak menurunnya produktivitas panen cabai,” ujarnya.

Pakar virus dari Universitas Sungkyun Kwan, Profesor Sukchan Lee dan Dr. Kyuongyeol Pakar Entomologi khusus kutu kebul, dari Universitas Kyungbook, Korea Selatan saat mengunjungi sentra cabai di kabupaten Cianjur pada Sabtu 7 Juli, menjelaskan infeksi virus gemini menyebabkan daun cabai mengecil dan berwarna kuning terang. 

Virus Gemini ditularkan oleh serangga vector jenis kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci).

Jika tanaman terserang pada umur muda, biasanya tanaman menjadi kerdil dan tidak berbuah. 

“Virus ini memang tergolong bandel dan sulit dimatikan, sehingga tindakan paling tepat adalah melakukan upaya pencegahan," ungkap Prof Sukchan Lee yang dalam kunjungan tersebut didampingi Kasubdit Aneka Cabai Ditjen Hortikultura, Mardhiyah Hayati dan Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, TPH setempat. 

Pakar entomologi dari Badan Litbang Pertanian Dr. Rini Murtiningsih juga turut hadir pada acara pertemuan yg diikuti oleh puluhan petani cabe dan penyuluh dari 12 kecamatan sentra cabe di Cianjur.

Menurut Prof Sukchan, virus kuning di Indonesia cukup sulit dikendalikan. Namun demikian, pencegahan dan pengendalian penyakit kuning bisa dilakukan dengan penggunaan benih yang sehat dan tidak berasal dari pohon induk yang pernah terserang penyakit ini, sanitasi lahan perlu dilakukan dengan membersihkan gulma sekitar tanaman, penggunaan tanaman pembatas seperti jagung membantu mencegah masuknya serangga vektor ke areal lahan cabai, penggunaan perangkap kuning disekitar tanaman dapat mengurangi serangan vektor pembawa virus kuning yaitu kutu kebul, mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang virus kuning agar tidak menular ke tanaman lain yang masih sehat, masih menjadi pilihan yang direkomendasikan.

Dirinya juga tidak menampik peluang penggunaan pestisida sesuai anjuran untuk mengendalikan vektor penular virus.

Namun, tetap disarankan untuk tidak terus menerus dengan jenis bahan aktif yg sama supaya vektor tidak kebal.
  
Prof Sukchan dan Dr. Kyuongyeoll, berencana melakukan penelitian lanjut terhadap fenomena virus kuning cabai di Indonesia.

"Targetnya, kami ingin menemukan formulasi terbaik menangani serangan virus kuning ini. Kami telah meminta izin pihak otoritas Indonesia untuk mengambil sampel dan menelitinya lebih lanjut di instalasi laboratorium yang kami miliki," jelas Sukchan yang disambut oleh peneliti dari Balai Penelitan Sayuran Lembang, Jawa Barat.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID